Kamis, 17 April 2014

Curhat Menuju Culture Project Pagelaran Seni


Nama : Arini Nur Kamaliah 
 Kelas : XII IPA 1
No Absen : 04


CURHATAN MENUJU CULTURE PROJECT

            Seperti tahun-tahun sebelumnya, tugas besar seni musik kelas XII semester 1 adalah Pagelaran seni. Pagelaran seni sendiri adalah pertunjukkan yang menunjukkan seni, seni yang dipertunjukkan dalam acara ini tidak hanya seni musik namun juga ada seni tari, drama dan berbagai seni lainnya, yang menjadikan pagelaran seni ini menarik adalah orang-orang yang memainkannya, sesuai dengan judul dan tujuannya, Pagelaran seni ini dimainkan oleh seluruh siswa kelas XII SMA Negeri 3 Pekalongan.
            Sekitar pertengahan Agustus pihak panitia telah menentukan tema Pagelaran seni untuk tahun 2013 ini, yakni “Culture Project”, yang membedakan pagelaran seni tahun ini dengan yang sebelumnya adalah untuk tahun-sebelumnya Pagelaran seni yang ada hanya menampilkan satu budaya utamanya budaya asli Indonesia, namun untuk tahun ini sesuai dengan temanya kita diharuskan menampilkan seni yang memadukan antara budaya asli Indonesia dan budaya luar dari berbagai benua sehingga menghasilkan sebuah seni yang indah.  
            Setiap kelas harus menampilkan pertunjukkan seni yang berbeda, untuk  itu setiap kelas harus secepatnya menyerahkan garis besar konsep pertunjukkan kepada panitia untuk mengantisipasi kesamaan konsep antar kelas nantinya. Kelasku adalah kelas XII IPA 1, untuk menentukan seni apa yang akan kami tampilkan apalagi harus dipadukan dengan budaya asing ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Semakin hari beberapa ide bermunculan namun berlalu begitu saja, dari waktu pemberitahuan tema oleh panitia sekitar pertengahan agustus sampai memasuki bulan September kami belum juga menemukan tema penampilan yang pas untuk kelas kami, baru sekitar pertengahan September kita semua fix dalam satu tema untuk penampilan kelas.
            Dari itu kami mulai membagi anak-anak dalam beberapa kelompok, antara lain crew, penabuh gamelan, sinden, penari jawa, dan penari hip-hop. Kami  juga mulai mencari pelatih, setelah menemukan pelatih, kami semua bertemu dengan pelatih untuk membahas konsep yang kami inginkan, hampir satu minggu berlalu, tiba-tiba pelatih itu meminta maaf tidak bisa melatih kami karena ada urusan, jadi kami bisa mencari pelatih yang lain. Mendengar itu jelas saja kami kecewa, mencari pelatih tidaklah mudah, namun mau tidak mau kami memang harus mencari pelatih baru, karena beberapa anak punya kenalan pelatih, maka segera pula mencari dan menghubungi pelatih masing-masing bidang tersebut.
            Pagelaran dijadwalkan pada bulan Desember, karena pada saat itu kami berpikiran bulan Desember itu masih lama jadi pada bulan September, oktober  kami latihan pun belum begitu serius, perkelompok hanya latihan seminggu sekali, itu juga hanya fokus pada bidang masing-masing, belum sampai pada tahapan memadukan dan menggabungkan menjadi sebuah kesatuan.  Bertemu untuk satu kelasnya hanya seminggu sekali di hari minggu, itu juga hanya membahas tentang masalah-masalah dan diskusi tentang property, iuran, hukuman bagi yang telat, denda dll.
            Aku sendiri masuk dalam kelompok gamelan, karena kami meminjam alat-alat gamelan milik smp masehi untuk berlatih maka kami pun berlatih di smp masehi, kami dilatih oleh seorang pelatih gamelan bernama pak Darsono. Awalnya kami berlatih setiap hari sabtu, pada awalnya kami diperkenalkan dengan alat-alat gamelan, berlatih memainkannya tanpa lagu, disitu pertama kalinya aku mengetahui tentang gamelan, terdiri dari apa saja, bagaimana bunyinya dan masih banyak lainnya. Aku mendapat tugas untuk menabuh alat yang dinamai saron penerus.           Hari itu aku dan teman-teman merasa senang, waktu berlatih untuk hari itu pun tak terasa telah habis. Hari-hari selanjutnya kami rutin berlatih setiap hari sabtu,kami berlatih dari nol,dari masih sering melakukan kesalahan sampai makin hari makin berkurang, kami diajari memainkan 3 lagu yaitu gambang suling, prau layar dan ojo dipleroki. Tanpa terasa makin hari permainan kami makin baik, sampai suatu saat kami mendapat tawaran dari pak Darsono untuk menampilkan hasil latihan kami selama ini di suatu acara wayang, ini dimaksudkan sebagai latihan untuk kami tampil di depan banyak orang sekaligus untuk pengalaman, mendapatkan tawaran itu jelas kami bersedia dengan senang hati. Sebelumnya kami di ajak untuk ikut latihan di sebuah tempat di jalan belimbing, tempat itu seperti sanggar yang disana terdapat alat-alat gamelan yang komplit, karena tidak tahu tempatnya kami berkumpul dahulu disekolah, kemudian menuju kesana bersama-sama. Sesampainya disana kami langsung mencoba alat yang ada, alat-alat disana masih baru dan bunyinya lebih halus, berbeda dengan alat yang biasa kami gunakan, disana kami dilihat oleh para penabuh gamelan yang sudah professional. Setelah kurang lebih setengah jam kami berlatih, giliran para penabuh gamelan yang sesungguhnya yang berlatih, kami melihat dan memperhatikan para bapak-bapak itu menabuh gamelan, caranya berbeda sekali dengan kami yang masih amatiran. Mereka memainkan dengan lincah dan tepat. Disaat itu hujan turun dengan derasnya, waktu sudah menujukkan pukul 9, tapi kami tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini, kami menunggu hujan reda sambil menikmati tabuhan gamelan, sekitar pukul 10 hujan mulai reda, satu persatu dari kami berpamitan untuk pulang. Hingga kurang lebih dua minggu sesudahnya tiba saatnya untuk kami tampil di acara wayang yang diadakan di pendopo, sebelum tampil kami menunggu cukup lama, dari bangku penonton masih kosong sampai akhirnya terisi penuh, bermacam-macam perasaan kami sebelum tampil, antara deg-degan, takut, grogi, keringat dingin bercampur aduk, ini pertama kalinya kami ditonton oleh khalayak umum, hingga waktunya untuk kami tampil, kami berusaha sebaik mungkin walau pada kenyataannya ada sedikit kesalahan, sampai akhirnya kami selesai dan mendapat tepuk tangan dari para penonton, duh leganyaaaa.
            Kembali ke Pagelaran, Bulan berganti, waktu terus berjalan, tak terasa mulai mendekati hari H, masuk pertengahan November kami mulai khawatir, mendengar persiapan kelas lain yang sudah cukup matang, dan yang membuat kami semakin tak menentu karena sampai saat itu kelas kami belum mempertemukan antar pelatih masing-masing bidang, belum menemukan ending akulturasi yang tepat, kelas kami hanya terfokus pada bidang masing-masing, seperti bermain sendiri-sendiri, pemain gamelan bermain musik sendiri, penari jawa dan penari hip-hop pun demikian, menari sendiri, belum ada jalan cerita yang menggabungkan keseluruhan aspek pertunjukan yang sesuai dengan konsep awal. Hingga suatu sore kami semua mendapat sms dari koordinator kelas untuk berkumpul di sekolah, disitu kami mempertemukan pelatih penari jawa yang bernama Bu Nanik dan penari hip-hop yang bernama Mas Tio, disitu kami berdiskusi, mencari jalan keluar terbaik, ditengah itu semua sempat ada masukan untuk mengubah konsep awal, ini cukup membuat shock, mana mungkin dalam waktu yang saat itu kurang lebih 1 bulan mendekati hari H kita akan mengubah konsep dari awal. Apalagi, waktu sebulan tersebut belum dikurangi dengan jadwal ulangan akhir semester yang tidak memungkinkan pada hari hari itu untuk tetap melakukan latihan. Jadi waktu latihan kurang lebih hanya tinggal  3 minggu, sedang untuk menggabungkan secara keseluruhan dan mengompakkan saja belum jadi jaminan akan mendapatkan hasil yang memuaskan, apalagi harus mengubah konsep dari awal yang dalam artian kita harus belajar semuanya dari nol lagi, apa semua ini mungkin dalam hal yang semendesak ini? Akhirnya, setelah kurang lebih satu jam mendiskusikan semua ini, keputusan terbaiknya adalah kita tetap menggunakan konsep awal dan untuk akultursi kita menggunakan lagu yang didalamnya terdapat unsur musik jawa dan modern, dan untuk musik langsung, gamelan memainkan nada yang sesuai dengan lagu yang digunakan untuk musik akulturasi. Dari pertemuan itu juga sudah disepakati bahwa waktu yang ada harus digunakan dengan sebaik mungkin, sudah bukan waktunya untuk berlatih sendiri-sendiri, tidak ada jalan lain selain waktu 1  bulan ini harus digunakan untuk menggabungkan semuanya dan mendapatkan ending dari akulturasi itu sendiri.
            Karena dalam penampilan kami juga membutuhkan property yang mendukung kami meminta bantuan salah seorang bernama Mas Trinil, yang tanpa sengaja akhirnya membantu kami mengurus dan melatih kami untuk bagian akulturasi. Setelah pertemuan tersebut diatas, setiap pulang sekolah kami mulai berlatih bersama, karena pemain gamelan meminjam gamelan smp masehi untuk berlatih ditempat, maka untuk mempermudah kami juga meminta ijin meminjan tempat untuk latihan bersama satu kelas. Disana, kami beruntung karena ibu penjaga sekolahnya sangat baik, sehingga kami juga tidak risih untuk meminta bantuan. Hampir seminggu kita latihan bersama namun masih banyak kekurangan disana-sini, hingga waktu uas tiba, kami memutuskan menghentikan latihan dan fokus uas terlebih dahulu. Selesai uas kami kembali latihan, semakin dekat dengan hari pertunjukan, namun nyatanya berangkat latihan saja masih banyak yang meremehkan, sering terlambat, ijin-ijin tak jelas. Setiap harinya selalu ada saja yang bikin emosi, bikin badmood entah itu dari masalah sepele sampai yang cukup serius. Namun disamping itu, banyak sekali keceriaan yang ada, keceriaan itu pula yang menghilangkan rasa capek yang ada, mulai dari bercanda bareng, berbagi makanan, nungguin yang telat buat minta denda, dan hal-hal tak terlupakan lainnya. Waktu yang ada, juga kami gunakan untuk membuat property, kami gotong royong membuat property di gor jetayu. Belakangan, waktu pulang dari sekolah lebih cepat, jadi sepulang sekolah kami gunakan untuk membuat property dan baru sekitar jam 2 kami berangkat ke masehi untuk latihan sampai jam 5 sore. Tak ada hari tanpa latihan, tak ada lagi hari untuk bersantai. Waktu sudah amat dekat, sampai akhirnya ada konsep awal yang tadinya tak jadi dipakai akan dimasukkan kembali, yaitu membawa bendera dan menyanyikan lagu nasionalisme di akhir penampilan, jadi dalam waktu seminggu ini selain memantapkan masing-masing kelompok, akulturasi, membuat property juga harus berlatih tambahan untuk penampilan penutupan. Yang lebih membuat tak karuan, kami belum mendapatkan kostum, sebenarnya masalah kostum sudah kami serahkan pada pelatih penari jawa, namun karena belakangan kami sudah berlatih sendiri jadi kami belum bertemu lagi untuk membahas kostum, hingga suatu hari kami menelpon pelatih jawa menanyakan masalah kostum dan betapa kagetnya kami saat mendapat kabar bahwa pelatih jawa sedang ada urusan ke luar kota sampai beberapa hari kedapan dan belum menghubungi sewa kostum yang dimaksud, dari itu kami langsung meminta alamat rumah penyewa kostum dan berniatan mengeceknya sendiri. Sepulang latihan, sekitar habis isya beberapa anak dari kami termasuk saya mencari tempat pencarian sewa kostum tersebut, setelah sampai di tempat dan melihat-lihat kostum yang cocok,  hanya hanya cocok pada kostum untuk sinden, dalang dan pemuda jawa dan gamelan khusus cowok. Kami beruntung karena dengan menanyakan masalah kostum tadi kami jadi tahu apa-apa saja yang ada dan apa yang belum, coba saja jika semuanya kami serahkan pada pelatih jawa tadi tanpa mencari tahu, mungkin beberapa hari sebelum kami belum juga mendapatkan kostum. Dari itu, esok harinya kami dari kelompok gamelan cewek, penari jawa dan crew bersama-sama mencari tempat penyewaan kostum. Beberapa tempat kami datangi namun belum juga menemukan yang cocok, kami menuju tempat lain, itu di daerah noyontaan tapi kebetulan sedang tak ada orangnya, kami berhenti disitu sembari menunggu teman kami yang tadi ketinggalan, betapa lucunya saat ditempat yang kami maksud sedang tak ada orangnya tiba-tiba teman yang tertinggal tadi menelpon dan mengatakan dia sudah sampai ditempat sewa kostum dan bertemu dengan penyewanya. Kami yang ada dan mendengar percakapan tadi langsung tertawa, bagaiman mungkin kami yang beramai-ramai ada ditempat penyewaan yang kami maksud tak bertemu penyewanya, ini malah dua anak yang ketinggalan sudah bertemu penyewanya, ini jelas bahwa mereka berdua kesasar. Hahaha…. Kami meminta alamat mereka sekarang dan menuju ke tempat mereka berdua berada. Disana kami bertemu dengan pemiliknya, pemiliknya mengatakn bahwa mereka juga pernah menangani penyewaan serupa, namun contoh bajunya tidak ada disitu, namun ada di penyewaan yang bertempat di kraton, kami langsung menuju kesana, setelah kami melihat-lihat ada baju yang cocok untuk pemain gamelan, tidak disangaka-sangka dari dua orang kesasar yang salah tempat kami mendapatkan kostum juga.
            Kurang dari seminggu lagi kami tampil namun masih ada saja hal-hal yang membuat kami tidak kompak, masih banyak pula property yang belum selesai kami buat. Karena sekolah sudah tidak ada KBM, dan para guru juga sudah mempersiapkan mengurus nilai untuk raport jadi  pagi-pagi kami sudah tidak berangkat sekolah untuk belajar mengajar, tapi tiap pagi kami berkumpul di gor untuk menyelesaikan property sampai jam 12, istirahat sampai jam 2 dan dilanjut latihan sampai jam 5.
            Tak terasa sudah H-3. Disela-sela santai dan perbincangan setelah pembuatan melihat ada beberapa anak yang mulai sakit dan terlihat kecapekan ada yang mengusulkan dan menanyakan mau libur latihan kapan, dengan pilihan libur setengah hari untuk hari ini, besok sehari, atau tidak ada libur sampai pangelaran berlangsung. Akhirnya kita voting, setiap pilihan mendapat suara, namun semua itu tak menyelesaikan masalah yang ada, kami meminta alasan dari masing-masing pilihan yang ingin libur, alasannya sama, sudah capek, takut kesehatannya gak kuat. Namun ada juga yang tetap keukeh dengan pilihan tidak ada libur, kami yang memilih tidak ada libur lebih berpikir pada waktu yang ada tinggal sedikit, sedang kekompakan saja masih naik turun, alasan capek? Apa yang memilih tidak libur tidak merasa capek? Jika berbicara itu semua pasti capek bukan? tapi ini untuk kepentingan bersama, bukankah sepulang latihan sore kita bisa istirahat, sudah tidak ada KBM, semua nilai untuk raport telah ada, jadi kita bisa punya waktu istirahat dari sore itu sampai pagi, apa masih kurang juga? waktu kita tinggal sedikit, jadi hendaklah kita gunakan sebaik mungkin tanpa disia-siakan. Belum juga mendapat jalan keluar, kami disuruh Mas Trinil sebagai pelatih kami untuk berkumpul melingkar, disitu kami dinasehati , disuruh memejamkan mata, berpikir lebih jauh untuk penampilan bersama, ada pula yang menangis, emosi kami campur aduk. Sampai setelah itu kami sepakat bahwa tidak ada libur, dan mulai hari ini kami berjanji harus serius, kompak, dan tetap latihan apapun yang terjadi. Hari itu jam telah menunjukkan pukul 2, kami menuju masehi untuk latihan pertunjukkan, ditengah-tengah latihan hujan turun dengan cukup deras, karena kami telah berjanji untuk kompak dan tetap latihan apapun yang terjadi, maka ditengah hujan pun kami tetap berlatih, kami basah-basahan, dan sampai akhirnya hujan-hujanan, bercanda-canda. Sebelum pulang, kami evaluasi terlebih dahulu, dan menurut mas trinil hari ini latihan kami sangat kompak, lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Hari ini, begitu sangat mengesankan, hari yang penuh emosi namun juga penuh kebahagiaan. Esok harinya, sudah H-2 hari berlalu seperti biasa membuat property dan latihan, kami menuju smp masehi latihan untuk seperti biasa, namun apa daya belum juga latihan dimulai hujan turun dengan derasnya, hujan yang tak kunjung reda menyisakan banjir di sisi-sisi la pangan, terpaksa kami hanya latihan sebisanya, cuaca yang tak mendukung membuat sebagian dari kami kurang konsentrasi, alhasil latihan tidak sekompak kemarin. Karena besok sudah H-1 selesai latihan kami berkumpul untuk membicarakan masalah kesiapan kostum, property dan hal sebagainya.
            Hari telah berganti, H-1 cukup membuat hati deg-degan tak menentu, hari ini kami tak latihan dari pagi, kami diberi waktu untuk istirahat dan mulai latihan pukul 1, untuk penari jawa, hip-hop dan crew latihan di gor dan untuk gamelan latihan di masehi. Percaya tak percaya, ini adalah hari terakhir kami latihan gamelan di masehi, sulit rasanya, kurang lebih 4 bulan lamanya banyak waktu yang kami habiskan di tempat ini, banyak kenangan yang kami ukir disini. Banyak rasa tertumpah di sudut-sudut sekolah ini. Rasanya waktu cepat sekali berlalu, masih terasa rasanya pertama kali memasuki tempat ini, memainkan gamelan untuk pertama kali. Untuk hari ini, setelah selesai latihan gamelan, kami berkumpul di sekolah untuk gladi resik. Sesampainya di sekolah melihat kelas lain yang sedang gladi resik hati berdebar lebih kencang lagi. Sekitar jam 4 waktunya kelas XII IPA 1 gladi resik, baru beberapa saat berjalan hujan turun, karena makin deras kami menghentikan gladi resik. Hujan reda, gladi resik dilanjut oleh kelas lain, setelah semuanya selesai dan hujan tak lagi turun kami melanjutkan gladi resik untuk kelas kami. Untuk gamelan sendiri, saat gladi reik tidak bisa ikut bermain karena gamelan sedang dipakai kelas lain, kami baru diperbolehkan memakai gamelan setelah kelas lain itu selesai. Karena gamelan yang akan dipakai pentas bukanlah gamelan yang biasa kami pakai untuk latihan jelas kami ingin para pemain gamelan ingin mencoba alat yang ada. Anak-anak selain pemain gamelan diperbolehkan dan akhirnya kami baru mencoba alat yang ada selepas maghrib, sampai jam menunjukkan pukul setengah delapan kami pulang namun masih ada beberapa anak lak-laki yang tetap disekolah untuk mengurus property bersama Mas Trinil.
            21 Desember yang ditunggu dating juga. Hari ini, puncak dari perjuangan kami berbulan-bulan ini. Culture Project, rangkaian persembahan perjuangan berbalut kreativitas dan seni. Berangkat pagi, gelorakan semangat berikan yang terbaik untuk akhir semester ini. Dari pagi, satu persatu dari kami dirias, memakai kostum yang sesuai.Pertunjukkan dimulai pukul 9 pagi, walaupun tampil urutan ke lima, persiapan make up dan kostum kelas kami telah seratus persen. Acara dibuka, kelas urutan pertama tampil pukul setengah sepuluh, sambil menunggu giliran kami melihat penampilan kelas lain, melihat itu perasaan menjadi campur aduk, antara takut, tegang, deg-degan jadi satu. Masuk penampilan kelas keempat, kami dikumpulkan oleh Mas Trinil, kami saling menguatkan, saling memberi semangat, dan berdoa untuk kesuksesan bersama.
            Tiba juga waktu untuk penampilan kelas kami, pembawa acara memanggil kelas kami, pemain gamelan naik panggung terlebih dahulu, disusul dengan urutan masing-masing jalan cerita, penampilan berlangsung kurang lebih 35-40 menitan, dalam penampilan ada beberapa kesalahan, namun itu semua tidak menjadi masalah karena kami saling menutupi, saling melengkapi. Kami telah berusaha semaksimal mungkin yang kami bisa. Begitu rangkaian penampilan kami selesai, semua terbayarkan saat mendengar suara tepuk tangan para hadrin yang ada. Sesederhana itu kebahagiaan kami, mendengar suara tepuk tangan dan riuh penonton. Capek dan semua yang kami persiapkan 4 bulan belakangan ini seakan telah terbayarkan. Ini adalah acara yang akan selalu kami ingat, bagian dari perjalanan hidup kami, dan kenangan yang akan selalu hidup dalam hati.
Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog