Kamis, 17 April 2014

Pagelaran Seni Bikin Capek ?


Di Bawah Hujan Kami Menari by Aurora XII.IPA.1


Ini cerita tentang kita. Identitas kelas kita. Mau itu membawa ceria atau malah sebaliknya. Kurang lebih tiga bulan kita menyulamnya. Semoga selalu dapat dikenang hingga masa renta.
Sebuah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada diantara benua Asia dan Australia serta antara samudra Pasifik dan samudra Hindia. Negara kepulauan terbesar di dunia. Beranekaragam pula yang ada di dalamnya. Mulai dari suku, bangsa, bahasa, sampai kebudayaan yang tak akan habis massanya walau mulai terkikis oleh garangnya arus modernisasi. Indonesia tetaplah bhineka tunggal ika.
Sebelum aku mengukir kisah ini dalam corak pena, atas nama kelas XII IPA 1 mengucapkan terima kasih teruntuk Guru Seni tercinta Bapak Saiful Falah. Terima kasih telah memberi umpan sehingga kami dapat memancing bakat rahasia dan menuainya pada hari H.


 
Hari senin, jam pelajaran ke 3-4 guru seni berdiskusi tentang pertunjukan tahunan yang diadakan oleh kelas 12 Smaga. Pagelaran seni namanya. Pagelaran ini diadakan untuk mengisi nilai ujian praktek. Tidak bisa disepelekan, harus serius mau menampilkan apa ? macam kesenian yang bagaimana ? blablabla. Waktu itu kami masih gamblang, tanpa ide. Berulang-ulang video kakak kelas diputar saat pelajaran. Tak satupun yang memberikan sebuah inspirasi. Belum lagi dari pihak guru seni sendiri lepas kendali, sudah melepaskan tanggung jawab untuk kami sekelas. Beliau hanya akan mensuport, menyediakan kontak pelatih yang bisa dihubungi, menanyakan perkembangan latian lalu melihat hasil di hari H dan menilai kami.
Dari awal sudah terbayang betapa ribetnya kelas 12 ini. Kadang aku mengeluh, kenapa harus pas kelas 12 ? kelas 12 sudah terlalu terbebani dengan Ujian Nasional, belum lagi persiapan semester 5 untuk bekal seleksi SNMPTN. Belum lagi setelah UTS foto buku tahunan. Belum lagi ulangan harian atau tugas yang lainnya. Waktu untuk belajar dan waktu untuk beristirahat terkadang jadwalnya tidak sinkron. Susah seimbang. Belum lagi jadwal les. Itu sudah membuatku puyeng. Bisakah waktu di skip sampai namaku terpampang di salah satu data mahasiswi sebuah universitas negeri ? Pikirku waktu itu.
Kami mulai berdiskusi. Mau menampilkan apa ? kebetulan tahun ini temanya beda dari tahun sebelumnya. Dari panitia mengangkat tema akulturasi dua kebudayaan yang berbeda, satu dari dalam dan satunya lagi mancanegara. Mulai dari pemilihan koordinator kelas. Voting satu kelas dengan menunjuk dua kandidat yaitu Bima dan Sandra. “Setuju ???” “Ya..” satu kelas kompak menjawab seperti itu. Kemudian pengurus yang lainnya, aku terpilih menjadi bendahara. Bima dan sandra, mereka pembicaran dalam diskusi ini. Kami akan membahas tema. Pikirku buntu, begitu juga yang lain waktu itu pikiranku terpecaah ke dalam agenda foto buku tahunan kelas. Kebetulan aku menjadi panitian buku tahunan juga. Aku masih mencari tema foto untuk kelas yang simple, tidak membutuhkan biaya banyak, satu kelas sepakat. Belum lagi aku dipasrahi uang tabungan untuk dana pagelarang yang setiap harinya harus menagih anak-anak setor Rp 2000,- / hari. Awal mulai menabung aku giat untuk menagih tiap-tiap komponen kelas Ipa 1. Masalah dana pagelaran mengalir lancar. Bagaimana dengan tema ? belum ketemu.
Dirumah aku sembari mencari-cari informasi tentang pagelaran yang berkaitan dengan akulturasi budaya. Search google, mencari video di youtube. Belum juga ada gambaran. Hari berikutnya, kami sering mencuri waktu pada saat jam kosong untuk membahas konsep pagelaran. Yang menjadi patokan kita harus menentukan terlebih dahulu budaya negara mana yang ingin kita angkat, kita padukan dengan budaya Indonesia. Ada yang usul Negara Afrika, Amerika, Mexsico, Jepang, Spanyol, Australia, Belanda dll. Yang Indonesia pada usul Papua, Kalimantan, Jawa barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dll. Sandra mengusulkan idenya. Intinya akulturasi negara Indonesia dengan negara Barat, dalam hal yang mengarah pada globalisasi, bagaimana dengan cara bangsa Indonesia memfilter udaya-budaya asing dari luar. Hingga akhirnya akan terbentuk akulturasi. Kurang lebih seperti itu penjelasannya. Seperti biasa satu kelas voting. Seperti biasa juga semuanya idem dengan usul Sandra. Maklum kelasku ini orang-orangnya pasif. Kami memutuskan untuk membuat kolaborasi antara tarian jawa dengan tarian modern. Tarian modern disini mengacu pada kebudayaan hiphop dari Amerika. Ide ini terinspirasi dari film Step Up Revolution. Konsep belum begitu matang, kami dengan ringan pikiran mengkhayal dengan bebas. Kami mulai mencari pelatih. Mulai dari pelatih gamelan, pelatih tari jawa, pelatih hiphop semuanya sendiri-sendiri. Oh ya ketinggalan, pagelaran kami juga ada seni drama jadi kami membetuk crew tersendiri untuk menjadi lakon sandiwara.
Setiap hari minggu kami adakan pertemuan rutin untuk membahas pagelaran seni ini. Jadi, kami semua berada di sekolah setiap hari. Membosankan. Di kelasku ada peraturan, dimana yang telat harus lari mengelilingi lapangan basket, berapa kali putarannya tergantung berapa menit telatnya dari jam yang telah ditentukan. Fiuh. Dan yang paling sering telat yaitu aku. Dari awal aku memang sedikit tidak bersemngat dengan pagelaran ini. Terbesit konfik batin dengan teman sekelas, tak perlu disebutkan ataupun diceritakan panjang lebar, toh juga tidak begitu penting. Aku orangnya sekalinya mood sudah dirusak, selanjutnya bakalan males melakuka apapun itu. Mungkin aku sendiri yang kurang berinteraksi atau beradaptasi dengan sekelas, atau memang tidak ada chemistry antara aku dengan sekelas. Aku benci situasi saat itu. Karena tak satupun ide yang dapat aku usulkan. Interaksi kamipun kurang greget, kelas kebanyakan pendiam.
Setiap hari, berkoar ke satu anak ke yang lainnya sudah menjadi kebiasaanku. Apalagi kalau bukan menagih uang tabungan pagelaran. Yang susah itu anak cowok, mesti kebanyakan alasan ini itu. Setiap anak pun sudah paham kalau aku menghampiri itu tandanya aku menagih uang. Bisa dibilang untuk saat itu profesiku hampir mirip dengan debcolector. Penagih yang kejam. Wkwkwk. Tapi itu semua kan demi kepentingan kelas. Lanjut lagi buat pembahasan konsep yang tak kunjung menemukan jalan keluar. Inti akulturasinya udah dapet, buat ngembanginnya yang susah. Belum lagi, sebagian anak ada yang belum paham dengan gimana sih nanti pagelarannya ? What the..... langsung ke pemilihan kelompok, dari gamelan ada 13 anak sekalian sama sinden dan dalang, penari jawa ada 6 anak, hiphop ada 6 anak, sisanya ikut ke crew drama. Awalnya pada milih aku buat jadi sinden, tapi aku nggak mau, suaraku juga nggak terlalu bagus, takut malu-maluin nantinya. Kalau mau masuk ke tim gamelan, males buat ngapalin not angkanya, terus juga kalau gamelan Cuma duduk ditempat sambil main musik, takutnya bosen. Kalau gamelan juga harus fokus, aku orangnya suka ngelamun sendiri. Terus hiphop, aku nggak bisa buat ngedance tempo cepat gitu, nggak terlalu suka juga sama gerakan. Akhirnya di tari jawa.
Gamelan dilatih oleh Bapak Darsono, tari jawa dilatih oleh Ibu Nani, hiphop dilatih Mas Tio. Buat crew drama sementara harus bikin konsep sekalian sam dialog antar tokohnya. Kenapa kelas kita milih drama ? soalnya kita merasa sudah sangat terbiasa untuk hal semacam drama. Sudah profesional mungkin. Sudah dilatih dengan tugas drama yang ada di kelas 11 dulu. Sudah banyak asam garam tentang drama. Wkwkwk. Untuk gamelan latihan setiap hari sabtu di SMA Masehi. Tari jawa setiap  hari kamis di sekolah. Hiphop setiap hari senin atau sabtu di sekolah. Untuk naskah drama kami bahu-membahu, mengerjakan semuanya bersama-sama. Setiap hari minggu kumpul buat bahas naskah. Nggak setiap hari juga, kadang kalau senin ada ulangan harian minggunya libur buat belajar. Kadang juga kalau masih pada sibuk sama urusan sendiri-sendiri libur juga. Kadang juga waktu pas ngebahas naskah, naskahnya dianggurin jajannya yang dihabisin.
Hari pertama latihan. Buat penari jawa kita diajarin tari ngangsu. Gerakannya simple, ngapalinnya juga nggak terlalu susah. Itu kata Bu Nani. Tanpa pemanasan, langsung ke grakan pertama. Gileee, gue kaku banget. Beda jauh sama gerakannya Sandra, Fitri sama Nurul. Temponya lambat, bikin aku ngantuk. Jadi penari jawa itu intinya harus telaten, harus sabar juga. Setiap latihan, Bu Nani kita kasih Rp 50.000,- kalau buat konsumsi memakai uang kalangan sendiri tanpa ikut campur uang tabungan pagelaran. Nela yang sering beliin minuman buat Bu Nani. Kita latihan di sekolah bermodalkan pinjam tape Pak Mar. Musik nyala, kita mulai menari dengan lunglainya. Wkwkwk. Kesan latihan dihari pertama yaitu capek, sehari kemudian badan pada pegel-pegel semua.
Pernah aku nggak ikut latihan dengan alasan yang sepele. Kita latihan kadang nggak terlalu rutin. Misalnya sebulan hari kamis nggak selalu latihan, paling yang efektif buat latihan 2kali kadang 3kali. Jadi tergantung gitu sama anak-anaknya. Nggak  ada jadwal khusus. Kadang juga kita latihan di hari lain. Waktu itu hari kamis mau pada latihan, tapi aku males gitu, terus bilang aja sama yang lain kalo aku lagi males buat latihan, capek juga ntar ujung-ujungnya harus absen les. Alhasil latihannya dganti hari jumat sepulang sekolah sekitar jam 1. Pulang sekolah aku pulang dulu, mau ishoma terus ke sekolah lagi. Aku ketiduran gitu, bangun udah jam setengah 2, dirumah Cuma seorang diri, Bapak lagi ada urusan dikantor. Yaudah aku sms ke Sandra kalau aku nggak bisa latihan hari ini, tapi ngak ada balesan. Yasudahlah aku lanjutin tidur lagi. Besoknya di sekolah aku tanyain ke para penari jawa, kemarin pada latihan nggak, eh ternyata mereka jadi latihan, yang nggak ikut latihan Cuma aku doang. Jadi nggak enak sendiri. Dan mereka latihan tanpa pelatih, soalnya nggak pada bawa duit buat bayar pelatih. Jadi merasa bersalah. Pernah juga, hari kamis kita mau pada latihan jam setengah 3, tapi aku ada tambahan di les, aku keluar bentar, pinjam motornya Tyas, otw ke GO. Blablabla. Aku balik ke skolah buat latihan sekitar jam 3. Pas masuk ke ruang 5, muka anak-anaknya pada serem-serem. Mereka mungkin marah tapi akunya tetep nggak peka. Hehehe. Jujur ya mukanya kalau lagi pada marah pada lucu-lucu kalo di inget-inget bawaannya ngakak. Mulut pada manyun semua, mata lirikannya tajam, hidung mbas-mbis ngirup oksigen sama ngeluarin karbondioksida. Hahahaha. Dengan pede aku langsung ikut latihan.
Waktu UTS, kita vacum  buat latihan. Cuma gamelan yang masih latihan rutin setiap hari sabtu. Dari pihak tari jawa udah selesai semua gerakannya, tinggal ngapalin, latihan pemantapan. Buat hiphop juga udah fix gerakannya, tinggal latihan pemantapan. Buat gamelan juga buat lagu-lagu udah diajarin semua tinggal ngapalin not angkanya. Buat crew drama ? naskahnya masih terombang-ambing dengan ketidakjelasan cerita di dalamnya. Mulai dari perkenalan, antiklimaks, klimaks sampai kliimaks belum tertata dengan rapi. Belum lagi ada maslah tentang akuluturasinya nanti gimana ? bingung klimaks. Properti juga belum dipikir, tabungan makin hari makin banyak yang nunggak, kostum apalagi. Pagelaran makin dekat. What should we do ? kumpul lalu bahas bareng. Orang yang bisa dimintain tolong buat masalah properti sekalian drama yaitu Pak Trinil, orang seni berkantorkan do GOR Jetayu. Langsung aku samperin aja. Dari awal mau pagelaran juga aku udah mikir buat minta bantuan Pak Trinil, sempat juga tanya-tanya tentang pelatih. Tapi temen udah dapet peltih duluan yaudah nggak jadi pake pelatih usulan Pak Trinil.
Aku datang ke Gor, cerita semuanya tentang masalah pagelaran kelas. Baiknya bagaimana ? masukan dari Pak Tri, kalau mau akulturasi lebih greget mengangkat 3 kebudayaan. Misalnya aja, Indonesia, Amerika terus ditambah lagi Cina. Apa bisa ? kita aja belum pernah latihan satu paket komplit dari awal sampai akhir. Buat drama juga belum matang persiapan, belum harus nyiapin masalah properti. Kalau mau ada penambahan konsep apakah anak-anak sekelas mau ? hari itu juga semua pelatih dari gamelan, tari jawa, hiphop harus dikumpulin jadi satu terus rembukan perihal akulturasi. Sebenarnya yang akulturasi sudah dibahas sama pelatih jawa dan hiphop, hasilnya waktu akulturasi kita pakai musik dengan judul jogja undercover. Nggak tau kenapa akunya kurang srek aja. Tapi mau gimana lagi, waktu juga udah mepet banget, bentar lagi semesteran nggak mungkin buat latihan, terus Bu Nani juga udah ngarang gerakan, okelah kalo gitu pake lagu jogja undercover. Latian terakhir sebelum semesteran.
Pagelaran itu menuai banyak konflik nantinya. Yang sudah-sudah, respon dari orang tua. Orang tua udah nanyain, pagelaran itu buat apa ? masih pentingan pelajran sekolah kan ? pagelaran itu Cuma bikin capek. Iyasih bener, tapi mau gimana lagi, mau nggak mau ya harus dijalani, toh juga itu buat nilai ujian praktek. Masalah properti, naskah yang mash gamblang, kostum dibahas setelah semesteran. Jujur semenjak ada tabungan pagelaran maslah uang bulananku jadi keteteran, jadi umbrus sendiri pengeluarannya.

Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog