Sabtu, 23 Mei 2009

PEKAN BATIK KE 2 BUKA MATA KAUM REMAJA




PBI Membuka Mata Kaum Remaja.

Bagaikan Magnet, SMAGA pun Ikut Berkunjung.

Pekalongan – Sabtu 2 May 2009, kami anak – anak SMAGA alias SMA Negeri 3, khususnya anak XI IPA 1. Dengan perasaan senang berbondong – bondong menuju ke sebuah pameran.

Awalnya kami baru asyik berbasah – basahan ke Tirto Sari, kolam renang langganan school kami. Selesai pengambilan nilai praktek renang, kami langsung tancap gas ke SMAGA. Rasa senang yang ada di hati semakin menjadi – jadi saat Pasha ( Pak Saiful ), guru Seni Budaya kami menugaskan kami anak – anak ‘ Sepasi’ untuk mengunjungi PBI dan Pameran Buku untuk bahan karya tulis. Memang sih agaknya malas harus bikin laporan sgala, tapi kalo dilihat endingnya yang asyik ‘n bisa enjoy – enjoy di PBI alias Pameran Batik Internasional. Rasanya perlu dipertimbangkan. Disana kita bisa melepas penat sejenak tanpa adanya mapel yang menjenuhkan.

PBI (Pameran Batik Internasional) mampu membuka mata setiap kalangan, khususnya kaum remaja. Bagaikan magnet, SMAGA pun ikut berkunjung untuk mencari berbagai wawasan dan hiburan disana. PBI bertempat di Gedung Olahraga (GOR) Pekalongan yang terletak di Jl. Jetayu . Pameran Batik yang bergengsi tahun ini diadain dari tanggal 29 April hingga 3 May 2009. Tapi kalo Pameran Bukunya sih berakhir sampai hari Senin, tanggal 4 May 2009. Sayangnya kami datang terlalu awal, sebenarnya sih nggak pagi – pagi amat . . kira – kira jam 9an kita tiba disana. Nampak di depan mata halaman GOR yang biasanya sepi, kosong, kini penuh dengan stand – stand yang berjejer rapih dengan menyuguhkan berbagai macam barang ataupun makanan cemilan sampai masakan khas. Semuanya tersedia disana, jika lapar . . tinggal pilih deh stand mana yang mau kita singgahi. Sementara pameran di bagian dalam GOR belum dibuka, pameran batik yang kami lihat di halaman GOR memang tak sebegitu banyak, tapi stand – stand batik ini juga nggak kalah bagus dan unique dengan yang ada di dalam.

Talking – talking soal batik, kita pasti tau donk batik itu ciri khas banget kota Pekalongan. Ngomong soal kain yang satu ini pasti yang terlintas di pikiran kita hanyalah baju batik, celana batik, mulai dari yang resmi sampe yang dipakai anak kecil buat tidur.

Tapi jangan salah, orang jaman sekarang tuh kreatip – kreatip loh . . . dengan keahlian mereka, mereka sulap kain batik dengan berbagai motif itu menjadi sandal, sepatu, sampai kaos kaki pun nggak ketinggalan pula.

Kami yang beranggotakan enam cewek manis dengan seragam batik coklat mulai beraksi memasuki beberapa stand. Kami mulai dari stand batik, tanpa ragu kami memasuki stand batik ini yang ternyata bernama ISMI. Disini kami mewawancarai narasumbernya H. Fachurozi Ra’uf , beliau tak lain adalah pemilik batik ISMI. Menurut beliau batik – batik di stand ini mengalami proses pembuatan yang berbeda, mulai dari yang berbahan serat kayu (berwarna coklat) , batik ini dibuat dengan kualitas cap dan tulis ‘n sablon malam. Bahan pembuatan yang lain yaitu jenis Piskos (berwarna violet – orange) dan Dobi (berwarna biru – violet ) yang semuanya asli dari Pekalongan. Bahan yang paling sukar adalah ATBM , yang merupakan batik sutra. Proses pembuatannya lumayan lama yaitu kurang lebih 3 – 4 bulan. Nama pembuatan batik ini disebut proses Pemovatori. Karena proses pembuatan yang sukar dan membutuhkan waktu lama, maka harganya pun sangat mahal. Harga satu selendang plus kain jariknya sampai mencapai Rp.1.750.000.

Woww !! gila kan ??? batik yang kita anggap biasa aja dan ndak ngetrand buat kaum muda, ternyata jauh lebih wahh . . dan bikin orang tercengang. Jangan mandang remeh batik loh . .

Selain batik cap dan sablon ada juga batik tenun yang semuanya ada di dalam stand Asosiasi Pengrajin Pekalongan (AKRAP) yang salah satu pengrajinnya bernama Pak Zulkarnaen, beliau narasumber kedua kami .

Batik – batik di AKRAP ini mempunyai cirri khas yang berbeda dengan batik ISMI. Batik di AKRAP cenderung menggunakan warna alam, sampai – sampai dekorasi tempat ini pun di tata sesuai dengan alam, terlihat pada langit – langit dan dinding kain stand itu terhiasi klaras daun pisang yang dibuat seindah mungkin. Bener – bener desain yang kreatif dan beda.

Disini juga nggak hanya memamerkan kain – kain batik aja loh, terlihat juga alat dan bahan pembuatannya di sebuah meja kayu yang tertutup kain – kain batik. Ada lima wadah disana yaitu berisi daun yang sudah dimasak berwarna biru yang dinamai daun indigo, canting, batang tingi/kulit yang berwarna coklat, biji jelawe/kulit yang berwarna hijau, dan terakhir batang simplikos berwarna merah marun.

Nggak hanya stand batik loh yang kami kunjungi, kami juga singgah ke stand batu antic. Disini narasumbernya juga baik dan ramah, beliau bernama Yusuf yang beralamat di poncol No. 13 Gang 8. Kata beliau, batu – batu antic disini tidak semuanya koleksi pak Yusuf, tapi kumpulan dari para penggemar batu antic yang kemudian mereka namai ‘Nalla Nack & Bakery’.

Jenis – jenis batunya pun beraneka ragam, dimulai dari yang paling mahal yaitu batu jamrud yang berwarna ijo, menurut pak Yusuf sih harganya mencapai jutaan rupiah. Kemudian ada batu safir, akik, dan pirus. Batu pirus ini adalah batu yang sering dipakai bapak – bapak sebagai cincin untuk memperindah jemari tangan mereka. Asal – usul batu – batu ini ada yang dari Garut Suka Bumi, Jawa Barat. Kebanyakan dari batu ini di beli dari para pekerja pencari batu yang kemudian mereka ubah menjadi barang yang bernilai seni ini. Nggak hanya cincin antic buat kaum adam, ternyata juga ada loh buat para Ibu yang gemar pakai perhiasan, kalung magnet ! kalung dengan berbagai macam warna yang konon katanya selain untuk menambah daya tarik, kalung magnet ini juga bisa ngilangin penyakit. He, , , percaya nggak percaya ya . . .
Kalo bicara soal batu, emang ndak ada habisnya.

Tepat di halaman depan GOR kami melintasi stand tanaman bonsai. Disini bonsai dibiarkan terkena terik matahari, tanpa ada stand tertutup dengan tenda kain yang menutupinya gituh . . kami melihat bonsai yang sangat bagus, pastinya butuh perawatan ekstra buat ngerawatnya. Penggemar bonsai ini tergabung dalam perkumpulan pengrajin bonsai Indonesia. Kami anak – anak SMAGA nggak cuma muter – muter di halaman depan GOR ajah, kami juga melihat – lihat stand sampai halaman belakang GOR. Di pojok sana kita dapat melihat aneka macam keris yang semuanya tergabung dalam Paguyuban Pelestari Tosan Aji Kendalirangah, disini semua keris mempunyai bentuk dan cirri khas yang berbeda – beda .

Mungkin itu karena fungsi mereka masing – masing yang berbeda – beda pula. Harganya juga sangat heboh. Di stand beraura mistik ini juga tampak sebuah patung yang cukup besar, agak unique, dengan semacam ekor seperti burung merak yang berwarna – warni di belakangnya. Patung itu diletakkan diatas meja stand. Ternyata jalan – jalan ke pameran batik nggak ngebosenin loh, mulai dari ujung depan sampai ke ujung belakang, semuanya okeh deh !!

Cukup have fun di PBI, tidaklah membuat perjalanan kami usai. Satu jam kami mencari pengetahuan asyik, seru di PBI, kini selanjutnya kami menjajaki pameran buku yang ada di Gedung Karisidenan.

Waahh, disini juga nggak kalah seru loh. Buku – bukunya sangat lengkap. Dari kamusnya, buku berisi berat untuk bahan belajar, novel, buku – buku islami, kiat – kiat, bahkan cerita bergambar pun nampang disini. Terbukti kan kalau pameran buku ini nggak hanya disajikan buat orang dewasa aja, tapi anak –anak yang baru bisa membacapun fine – fine ajah beli buku khusus untuk mereka disini .

Di stand ini nggak perlu kwatir soal penerbit – penerbitnya, terjamin kok soal siapa penerbitnya. Salah satunya Gramedia. Sering dengarkan nama itu . . . pastinya donk, siapa yang nggak tau Gramedia, penerbit buku terkenal yang nggak diragukan. Sebagian besar karya – karya buku kondang, umumnya diterbitkan Gramedia. Tapi penerbit lainnya juga nggak kalah kok, semuanya nggak diragukan seperti Erlangga, Agromedia dan masih banyak lagi. Stand – stand buku disini juga tertata rapih dengan rak – rak nya yang penuh koleksi buku. Keadaan yang rapih dan enak dilihat inilah yang membuat pengunjung nggak bosan untuk beranjak dari pameran buku ini.

Novel – novel hebat dan terkenal juga tersedia lengkap disini, harga memang lumayan mahal. Sebagian sampai berkisar Rp. 60.000 untuk satu novelnya. Tapi itu udah termasuk diskon, jadi imbanglah dengan apa yang akan kita dapet dari membaca novel itu.

Pada akhirnya perjalanan ke PBI dan Pameran Buku harus usai juga, kami anak – anak “SEPASI” harus cepat kembali ke school untuk mapel selanjutnya. Kalo nggak . . bisa dapet point deh. Batik dan budaya kita emang harus slalu dilestarikan . ..

Aku bangga Batik Pekalongan !!

Kelompok : XI IPA 1

Anggota :

o Khikmatul Maula

o Dessy Tri Nugraheni

o Khusnul Khotimah

o Nisa’ul Kamila

o Nur Afu Istatik

Saputri Legiani
Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog