Rabu, 30 April 2014

Bermain gamelan prau ayar dan ojo di preloki


Nama                   : Media Adila
Kelas / No   : XII IPA 1 / 20

Pagelaran Smaga “Culture Project”.

            Pada tanggal 21 Desember 2013, sekolah saya akan mengadakan Pagelaran sebagai nilai ujian praktek mata pelajaran Seni Musik. Dan tentunya, pesertanya adalah seluruh kelas 12. Pagelaran tersebut mengusung tema “Culture Project” atau yang biasa kita sebut akulturasi. Akulturasi adalah perpaduan dua budaya yang berbeda yang saling mempengaruhi.
            Kelas saya, kelas XII Ipa 1, memilih tema akulturasi antara tarian jawa dengan tarian hip hop. Sebelumnya kami bingung mau memilih akulturasi budaya apa. Pertama, kami memilih dengan cara voting dan melihat – lihat internet. Sebelumnya kami tertarik dengan tarian Kalimantan karena sepertinya masih langka yang menampilkan tarian tersebut. Tetapi, karena kami tidak menemukan pelatih yang bisa melatih kami tarian Kalimantan, akhirnya kami memilih tarian Jawa. Padahal sebelumnya kami sudah menemukan pelatih yang bisa melatih kami tarian Kalimantan, tetapi pelatih tersebut satu paket dengan pelatih tarian Hip hop. Jadi, pelatih kami melatih tarian kalimantan, sedangkan partnernya melatih tarian Hip hop. Tetapi, kami kurang yakin dengan tarian Hip hopnya, karena musik dan gerakannya seperti “agak vulgar”, cenderung ke tarian modern yang menurut kami sudah jauh dari kata hip hop. Kami pun bilang ke pelatih tersebut bahwa tarian Hip hopnya tidak seperti yang kami inginkan. Akhirnya, mungkin pelatih tersebut merasa tersinggung, mereka mengundurkan diri sebagai pelatih kami dengan alasan mau melatih anak – anak yang akan mengikuti lomba. Kami pun kecewa dengan itu.
            Kami akhirnya mencari pelatih lagi. Untungnya, setelah beberapa hari kami pun menemukan pelatih. Karena pelatihnya tidak bisa melatih tarian Kalimantan, akhirnya kami akan menampilkan tarian Jawa. Sedangkan untuk tarian Hip hop, kami pun menemukan pelatih yang sesuai dengan keinginan kita. Untuk musik, kami akan menampilkan musik gamelan. Dan beruntung, kami langsung menemukan pelatih yang tepat.
            Kami pun membagi kelompok siapa yang mengikuti tarian Jawa, Hip hop, ataupun Gamelan. Dan setelah terbentuk, akhirnya kami pun mulai latihan pada bulan September. Awalnya kami berlatih dengan kelompok masing – masing sampai matang dan lancar, baru pada bulan november mulai latihan gabungan atau kolaborasi.
            Setiap pulang sekolah, masing – masing kelompok tersebut berlatih sampai sore. Untuk tarian jawa dan hip hop, mereka latihan di sekolah. Sedangkan untuk gamelan, mereka latihan di SMP dan SMA Masehi, di daerah Podosugih. Dan untuk kolaborasinya, kami semua berlatih di SMP dan SMA Masehi.
            Saya masuk ke dalam kelompok musik yaitu musik Gamelan. Pengalaman saya mengikuti pagelaran pun dimulai dari memainkan alat musik Gamelan. Pada hari pertama mengikuti latihan pagelaran, saya dan teman – teman menuju ke SMA Masehi sesudah pulang sekolah. Setelah pelatih kami datang, kami pun memasuki ruangan khusus alat musik Gamelan. Teman – teman saya langsung menduduki tempat sekaligus dengan alat musik gamelan yang bernama balungan. Balungan adalah alat – alat Gamelan yang terdiri dari Saron, Demung, dan Slentem. Saya pun bingung karena saya tidak kebagian tempat untuk alat balungan, padahal saya ingin bermain alat musik Balungan karena saya hanya tahu alat – alat musik tersebut. Ternyata Gamelan terdiri dari macam – macam alat. Saya pun akhirnya kebagian tempat yang paling depan, alatnya itu panjang dan banyak. Ternyata alat tersebut bernama bonang. Bonang sendiri ada dua macam, yaitu Bonang dan Bonang Penerus. Akhirnya, setelah mendapatkan tempatnya masing- masing, kami pun memulai latihan.
            Karena hari itu adalah latihan pertama kami menggunakan alat Gamelan, akhirnya  pelatih menyuruh kami untuk latihan pemanasan dahulu untuk mengenal masing – masing alat yang kami mainkan. Pelatih pun mengajari kami satu persatu bagaimana cara memainkan alat musik Gamelan yang kami mainkan. Ternyata alat musik yang saya mainkan, yaitu Bonang, merupakan alat musik yang paling susah dimainkan, karena harus menyela atau lebih dahulu dari alat musik Gamelan lainnya.
            Selama latihan tersebut, kami diberi not angka untuk dimainkan. Dan saya termasuk anak yang paling kesusahan dalam mengikuti pengenalan atau pemanasan tersebut karena saya memegang Bonang, yang menurut saya paling susah. Pertama memainkan, saya masih bisa mengikuti, tetapi lama kelamaan, Gamelan pun berjalan cepat dan saya mulai kesusahan karena harus memainkan lebih dahulu daripada Gamelan lainnya. Selama kurang lebih satu setengah jam, saya memainkan Bonang dengan panduan pelatih. Dan setelah dirasa saya kurang mampu memainkan Bonang, akhirnya saya inisiatif untuk tukar alat musik dengan teman saya yang memainkan alat musik Gamelan bernama Kenong. Saya pun mencoba memainkan kenong, dan alhamdulillah saya bisa mengikuti dengan gamelan yang lainnya.Setelah dua jam, kami pun pulang. Sampai dirumah, tangan saya terasa sakit karena belum terbiasa bermain Gamelan. Mungkin karena bermain Bonang yang menggunakan tangan dua dan masing – masing alatnya berjarak agak jauh.
            Pertemuan berikutnya, saya dan teman – teman mulai latihan Gamelan lagi. Saya langsung memposisikan diri ke alat musik Kenong. Sebenarnya saya disuruh untuk bermain Bonang karena teman saya yang bermain Bonang belum datang, tetapi saya tidak mau karena saya tahu bahwa Bonang itu susah baik Bonang maupun Bonang Penerus. Setelah semuanya datang, kami pun memulai latihan.
            Awalnya, kami ingin mengiringi lagu dari tarian jawa yang bernama tarian Nansu, tetapi karena kata pelatih kami lagunya terlalu susah untuk diiringi dengan gamelan, akhirnya kami dari kelompok Gamelan akan menampilkan lagu sendiri. Pertama, kami mulai berlatih lagu Gambang Suling. Saya agak kesusahan dengan alat musik kenong karena Kenong memiliki irama sendiri dan harus mengiringi Bonang. Ternyata alat musik Kenong juga susah. Tetapi saya harus bisa memainkan alat tersebut karena saya sudah menyukai alat musik Kenong.
            Setelah berlatih selama beberapa hari dan dirasa kami sudah bisa memainkan lagu Gambang Suling, kami pun mulai berlatih lagu yang kedua yaitu Perahu Layar. Perahu Layar sendiri menurut saya lebih mudah daripada lagu Gambang Suling, karena not – not angkanya lebih mudah dan banyak yang sama. Setelah kami lancar memainkan lagu Perahu Layar, kami pun mulai diberi lagu ketiga yaitu lagu Ojo Dipleroki. Sebenarnya lagu tersebut lebih mudah not – not angkanya, tetapi saya kurang bisa memainkan lagu tersebut. Saya harus melihat teks untuk bisa memainkannya, mungkin karena belum terbiasa dengan lagu Ojo Dipleroki, jadi kurang bisa saat memainkannya.
            Pada saat kami latihan, saya selalu berada di posisi depan bersama Bonang. Karena memang begitu posisi Gamelan di SMA Masehi. Kata teman – teman yang melihat saya bermain Kenong, kalau saya sedang bermain Kenong itu lucu dan aneh, karena saya seperti menari dengan menangguk – anggukkan kepala saat memainkan Kenong. Saya memang harus begitu jika memainkan Kenong, supaya benar dan seirama dengan Gamelan lainnya.
            Saya mempunyai pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan untuk gamelan. Pada bulan Oktober 2013, kami pemain gamelan akan tampil untuk pertama kalinya di depan masyarakat umum. Kami akan tampil di Pendopo Pekalongan dalam acara wayang. Gamelan akan tampil terlebih dahulu sebelum wayang dimulai.
            Pada malam sebelum kami akan tampil, kami gladi bersih untuk mencoba alat – alat musik Gamelan yang ada di Jalan Belimbing, Pekalongan. Karena pada saat kami tampil, kami akan menggunakan gamelan tesebut. Kami berkumpul di sekolah habis isya, dan menuju ke tempat bersama – sama. Ternyata kami disana hanya bermain satu kali karena gamelannya akan digunakan untuk latihan para pemain Gamelan yang mengiringi wayang. Mereka semua sudah ahli dan senior, kami merasa malu karena dilihat oleh para senior Gamelan. Setelah itu, kami pulang. Tetapi karena cuaca sedang hujan, akhirnya kami menunggu disana sambil melihat para senior bermain Gamelan.
            Besoknya, kami mulai latihan di sekolah Masehi. Tetapi, setelah ashar, kami disuruh gladi bersih di Pendopo agar tidak grogi. Kami pun menuju kesana bersama – sama. Setelah bermain selama dua kali, kami akhirnya pulang untuk beristirahat sebentar dan mempersiapkan untuk nanti malam. Setelah habis maghrib, saya dan teman saya berangkat ke Sekolah karena sesuai perjanjian akan bertemu di sekolah kira – kira habis Maghrib. Setelah kira – kira jam delapan, kami pun mulai menuju ke Pendopo. Disana ternyata masih sepi. Kami pun menunggu sampai jam setengah sembilan, dan meskipun belum terlalu banyak para undangan datang, acara pun dimulai. pertama kali tampil terlebih dahulu adalah pemain Gamelan dari ibu – ibu. Meskipun sudah tua, tetapi mereka bisa semangat dan mampu untuk bermain Gamelan dengan lancar dan bagus. Akhirnya, setelah para ibu – ibu itu tampil, giliran dari kami yang akan tampil. Kami mewakili nama SMA  N 3 Pekalongan, untuk itu kami memakai seragam batik biru khas smaga.
            Saat kami tampil, kami menampilkan tiga lagu tersebut seperti saat latihan. Pada saat pembukaan untuk bermain Gamelan atau yang disebut Gangsaran, Gendang kurang mantap menabuh, sehingga kami merasa bingung dan kurang lancar di saat pembukaan. Untungnya, setelah itu kami semua lancar dan bagus dalam bermain lagu – lagu Gamelan. Kami cukup puas dalam menampilkan Gamelan, meskipun kurang lancar pada saat Gangsaran. Saya merasa puas, senang, sekaligus bangga bisa menampilkan Gamelan di acara tersebut karena kami bisa menunjukkan bahwa remaja seperti anak SMA pun mau dan bisa bermain Gamelan. Saya merasa sangat senang bisa melestarikan budaya Indonesia dengan bermain Gamelan.
Setelah itu, kami pun mulai latihan seperti biasa. Kami mulai latihan lagu Jogja Under cover sebagai lagu kolaborasi pagelaran kelas kami. Dan untuk lagu – lagu yang biasa untuk kami latihan, sudah semakin lancar. Semenjak kami tampil di Pendopo, Saya pun semakin lancar tanpa menarikan kepala untuk mengikuti irama Gamelan.
Pada bulan November hingga Desember, kami pun mulai berlatih bersama untuk keseluruhannya serta untuk kolaborasinya. Kami semua berlatih di Sekolah Masehi. Hari – hari yang kami lalui bersama terasa sangat menyenangkan walaupun drama ataupun perbedaan pendapat kadang terjadi. Kami pun meminta bantuan dari Dewan Kesenian di Gor untuk membuat propertinya. Kami membuat properti di Gor, dan latihan di sekolah Masehi.
Selama dua bulan tersebut, waktu yang tersisa kami isi dengan membuat properti dan berlatih bersama. Dan tak terasa, tanggal 21 desember 2013 pun semakin dekat. Kami mulai berlatih serius tanpa libur, dan sering hujan – hujanan saat kami latihan. Sangat mengasyikan pada saat kami berlatih sambil hujan – hujanan di lapangan Sekolah Masehi. Untungnya tidak ada yang sakit setelah berhujan – hujanan. Kami merasa bahwa di Sekolah Masehi itu tempat khusus kami, karena hampir tiap hari kami disana untuk berlatih bersama.
Pada tanggal 20 Desember 2013, kami semua latihan untuk terakhir kalinya. Tetapi yang di sekolah Masehi hanya Gamelan, lainnya latihan di Gor. Saya merasa sedih harus berpisah dengan Gamelan, terutama alat yang saya mainkan yaitu Kenong. Dan tentunya saya pasti akan merindukan latihan bersama – sama di sekolah Masehi. Setelah jam setengah tiga sore, kami pun menuju ke sekolah untuk gladi bersih. Saya dan teman – teman pulang sampai setengah tujuh malam karena latihan dengan alat Gamelannya dulu agar dapat menyesuaikan dengan Gamelan yang telah disediakan oleh panitia.
Pada tanggal 21 Desember 2013, pagelaran pun diadakan bersamaan dengan peerimaan raport. Kami merasa grogi dan takut sebelumya. Tetapi, untungnya ketika XII Ipa 1 tampil, semua berjalan dengan lancar, meskipun ada kesalahan dari operator. Kami merasa puas dan bangga karena perjuangan kami selama ini akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan.
Setelah mengikuti pagelaran ini, saya merasa bangga dan senang karena ternyata saya bisa tampil di depan orang banyak dengan bermain Gamelan. Dan semenjak itu, saya sangat menyukai Gamelan dan saya memilikipengalaman yang tak terlupakan di SMAN 3 Pekalongan ini yaitu mengikuti pagelaran seni dengan orang – orang yang hebat.
Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog