Senin, 21 Desember 2009

BAHAN AJAR SEMESTER 1 KELAS 7


Mata Pelajaran          :           Seni Musik
Kelas/Semester           :           7 / 1
Standar kompetensi  :           Mengapresiasi karya Seni Musik
Kompetensi dasar      :           1. Mengidentifikasi jenis lagu daerah setempat.
2. Menampilkan sikap apresiatif terhadap lagu
    daerah setempat
Indikator                    :           1.1       Mengidentifikasi  beragam jenis lagu                                                                      daerah setempat.
1.2       Menyebutkan contoh lagu daerah
2.1       Mengungkapkan rasa/kesan secara lisan   dan tertulis tentang lagu daerah setempat.

A. PENGERTIAN LAGU DAERAH
            Lagu daerah adalah jenis lagu yang ide penciptaannya berdasarkan atas budaya dan adat istiadat dari suatu daerah tertentu. Di dalam lagu tersebut terkandung suatu makna, pesan untuk masyarakat serta suasana/keadaan masyarakat setempat, dan bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah setempat.

B. MENGENAL BEBERAPA LAGU DAERAH
            Di berbagai penjuru Nusantara dapat ditemukan lagu-lagu daerah yang masing-masing berdasarkan budaya dan adat istiadat daerah setempat, sehingga memperkaya khasanah budaya Nusantara khususnya dalam bidang seni musik.
            Lagu-lagu daerah yang terdapat di Nusantara antara lain sebagai berikut :
1.         Lagu daerah asal Jawa
a. Betawi                    : Kicir-kicir, Jali-jali, Ondel-ondel, Wak-wak gung,    
              Lenggang kangkung, Surilang, dll.
b. Jawa Barat                        : Pepeling, Bubuy bulan, Manuk dadali, Cing                          cangkeling, Es lilin, dll.






            c. Jawa Tengah dan                                                                                                      D.I.Yogyakarta     : Lir-ilir, Cublak cublak suweng, Gambang                                                                    semarang, Praon, Suwe ora jamu, Gundul-gundul                                                             pacul, Gambang suling, dll.

2.         Lagu daerah asal Sumatera
            a. Nangroe Aceh Darussalam : Bungong Jeumpa, dll.
            b. Sumatera Utara       : Butet, Tading Maham, Rambadia, Tudung Periuk,
  Sigulempong, Alusi Au, Nasonang Do Hitana Dua,
  dll.
            c. Sumatera Barat        : Tudung Saji, Laruik Sanjo, Kambanglah Bungo,
  Mak Inang, dll.
            d. Riau                                    : Timang-Timang, dll.
            e. Sumatera Selatan     : Gending Sriwijaya
3.         Lagu daerah asal Sulawesi
            a. Sulawesi Selatan     : Anging Mamiri
            b. Sulawesi Utara        : Miara Si Luri, O Ina Ni Keke

4.         Lagu daerah  asal Kalimantan
            a. Kalimantan Selatan : Ampar-Ampar Pisang
            b. Kalimantan Barat    : Cik-Cik Periuk
            c. Kalimantan Tengah : Tumpi Wayu
            d. Dayak Krayan         : Yamu Ame Tonge

5.         Lagu daerah asal Bali dan Nusa Tenggara
            a. Bali                          : Janger, Macepet-cepetan, Cening Putri ayu
            b. Timor                       : Potong Bebek Angsa
            c. Flores                       : Lerang wutung, Mat Kleyor Tora Rebo.
6.         Lagu daerah asal Maluku dan Papua
            a. Maluku                    : O Yepo, Sarinande, Kole-kole, Lembe-lembe,
  Hura-hura cincin, Buka Pintu, Sayang Dilale, Hela
  Rotane.
            b. Papua                      : Apuse, Yamko Rambe Yamko
C. APRESIASI LAGU DAERAH
1.         Tudung Periuk

Lagu daerah    :           Sumatera Utara
Bahasa             :           Bahasa daerah Sumatera Utara ( Deli )
Suasana            :          Banyak orang pergi ke Deli untuk bekerja di perkebunan,     nasib para pekerja tersebut seringkali kurang beruntung, upah yang mereka terima tidak sepadan dengan keringat      yang mengucur. Ibu-ibu menangis dirumah memikirkan    periuknya yang selalu tidak ada isinya. Sementara itu,            seperti dimanapun anak-anak selalu bergembira, periuk         yang kosong digunakan untuk menutup kepalanya dan     menarilah si anak tersebut dengan gembiranya tanpa            memperdulikan ibunya yang sedang menangis. Dengan        pelan si Ibu mengambil kain yang buruk untuk mengusap           air matanya.
Birama             :           Tanda Birama yang dipergunakan adalah 4/4
Nada dasar      :           Nada dasar lagu Tudung Periuk adalah Do = C
2.         Kicir-Kicir

Lagu daerah    :           Betawi
Bahasa             :           Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Suasana           :           Dalam kehidupan manusia, ada kalanya manusia-manusia
sebagai penonton, ada pula manusia yang membiarkannya untuk ditonton. Sehabis menonton biasanya berkomentar, baik secara bisik-bisik atau diteriakkan. “ Saya heran jaman sekarang kok begini kok begitu “. Perubahan dalam jaman menimbulkan komentar-komentar dan kebingungan. Para lelaki heran gadis jaman sekarang kok aneh, para perempuan tidak kalah herannya. Pendek kata simpang siurlah keheranan orang di dalam kemajuan jaman ini. Semua boleh dikomentarai sepuas hati tentang rambut gondrong, atau gadis-gadis kecil yang sok besar. Namun sebaiknya berkomentar sambil makan peuyem Bandung, kicir-kicir atau mangga gadung.
Melodi
dan aransmen  :           Terdiri dari dua bagian. Pada bgagian pertama (A) berisi
sampiran dan pada bagian kedua (B) memuat isi.
Birama             :           Birama yang digunakan adalah 4/4
Nada dasar      :           Nada dasar lagu Kicir-Kicir adalah Do =G
3.         Cublak-Cublak Suweng


Lagu daerah    :           Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur
Bahasa             :           Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa
Suasana           :           Pada malam hari di kampung dan di desa-desa di Jawa
banyak permainan-permainan anak yang populer seperti : Gobag Sodor, Jamuran, Soyang, dan masih banyak lagi lainnya. Cublak-Cublak Suweng merupakan salah satu jenis permainan yang digemari oleh anak-anak. Jumlah anak yang bermain sebanyak 7 anak. Cara bermainnya adalah satu anak tengkurap/telungkup dan anak yang lainnya menidurkan tangannya diatas punggung anak yang tengkurap tersebut. Sebuah suweng ( Subang ) dilepas dan ditekankan pada telapak –telapak tangan tersebut. Si anak yang tengkurab tersebut harus menebak siapa yang membawa suweng (subang) tersebut. Apabila tertebak maka anak yang membawa suweng tersebut gantian tengkurab untuk menebak siapa yang membawa subag.
Demikian terus permainan anak tersebut dilakukan hingga malam semakin larut.
Birama             :           Birama yang digunakan adalah 4/4
Nada dasar      :           Nada dasar lagu Cublak-cublak suweng adalah Do = D
4.         O Ina Ni Keke

Lagu daerah    :           Minahasa
Bahasa             :           Bahasa yang digunakan adalah bahasa Minahasa
Suasana           :           Dialog antara seorang Ibu dengan anaknya : “ Duhai, Ibu
tersayang, kemanakah Ibu pergi, Ke Manado nak. Buat sekedar beli oleh-oleh. Berikan kepadaku sedikit Bu, Ala…sudah tiada lagi baru kau minta “.
Perempuan tua kadang kala berlaku genit juga, dengan menenteng tas belanja berbaju encim warna putih yang tak kalah rapinya dengan para penari lenso. Walaupun telah keriput tampak segaris senyum yang mencerminkan kegembiraan Minahasa makmur karena cengkih dan kopranya. Petani-petani kaya dengan mobilnya yang wah menjamin masa tua yang tak sepahit di Gunung kidul tatkala musim kering tiba.
Birama             :           Birama lagu O Ina Ni Keke adalah 4/4
Nada dasar      :           Nada dasar lagu O Ina Ni Keke adalah Do = C
5.         Hura Hura Cincin

Lagu daerah    :           Ambon ( Maluku )
Bahasa             :           Bahasa yang digunakan adalah bahasa Ambon
Suasana           :           Cincin sebagai tanda pengikat cinta.
Cincin yang sulit masuk ke jari dapat diterjemahkan sebagai pertanda cinta tidak selancar yang diduga di ekor mata. Jembatan seringkali jadi tempat pertemuan jajaro dan ngongare. Sebelum menceburkan diri kedalah rumah tangga, berlempar-lemparan batu di jembatan, sungguh asyik. Dari batu ke cinta, dari cinta ke cincin, dan dari cincin menuju mahligai rumah tangga hidup bersama.
Birama             :           Birama yang digunakan adalah 4/4
Nada dasar      :           Nada dasar lagu Hura-Hura Cincin adalah Do = E



















BAHAN AJAR
Mata Pelajaran          :           Seni Musik
Kelas/Semester           :           7 / 1
Standar kompetensi  :           Mengekspresikan diri melalui karya seni musik
Kompetensi dasar      :           1. Mengaransir secara sederhana karya lagu  
    daerah setempat.
2. Menampilkan hasil aransmen karya lagu
    daerah setempat
Indikator                    :           1.1       Menjelaskan pengertian aransmen
1.2       Mengaransir secara sederhana lagu daerah setempat
2.1       Menjelaskan teori dasar musik
2.2       Membaca musik/karya musik daerah setempat
2.3       Mengidentifikasi unsur-unsur musik : irama, nada, tangga nada, harmoni, tanda tempo, tanda dinamik dan timbre lagu daerah
2.4       Menampilkan hasil aransemen lagu daerah
A. ARANSEMEN
1. Pengertian Aransemen
            Aransemen berasal dari bahasa Belanda Arrangement, yang artinya penyesuaian komposisi musik dengan nomor suara penyanyi atau instrumen musik yang di dasarkan atas sebuah komposisi yang telah ada sehingga esensi musiknya tidak berubah. Orang yang melakukan aransmen lagu dikenal dengan sebutan Aranger atau peng aransmen.
2. Macam-macam Aransmen
a. Aransmen Vokal
            Setiap lagu dapat disusun aransmen khusus vokal, yaitu dalam dua suara, tiga suara, empat suara. Untuk menyusun aransmen vokal, yang paling mudah adalah menyusun atransmen lagu dalam dua suara, karena untuk menyusun aransmen lagu dalam tiga dan empat suara ada banyak persyaratan yang harus diperhatikan.
            Untuk memperoleh hasil yang lebih baik dan memuaskan, setelah selesai disusun aransmen lagunya kemusian dicoba untuk dinyanyikan secara bersama-sama, apabila dirasa kurang baik/memuaskan maka dapat dicoba lagi untuk menyusun aransmen lagu tersebut hingga pada akhirnya diperoleh hasil yang sangat memuaskan.
            Perhatikan beberapa contoh lagu yang telah di aransmen berikut ini :


b. Aransmen Instrumen
            Dalam menyusun arransmen instrumen sangat berbeda dengan aransmen vokal. Untuk menyusun aransmen instrumen kita harus menyesuaikan dengan alat-alat musik yang dipergunakan. Semakin lengkap alat musik yang kita pergunakan, semakin banyak pula kemungkinan variasi yang dapat diciptakan.
Untuk menyusun aransmen instrumen, kita harus berpedoman pada pengetahuan ilmu harmoni dan akord.
            Bagian-bagian dari suatu aransmen musik dikenal dengan istilah Partituur ( Belanda ), Partitura ( Italia ), Part ( Inggris ), Parte ( Perancis ). Dan dalam aransmen instrumen, kebanyakan partitur dimainkan bergantian tugas, sedangkan dalam aransmen vokal pada umumnya semua partitur umumnya berbunyi bersamaan.
c. Aransmen campuran
            Yang dimaksud aransmen campuran adalah campuran aransmen vocal dan instrumen. Teknik yang dilakukan adalah menggabungkan dua jenis arransmen yang telah ada.
            Dalam aransmen campuran pada umumnya yang ditonjolkan adalah vokalnya, sedanglan instrumennya berfungsi untuk pengiring dan memeriahkan, sehingga pertunjukan yang disajikan bertambah sempurna. Untuk mengendalikan keseimbangan dalam menampilkan aransmen yang telah disusun diperlukan adanya seorang pemimpin yaitu seorang dirigen atau conductor.
B. TEORI DASAR MUSIK
1. Nada
            Nada adalah bunyi yang teratur, artinya memiliki bilangan getar (frekwensi) tertentu dalam tiap detik. Sifat nada adalah tidak dapat dilihat, akan tetapi hanya dapat didengar (audio). Berikut adalah istilah-istilah dalam nada :
  1. Tinggi rendah nada atau pitch
  2. Panjang nada atau durasi
  3. Kuat nada
  4. Warna nada
2. Notasi
            Notasi adalah sistem penulisan simbol dalam mewujudkan suatu lagu. Ada dua jenis notasi, yaitu :
a.                  Notasi angka
Notasi angka adalah sistem penulisan lagu yang menggunakan simbol angka.
1          2          3          4          5          6          7
do        re         mi        fa         sol        la         si
Notasi angka ditemukan oleh seorang ahli musik berkebangsaan Perancis yang bernama Guido D Arezzo (990 – 1050).
b.                  Notasi balok
Notasi balok adalah simbol untuk menyatakan tinggi rendahnya suara dalam bentuk gambar.
Untuk lebih jelasnya perhatikan simbol nada berikut ini :

Secara lengkap bentuk dan nilai notasi balok dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Penulisan notasi balok diletakkan pada tempat yang disebut sangkar nada,
yaitu lima garis sejajar yang sama jaraknya. Jarak antara garis yang satu
dengan yang lainnya disebut spasi dengan hitungan spasi dari bawah yaitu
spasi ke satu, dua, tiga, dan ke empat.

Berikut ini merupakan ketentuan penulisan not balok pada garis paranada :
1)      Bagian kepala not miring ke kanan atas

2)      Arah tiang tegak lurus dengan panjang dua setengah spasi

3)      Notasi yang berada di garis ke tiga, arah tiang boleh ke atas atau ke bawah. Untuk not yang berada di atas garis ke tiga arah tiang ke bawah, not yang berada di bawah garis ke tiga arah tiang ke atas.

4)      Arah bendera not selalu ke kanan dengan panjang kurang lebih satu spasi

5)      Beberapa nada yang berada dalam satu rangkaian ketukan, benderanya dapat disatukan

6)      Jika garis paranada tidak cukup dapat ditambah dengan garis bantu atas maupun garis bantu bawah. Panjang garis bantu cukup untuk menuliskan satu not saja.

c.                   Titik dibelakang not balok
Titik dibelakang not balok berfungsi untuk memperpanjang bunyi nada, sedangkan titik dibelakang tanda diam berfungsi untuk memperpanjang waktu diam. Nilai dari titik itu adalah ½ (setengah) dari nada/tanda diam didepannya.
Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar tabel berikut ini :

3. Tanda diam
Tanda diam adalah simbol yang menyatakan berapa lama dalam berhenti. Berikut ini adalah macam-macam bentuk simbol tanda diam beserta nilainya :

4. Tanda kunci
            Tanda kunci berfungsi untuk menunjukkan letak titinada pada garis paranada. Ada tiga macam tanda kunci, yaitu :
a.         Kunci G ( Treble clef/kunci treble )
Tanda kunci G adalah tanda yang menunjukkan dimana letak nada G pada garis paranada. Letak nada G pada garis paranada adalah pada garis ke dua.

b.         Kunci C
Ada lima bentuk kunci C yang masing-masing menunjukkan dimana nada do berada. Ke lima kunci C tersebut adalah sebagai berikut :
Kunci C Sopran :

Kunci C Mezzosopran :

Kunci C Alto :

Kunci C Tenor :

Kunci C Bariton :
           
            catatan            : Dalam penulisan musik modern, kunci C sudah jarang dipakai.
c.         Kunci F ( Bass clef/kunci bass )

5. Tanda Kromatik
            Tanda kromatik adalah tanda yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan nada ½ tingkat lebih tinggi atau lebih rendah. Macam-macam bentuk serta fungsi dari tanda kromatik adalah sebagai berikut :
a.         Nada yang mendapat tanda kres, simbol nadanya ditambah is, dan apabila mendapat tanda dobel kres ditambah is is.
b.         Nada yang mendapat tanda mol, simbol nadanya ditambah es,dan apabila mendapat tanda dobel mol, simbol nadanya ditambah es es.
c.         Nada yang mendapat tanda pugar, simbol nadanya kembali ke nada semula/nada asli.
d.         Apabila nada yang mendapat tanda mol nada A dan E, simbol nadanya cukup ditambah s saja.
e.         Tanda-tanda kromatik pada not balok ditulis tepat di depan kepala titi nada.
6. Interval
            Yang dimaksud dengan Interval adalah jarak antara nada yang satu dengan
yang lainnya. Macam-macam interval adalah sebagai berikut :

Untuk menghitung Interval nada, dimulai dari nada pertamanya :
Contoh :

C. UNSUR-UNSUR MUSIK
            Unsur-unsur yang ada dalam musik adalah sebagai berikut :
1.         Melodi, yaitu rangkaian sejumlah nada atau bunyi berdasarkan perbedaan tinggi rendah atau naik turunnya.
2.         Irama atau Rytme, yaitu gerak teratur karena munculnya aksen secara tetap.
3.         Birama, yaitu bagian pendek-pendek dari suatu lagu yang telah mempunyai irama lengkap. Bagian-bagian dari birama antara lain :
            a.         Garis birama : ada dua macam garis birama, yaitu :
                        Garis birama tunggal : berfungsi untuk membatasi jumlah ketukan.  Garis birama ganda  : berfungsi untuk memulai dan menutup lagu.

b.         Tanda birama :
tanda birama berbentuk angka pecahan ( 2/4, ¾, 4/4, 6/8), pembilang menunjukkan banyaknya ketukan dalam satu birama, sedangkan penyebut menunjukkan not yang nilainya satu ketukan.
Contoh : Tanda birama 4/4, artinya :
Dalam satu birama ada 4 ketukan, dan not ¼ () nilainya     satu ketukan.

4.         Harmoni, yaitu keselarasan paduan bunyi.
5,         Tangga nada, yaitu deretan nada yang disusun secara berjenjang. Tangga nada dibagi menjadi dua macam, sebagai berikut :
a.         Tangga nada Diatonis, yaitu tangga nada yang menggunakan tujuh buah nada dengan dua macam jarak yaitu ½ dan 1.
b.         Tangga nada pentatonis, yaitu tangga nada yang menggunakan lima buah nada dengan jarak menurut aturan-aturan tertentu. Berdasarkan nadanya, tangga nada pentatonis dibagi menjadi dua yaitu pelog dan slendro.
6.         Tempo. Yaitu cepat lambatnya suatu lagu dinyanyikan. Ada tiga jenis tanda tempo, sebagai berikut :
a.         Tempo lambat             : Largo (lambat), adagio ( lambat
  penuh perasaan), grave (khidmat).
b.         Tempo sedang             : Andante (sedang, secepat orang berjalan),
              Moderato(sedang),
            c.         Tempo cepat                : Allegro (cepat), Mars (secepat orang
  berbaris)
7.         Dinamik, yaitu keras lembut lagu dan perubahannya. Tanda dinamik dibagi menjadi tiga macam :
            a.         Lembut            : Piano (p = lembut), Pianissimo (pp = sangat
  lembut).
b.         Sedang                        : Mezzo piano (mp = sangat lembut), Mezzo forte
  (mf = setengah keras).
            c.         Kuat                : Forte (f = kuat), Fortissimo (ff = sangat kuat)
8.         Timbre atau warna suara
           


















BAHAN AJAR SEMESTER II
MUSIK DAERAH
Mata Pelajaran          :           Seni Musik
Kelas/Semester           :           7 / 2
Standar kompetensi  :           Mengapresiasi karya seni musik
Kompetensi dasar      :           1. Mengidentifikasi ragam musik daerah
    setempat 
                                                2. Menunjukkan sikap apresiatif terhadap  
                                                    keunikan seni musik daerah setempat
Indikator                    :           1.1       Mengidentifikasi beragam musik daerah
1.2       Menjelaskan fungsi musik daerah sesuai dengan kehidupan masyarakat.
2.1       Menyebutkan contoh musik daerah
2.2       Menjelaskan keunikan musik daerah

A.        PENGERTIAN DAN CIRI-CIRI MUSIK DAERAH
            Jenis musik dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu musik daerah (tradisional) dan musik modern (non tradisional). Nusantara memiliki musik daerah yang banyak dan beragam serta masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.
1.         Pengertian musik daerah
            Musik daerah adalah jenis musik dimana inspirasi penciptaannya berdasarkan atas budaya dan adat istiadat dari suatu daerah tertentu. Selain sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan da kebiasaan yang terjadi di daerah tersebut, musik daerah juga digunakan untuk kegiatan upacara-upacara tradisional oleh masyarakat setempat.
            Musik daerah juga disebut musik tradisional. Pada masa lalu musik daerah sangat berkembang di negara kita, namun karena kemajuan dan kemajuan musik populer modern yang sangat pesat dewasa ini, musik daerah agak sulit kita jumpai. Kebanyakan musik daerah yang masih kita dengar saat ini adalah lagu daerah yang telah lama diciptakan dan penciptanya tidak diketahui lagi.
2.         Ciri-ciri musik daerah
            Musik daerah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.                   Mengandung suatu makna
b.                  Memuat pesan untuk masyarakat suatu daerah
c.                   Tema nya menggambarkan suasana kehidupan masyarakat sehari-hari.
d.                  Irama dan melodinya bersifat sederhana.
e.                   Tangga nada yang digunakan adalah tangga nada pentatonik, diatonik, pelog, dan slendro. Selain tangga nada diatonik, tangga nada-tangga nada tersebut hanya dapat digunakan pada lagu-lagu tertentu.
f.                   Menyebar secara alami dan disampaikan secara lisan turun temurun.
B.        MENGENAL BEBERAPA MUSIK DAERAH
1.         Musik lesung
            Musik lesung merupakan musik tradisional yang berkembang di daerah jawa, khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Peralatan yang dipergunakan dalam musik ini adalah lesung dan antan. Musik lesung sering juga disebut dengan istilah kotekan. Pada awalnya musik ini dimainkan untuk menghilangkan rasa kejenuhan dan kepenatan setelah menumbuk padi, namun pada perkembangannya dimainkan juga untuk hiburan dikala bulan purnama.
            Musik lesung dimainkan oleh beberapa orang/kelompok dengan ketukan irama yang berbeda antara pemain satu dengan yang lainnya, sehingga pola irama yang muncul adalah saling bersahut-sahutan sebagai satu kesatuan pola irama yang indah. Musik lesung kini sudah jarang dimainkan karena tergusur oleh irama musik modern.
2.         Musik Gamelan
            Musik gamelan termasuk jenis musik tradisional yang berasal dari daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Gamelan juga terdapat di Jawa Barat, Bali, dan Lombok. Alat musik gamelan terdiri atas : Saron, Rebab, Bonang, Kendang, Gender, Gong, Gambang, Kempul, Kenong. Dalam memainkannya Gamelan menggunakan tangga nada pelog maupun slendro. Notasi musik gamelan yang menggunakan tangga nada slendro memiliki 6 titi nada, yaitu : 1–2–3–5–6–i, sedangkan tangga nada pelog memiliki 7 titi nada, yaitu : 1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7.
            Gamelan dari daerah jawa tengah dan DI Yogyakarta, memiliki alat musik yang lebih lengkapdibandingkan dengan gamelan dari daerah lain. Berdasarkan cara penyajiannya setiap daerah memiliki ciri yang berbeda-beda.
a.         Gamelan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta antara vokal dengan instrumen disajikan secara seimbang.
b.         Gamelan Bali lebih mengutamakan instrumen.
c.         Gamlan Sunda lebih mengutamakan vokal.
3.         Musik Keroncong
            Keroncong adalah jenis orkes yang terdiri dari atas Biola, Seruling/flute,
okulele, banjo, celolo dan Kontra bass. Keroncong Tugu merupakan musik tradisional (khas) masyarakat Jakarta asli (Betawi). Dalam perkembangannya musik keroncong juga menjadi musik khas Indonesia yang terkenal di luar negeri, misalnya Keroncong bengawan solo yang diciptakan oleh Gesang.
            Musik keroncong dalam penyajiannya dilengkapi dengan penyanyi. Selain itu dalam membawakan lagu-lagu yang dinyanyikan, seorang penyanyi harus menggunakan gaya yang khas yang disebut cengkok keroncong. Dewasa ini muncul lagu keroncong yang lebih bebas dalam membawakannya, misalnya langgam keroncong dan pop keroncong
.
(Salah satu kelompok musik keroncong)
4.         Musik Tanjidor
            Tanjidor merupakan salah satu musik daerah yang berasal dari Betawi. Tanjidor adalah sekelompok pemusik yang memainkan alat-alat musik logam yang tak bernada. Alat musik Tanjidor biasanya terdiri atas Tambur besar, dan Terompet. Selain di Jakarta, Tanjidor juga dapat ditemukan di daerah Tangerang, Banten, dan Cirebon. Musik Tanjidor biasanya digunakan pada acara perayaan desa atau pesta rakyat.
5.         Musik Gambang Kromong
            Musik Gambang Kromong merupakan perpaduan antara gamelan dengan musik barat yang menggunakan tangga nada pentatonis (Tionghoa). Alat musik yang dipergunakan dalam musik Gambang kromong adalah Gambang, Rebab, dan Biola yang digunakan sebagai melodinya. Kebanyakan lagu-lagunya berisikan sindiran-sindiran dengan pantun yang indah dibawakan secara berpasangan. Gaya khas pembawaan lagu dalam musik tersebut adalah bersifat humoris, gembira dan fleksibel. Salah satu yang sangat terkenal dan populer diiringi musik Gambang kromong adalah lagu Jali-Jali.
6.         Musik Angklung
            Musik angklung adalah jenis musik tradisional yang berasal dari daerah Jawa Barat. Alat musik ini semuanya terbuat dari bambu. Musik jenis ini lebih banyak digunakan sebagai musik instrumental, hal ini dikarenakan sistem nada yang dimilikinya sangat terbatas untuk mengiringi nyanyian.
            Dalam sejarahnya, musik angklung telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat Sunda Jawa Barat sejak abad XVI sebagai alat tabuh tradisional yang digunakan untuk ronda, memeriahkan pesta, dakwah agama atau kegiatan lain yang ada dalam masyarakat tersebut.
            Pada tahun 1928 oleh seorang ahli musik dari Bandung yang bernama Daeng Sutigna, tangga nada yang digunakan dalam musik angklung dirubah dari tangga nada pentatonis menjadi tangga nada diatonis.
            Penampilan konser musik angklung pertama kali pada tahun 1947 oleh Pramuka di kota Linggarjati. Musik angklung dinyatakan sebagai musik pendidikan khususnya seni musik pada tanggal 23 Agustus 1968.
7.         Orkes melayu Jambi
            Orkes melayu Jambi adalah jenis orkes kecil tradisional yang berasal dari daerah Melayu Jambi. Alat musik yang dipakai pada musik daerah ini adalah : Tetawak (Gong), Gendang, Gambus, dan Biola Eropa. Lagu-lagu yang dibawakan biasany adimainkan dalam laras minor harmonis ala Arabia.
8.         Musik Kolintang
            Musik kolintang adalah jenis musik tradisional yang menggunakan alat musik perkusi, yang terdiri atas bilah-bilah kayu yang disusun/dipasang berderet diatas bak kayu dan dimainkan dengan cara dipukul. Musik Kolintang berasal dari daerah Minahasa – Sulawesi Utara.
            Tangga nada yang digunakan pada musik kolintang adalah tangga nada diatonis, sehingga dapat membawakan berbagai jebis lagu, baik jenis lagu mayor maupun minor, lagu pop, lagu daerah atau lagu lainnya. Musik Kolintang dapat disajikan dalam bentuk musik instrumental maupun dilengkapi oleh penyanyi. Grup kolintang yang sangat terkenal antara lain : Grup Kadodan, Mawenang, Gloria.
            Selain musik daerah yang dijelaskan diatas, masih banyak lagi musik daerah lain, misalnya musik Talempong dari Sumatera Utara, musik Degung dari Jawa Barat, musik Talindo dari Sulawesi Selatan, dan musik Dol dari daerah Bengkulu.

C.        FUNGSI MUSIK DAERAH
            Fungsi musik daerah antara lain :
1.         Pengungkapan ekspresi kehidupan masyarakat daerah tertentu.
2.         Menggambarkan suasana atau keadaan daerah setempat, misalnya musik daerah Jawa Tengah banyak menggambarkan kehidupan masyarakat sebagai petani, musik daerah Maluku banyak menggambarkan kehidupan nelayan.
3.         Sebagai sarana hiburan bagi masyarakat daerah setempat.
4.         Sebagai pengiring pada upacara-upacara khusus suatu daerah (upacara adat), misalnya musik gamelan gending kebo giro dipergunakan untuk mengiringi Upacara temu panggih antara pengantin pria dengan pengantin wanita dalam budaya pengantin Jawa.
5.         Untuk kegiatan-kegiatan upacara-upacara ritual keagamaan masyarakat setempat, misalnya musik gamelan dipergunakan untuk mengiringi prosesi upacara Sekatenan di Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta, musik Gamelan yang dipergunakan untuk prosesi upacara keagamaan di Pura-Pura bagi masyarakat Hindu Bali.
























Mata Pelajaran          :           Seni Musik
Kelas/Semester           :           7 / 2
Standar kompetensi  :           Mengekspresikan diri melalui karya seni musik
Kompetensi dasar      :           1. Mengaransir secara sederhana lagu daerah
    Setempat.
                                                2. Menyajikan karya seni musik daerah setempat
                                                    secara perseorangan dan berkelompok di
                                                    kelas.
Indikator                    :           1.1       Menjelaskan pengertian aransir
1.2       Mengaransir secara sederhana lagu daerah setempat
2.1       Membuat perencanaan pergelaran
2.2       Melaksanakan pergelaran

A.        PENGERTIAN ARANSEMEN
Aransemen berasal dari bahasa Belanda Arrangement, yang artinya penyesuaian komposisi musik dengan nomor suara penyanyi atau instrumen musik yang di dasarkan atas sebuah komposisi yang telah ada sehingga esensi musiknya tidak berubah. Orang yang melakukan aransmen lagu dikenal dengan sebutan Aranger atau pengaransmen. Modal dasar yang harus dimiliki oleh seorang arranger adalah menguasai pengetahuan tentang harmoni.
Ada tiga jenis aransemen sebagai berikut :
1.         Aransmen Vokal
            Setiap lagu dapat disusun aransmen khusus vokal, yaitu dalam dua suara, tiga suara, empat suara. Untuk menyusun aransmen vokal, yang paling mudah adalah menyusun atransmen lagu dalam dua suara, karena untuk menyusun aransmen lagu dalam tiga dan empat suara ada banyak persyaratan yang harus diperhatikan.
            Untuk memperoleh hasil yang lebih baik dan memuaskan, setelah selesai disusun aransmen lagunya kemusian dicoba untuk dinyanyikan secara bersama-sama, apabila dirasa kurang baik/memuaskan maka dapat dicoba lagi untuk menyusun aransmen lagu tersebut hingga pada akhirnya diperoleh hasil yang sangat memuaskan.
2.         Aransmen Instrumen
            Dalam menyusun arransmen instrumen sangat berbeda dengan aransmen vokal. Untuk menyusun aransmen instrumen kita harus menyesuaikan dengan alat-alat musik yang dipergunakan. Semakin lengkap alat musik yang kita pergunakan, semakin banyak pula kemungkinan variasi yang dapat diciptakan. Untuk menyusun aransmen instrumen, kita harus berpedoman pada pengetahuan ilmu harmoni dan akord.
            Bagian-bagian dari suatu aransmen musik dikenal dengan istilah Partituur ( Belanda ), Partitura ( Italia ), Part ( Inggris ), Parte ( Perancis ). Dan dalam aransmen instrumen, kebanyakan partitur dimainkan bergantian tugas, sedangkan dalam aransmen vokal pada umumnya semua partitur umumnya berbunyi bersamaan.
3.         Aransmen campuran
            Yang dimaksud aransmen campuran adalah campuran aransmen vocal dan instrumen. Teknik yang dilakukan adalah menggabungkan dua jenis arransmen yang telah ada.
            Dalam aransmen campuran pada umumnya yang ditonjolkan adalah vokalnya, sedanglan instrumennya berfungsi untuk pengiring dan memeriahkan, sehingga pertunjukan yang disajikan bertambah sempurna. Untuk mengendalikan keseimbangan dalam menampilkan aransmen yang telah disusun diperlukan adanya seorang pemimpin yaitu seorang dirigen atau conductor.

B.        PERGELARAN
1.         Pengertian dan tujuan pergelaran
            a.         Pengertian pergelaran
Istilah lain dari pergelaran adalah pertunjukan, yaitu suatu kegiatan yang mempertunjukkan sesuatu (hasil karya) kepada masyarakat umum untuk mendapatkan tanggapan atau penilaian. Dengan demikian, pengertian pergelaran musik adalah kegiatan mempertunjukkan karya seni musik kepada orang lain (masyarakat umum) untuk mendapatkan tanggapan dan penilaian.
            b.         Tujuan Pergelaran
Berdasarkan subyek pengisi dan penonton kegiatan, ada dua tujuan yang terkandung didalam kegiatan pergelaran tersebut, antara lain :
1. Tujuan makro, yaitu sebagai hiburan bagi masyarakat umum  
    atau khalayak ramai.
2. Tujuan mikro, yaitu sebagai sarana evaluasi terhadap kegiatan 
    pembelajaran seni musik (kesenian) di sekolah.
            Selain memiliki tujuan-tujuan diatas, pergelaran seni musik juga memiliki beberapa fungsi, antara lain media pengembangan bakat, media komunikasi, media ekspresi diri, dan media apresiasi.
2.         Perencanaan Pergelaran.
            Langkah pertama yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan pergelaran adalah membuat perencanaan. Hal tersebut penting, karena perencanaan yang telah disusun dapat dijadikan pedoman yang dapat mengarahkan kepada pelaksana (panitia) agar dapat bekerja sesuai dengan rel yang ditentukan.
            Adapun fungsi perencanaan dalam kegiatan pergelaran seni musik yaitu :
a.         Sebagai langkah awal yang dilakukan panitia
b.         Sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan.
c.         Sebagai kendali dalam menciptakan suasana kerja yang efektif dan efisien.
d.         Sebagai tolok ukur dalam mengevaluasi kegiatan.
            Hal-hal yang harus dibahas dalam menyusun rencana pergelaran antara lain :
a.         Menyusun Panitia Pergelaran
            Organisasi yaitu sekumpulan orang yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam organisasi bagian yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan, apabila salah satu bagian tidak dapat berfungsi maka akan berpengaruh pada bagian yang lain
Dalam kegiatan pergelaran seni musik, organisasi kepanitiaan memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan kegiatan yaitu terlaksananyapergelaran seni musik sesuai dengan yang direncanakan. Pengelolaannya harus berprinsip sebagaimana organisasi secara umum, yaitu :
1.                  Perintah harus berasal dari satu komando
2.                  Pembagian tugas sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
3.                  Adanya pengawasan/controling dari tem pengawas yang dibentuk
Selain itu, personil yang duduk dalam kepanitiaan juga harus memenuhi syarat dan kriteria yang ada. Adapun beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh para personal yang duduk dalam kepanitiaan antara lain :
1.                  Menguasai bidang tugasnya
2.                  Sanggup bekerja sama
3.                  Sanggup bekerja keras
4.                  Siap untuk memimpin dan dipimpin
5.                  Disiplin dan kreatif
6.                  Berdedikasi dan loyalitas yang tinggi
7.                  Sanggup menjaga rahasia
Berikut ini adalah contoh susunan panitia pergelaran seni musik daerah :
SUSUNAN PANITIA PERGELARAN MUSIK DAERAH
KELAS VII SMP N 8 PEKALONGAN
TAHUN PELAJARAN 2006 - 2007
___________________________________
            A.        Penanggung jawab                  :           Kepala Sekolah
            B.        Pembimbing                            :           Guru Seni Musik
            C.        Ketua I                                                :           Rifa’i               Kelas : VII A
                        Ketua  II                                 :           Maria Ulfa       Kelas : VII F
            D.        Sekretaris I                              :           Uswatun          Kelas : VII B
                        Sekretaris II                            :           Sherly W         Kelas : VII C
            E.         Bendahara I                            :           Suci Hapsari    Kelas : VII A
                        Bendahara II                           :           Surtini             Kelas : VII D
            F.         Seksi-seksi
                        1.         Seksi Acara                 :           Prahastowo     Kelas : VII E
                        2.         Seksi humas                :           Nurwahidin     Kelas : VII C
                        3.         Seksi tempat dan dekorasi:     Agung K.        Kelas : VII B
                        4.         Seksi Perlengkapan     :           Abidin             Kelas : VII F
            Catatan :         Jumlah seksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan
b.         Menentukan Tema Pergelaran
            Suatu kegiatan yang dilaksanakan, sudah barang tentu mempunyai maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Demikian juga dengan kegiatan pergelaran musik. Maksud dan tujuan tersebut diungkapkan dalam sebuah tema, dan tema yang disampaikan harus sesuai dengan misinya.
            Sebagai contoh, apabila tema yang dikemukakan tentang bahaya narkoba, maka karya seni yang akan ditampilkan dalam pergelaran harus berisi seputar hal-hal yang berkaitan dengan narkoba, jika tema yang dikemukakan tentang pelestarian budaya daerah, karya seni yang ditampilkanpun berisi seputar budaya daerah. Perhatikan contoh dibawah ini :
“ DENGAN PENTAS MUSIK LAGU-LAGU DAERAH 2007
KITA TINGKATKAN PERSATUAN DAN KESATUAN WARGA SEKOLAH “

            Selain contoh diatas, masih banyak lagi contoh-contoh tema yang dapat digunakan. Perlu diketahui ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun kalimat yang akan dicantumkan dalam tema, yaitu kalimat yang digunakan harus baik dan benar, gunakan kalimat yang singkat, padat, mudah dipahami, dan sesuai dengan misi pergelaran.
c.         Menentukan jenis musik yang dipergelarkan
            Untuk menentukan jenis musik yang ditampilkan, tidak bisa lepas dari tema yang telah ditetapkan. Misalnya tema yang ditetapkan adalah meningkatkan kreativitas siswa dalam musik, maka musik yang cocok adalah jenis pop atau rock, atau vocal group. Untuk tema peringatan sumpah pemuda/hari pahlawan, maka jenis lagu yang sesuai adalah berbagai macam lagu daerah atau perjuangan.
d.         Menentukan Sumber Dana
            Dana yang dipergunakan untuk pergelaran tersebut harus jelas, baik jumlah atau sumber dana tersebut. Apakah dana tersebut diperoleh dari sekolah, atau iuran siswa, atau dicari melalui sponsor. Perlu diingat bahwa segala kegiatan pasti memerlukan dana, oleh karena itu dalam menetapkan anggaran harus melihat besar kecilnya kegiatan tersebut.
e.         Menentukan Waktu dan Tempat Pergelaran
            Waktu pelaksanaan pergelaran harus disesuaikan dengan kelender pendidikan suatu sekolah, diusahakan agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Pelaksanaan pergelaran dapat dibarengkan dengan suatu kegiatan sekolah misalnya peringatan-peringatan hari besar nasional atau keagamaan.
            Sedangkan tempat pergelaran dapat dilaksanakan di dalam maupun diluar ruangan, hal tersebut disesuaikan dengan keadaan sekolah. Apabila sekolah telah memiliki aula, maka pergelaran tersebut dapat dilakukan didalam aula tersebut, atau jika pergelaran tersebut dilakukan secara sederhana, dapat dilakukan didalam kelas masing-masing, namun apabila sekolah tidak memiliki aula dan tidak memungkinkan dilaksanakan didalam kelas, maka pergelaran dapat dilakukan di halaman sekolah.
3.         Jenis Karya Musik yang Dipergelarkan
            Dalam kegiatan pergelaran seni musik, dapat ditampilkan berbagai jenis musik, baik jenis musik tradisionil maupun non tradisionil.
a.         Musik Tradisional
Yang dimaksud musik tradisional adalah jenis musik yang lahir dari budaya suatu daerah. Berikut merupakan contoh-contoh musik daerah :
1.                  Gamelan Degung ( Sunda )
2.                  Gambang Kromong ( Betawi )
3.                  Gamelan Sunda ( Jawa Barat )
4.                  Gamelan Jawa ( Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur )
5.                  Gamelan Bali ( Bali )
6.                  Gamelan Sasak ( Lombok )
7.                  Tarling ( Musik Khas Cirebon )
8.                  Kolintang ( Minahasa-Sulawesi Utara )
9.                  Angklung ( Sunda-Jawa Barat )
10.              Musik Keroncong
b.         Musik Non Tradisional (Modern)
            Musik non tradisional disebut juga dengan musik modern, yaitu jenis musik yang digarap secara modern baik dari segi elemen musikal, peralatan musik yang dipergunakan, fungsi maupun bentuk penyajiannya.
            Pergelaran musik dapat disajikan dalam bentuk seperti Paduan Suara/Koor, Ansamble musik gitar, ansamble musik tiup, ansamble musik perkusi, organ tunggal. Agar suasana tidak monoton dan penonton tidak merasa bosan, maka dapat ditampilkan berbagai lagu yang dibawakan secara berselang-seling. Berikut adalah contoh-contoh lagu yang dapat ditampilkan pada pergelaran musik :














 (Salah satu bentuk pergelaran di kelas)
4.         Pelaksanaan Pergelaran
            a.         Penataan Ruang Pergelaran
Pengertian ruang pergelaran adalah ruangan atau tempat dimana kegiatan pergelaran tersebut dilaksanakan. Ruang pergelaran meliputi panggung untuk kegiatan pentas, ruangan untuk penonton/pengunjung, ruang ganti pakaian/rias, ruang transit, ruang konsumsi dan ruang panitia.
Panggung merupakan sarana pergelaran yang paling penting, oleh karena itu perlu diadakan setting panggung atau penataan panggung. Setting panggung untuk masing-masing pergelaran tidak sama, tergantung dari materi yang akan dipentaskan. Setting panggung untuk paduan suara berbeda dengan setting untuk ansamble musik atau yang lainnya.
Ada beberapa bentuk panggung yang bisa digunakan untuk pergelaran, diantaranya adalah : bentuk procenium, bentuk tapal kuda, bentuk arena.
Panggung memerlukan perhatian khusus, dikarenakan sebelum acara dimulai perhatian seluruh pengunjung/penonton terfokus/terpusat di panggung.
Apabila pergelaran musik dilakukan di aula sekolah yang sudah memiliki panggung, maka perlu di dekorasi/dihias sehingga panggung tampak asri dan menarik. Alat/perlengkapan yang mendukung dekorasi haruslah dapat mencerminkan tema pergelaran.
Dalam mempersiapkan pergelaran hendaknya memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan penataan ruang pergelaran, yaitu tentang dekorasi, pencahayaan/lighting, sound system, dan penampilan tema.
1.Dekorasi
Dekorasi harus disesuaikan dengan tema dan tempat kegiatan pergelaran. Dengan dekorasi yang baik dan sesuai dengan tema yang ada, maka suasana akan tampak lebih terkesan dan dapat membawa pada situasi yang menggembirakan. Jenis dan ukuran tulisan, gambar dan hiasan, serta background nya harus disesuaikan dengan tema dan tempat pergelaran.
2.Pencahayaan (Lighting)
Pencahayaan merupakan faktor pendukung yang sangat penting untuk keberhasilan dalam pelaksanaan pergelaran seni musik, terlebih lagi apabila pelaksanaan pergelaran musik tersebut dilaksanakan pada malam hari. Dengan tata lampu (lighting) yang baik, maka pergelaran musik tersebut akan tampak lebih semarak dan hidup.
3.Sound System (Tata Suara)
Sound system merupakan faktor pendukung yang tidak kalah pentingnya dalam sebuah pergelaran, dengan tata suara yang baik dan memadai pergelaran tersebut akan nyanman untuk dinikmati.
4.Penampilan Tema
Penampilan tema pergelaran harus dapat terbaca dengan jelas, dan tidak mengganggu pelaksanaan pergelaran. Bentuk dan besarnya tulisan serta warna yang digunakan harus disesuaikan dengan dekorasinya.
Selain penataan ruang pergelaran, ada kegiatan lain yang tidak kalah penting, yaitu mempersiapkan kelengkapan pergelaran. Kelenfgkapan-kelengkapan yang harus ada pada kegiatan pergelaran musik antara lain :
                                    a. Peralatan musik
                                    b. Partitur musik
                                    c. Trap untuk penyanyi
                                    d. Sound system
                                    e. Kostum pemain
            b.         Pelaksanaan Acara
Pelaksanaan pergelaran seni musik tingkat kelas dapat dibuka oleh wali kelas masing-masing. Namun sebelum acara dimulai terlebih dahulu harus dibuat rancangan susunan acara yang akan disuguhkan kepada penonton.
Hal-hal yang perlu di masukkan dalam rancangan acara yaitu :
1.                  Waktu/durasi/lamanya acara
2.                  Pola acara
3.                  Variasi acara, dan
4.                  Puncak acara
c.         Evaluasi
Setelah kegiatan pergelaran selesai dilaksanakan, biasanya diadakan evaluasi terhadap kegiatan tersebut. Evalusi dapat berupa evaluasi proses maupun evaluasi hasil.
Pada evaluasi proses, guru kesenian sebagai pembimbing memberikan catatan-catatan kecil yang ditujukan kepada setiap anggota panitia, yang meliputi cara kerja panitia, kekompakan kerja panitia, kedisiplinan dan kerjasama masing-masing personil panitia. Sedangkan evaluasi hasil merupakan evaluasi terhadap hasil yang diperoleh secara keseluruhan dari kegiatan pergelaran tersebut.
Evaluasi dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui berbagai hambatan yang dihadapi oleh setiap seksi, cara mengatasi persoalan-persoalan yang ada, serta mengetahui keadaan keuangan pada kegiatan yang dilaksanakan. Hasil evaluasi tersebut dapat dipergunakan sebagai pedoman untuk pelaksanaan kegiatan serupa pada masa yang akan datang.
Selain memiliki tujuan di atas, evaluasi juga memiliki manfaat sebagai berikut :
1.                  Memberikan umpan balik bagi panitia maupun pihak lain
2.                  Sebagai tolok ukur atas keberhasilan suatu kegiatan.
Pelaksanaan evaluasi sebaiknya tidak terlalu lama dari pelaksanaan pergelaran, bahkan lebih cepat lebih baik. Namun demikian hendaknya panitia diberi waktu yang cukup untuk mempersiapkan laporan tentang hal-hal telah dilaksanakan, yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
1.                  Sistem kerja
2.                  Pembiayaan
3.                  Personalia kepanitiaan
4.                  Bentuk pameran dan pergelaran
5.                  Pelaksanaan pameran dan pergelaran
6.                  Laporan dari masing-masing seksi.
           

Loading...
Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog

Daftar Blog Saya