Jumat, 15 Mei 2009

TOKOH JAZZ

Benny Goodman
(30 Mei 1909 – 13 Juni 1986)
. Benny Goodman terlahir sebagai Benjamin David Goodman adalah musisi jazz Amerika Serikat yang memiliki berbagai julukan misalnya Raja Swing, Raja Klarinet, atau Sang Profesor. Kepopuleran Benny Goodman juga menandai kehadiran musik swing. Kemampuannya bermain clarinet memberi kekhasan tak hanya untuk big bandnya tapi juga bagi band-band kecil tempat dia bermain. Dia adalah tokoh paling terkemuka dalam tahun-tahun pertama era swing dan terus berkarier selama 50 tahun hingga kematiannya.
Goodman adalah putra dari pasangan imigran Rusia, Davin Goodman dan Dora Rezinsky Goodman. Ayah Benny berprofesi sebagai seorang penjahit. Dia pertama kali mempelajari cara meniup clarinet saat berusia 10 tahun di sebuah sinagoga (rumah ibadah Yahudi). Benny memulai karir profesionalnya pada usia 12 tahun dan memutuskan untuk berhenti sekolah pada usia 14 agar bisa serius menjadi musisi. Pada Agustus 1925, saat Benny berusia 16 tahun, dia bergabung dengan Ben Pollack band. Bersama band ini, Benny merilis album pertamanya pada Desember 1926. Sedangkan, rekaman pertama dengan menggunakan nama dia sendiri dirilis pada Januari 1928.
Pada usia 20 tahun, Benny meninggalkan Ben Pollack band dan pindah ke New York untuk bekerja sebagai musisi paruh waktu, bekerja di perusahaan rekaman, dan menjadi musisi di pertunjukan musical Broadway. Benny juga membuat rekaman sendiri dan lagunya He’s Not Worth Your Tears langusng masuk daftar lagu terlaris pada tahun 1931. Pada awal tahun 1934, Benny menandatangani kontrak dengan Columbia Records dan lagunya Ain’t Cha Glad langsung masuk daftar 10 lagu terlaris tahun 1934. Komposisi lainnya yang juga cukup populer saat itu antara lain Riffin’ the Scotch, Ol’ Pappy dan I Ain’t Lazy, I’m Just Dreaming.
Kesuksesan album-album rekamannya dan sebuah tawaran tampil di Billy Roses’s Music Hall membuat Benny berfikir untuk membentuk kelompok musik yang permanen. Orkestra pimpinan Benny Goodman ini tampil perdananya pada 1 Juni 1934. Rekaman instrumental berjudul Moon Glow menjadi hits di bulan Juli dan Benny masih mencetak dua lagu top 10 yaitu Take My Word dan Bugle Call Rag. Setelah empat setengah bulan berada di Music Hall, Benny kemudian menandatangani program Saturday Night Let’s Dance di radio NBC. Dalam acara itu, Benny bermain selama satu jam terakhir dalam acara berdurasi tiga jam tersebut. Selama enam bulan mengisi acara itu, Benny menghasilkan enam lagu top 10 di Columbia Record. Setelah itu, dia pindah ke perusahaan rekaman RCA Victor yang diberinya lima lagu top 10.
Setelah meninggalkan acara Let’s Dance, Benny menggelar tur nasional pada musim panas 1935.Tur itu tidak terlalu sukses hingga dia tiba di Pantai Barat, dimana acara Let’s Dance didengar tiga jam lebih awal ketimbang di Pantai Timur Amerika Serikat. Penampilannya di Palomar Ballroom, Los Angeles 21 Agustus 1935 menuai kesuksesan luar biasa. Bahkan saat itu didaulat sebagai hari dimulainya era musik swing. Pada tahun 1936, Benny mencetak 15 lagu top ten termasuk lagu terlaris It’s Been So Long, Goody-Goody, The Glory of Love, These Foolish Things Remind Me of You dan You Turner the Tables on Me, semua lagu tersebut dibawakan Helen Ward. Kemudian Benny menjadi pembawa acara serial radio The Camel Caravan yang mengudara hingga akhir 1939. Pada Oktober 1936, orkestra Benny Goodman memulai debutnya di layar perak, The Big Broadcast of 1937.
Kesuksesan Benny Goodman terus berlanjut. Pada Februari 1937, dengan menampilkan vokalis Ella Fitzgerald, dia kembali mencetak hits. Itu adalah hits pertama band Benny Goodman dnegan pemain terompet baru Harry James. Lagu ini juga menjadi yang pertama dari enam lagu top 10 tahun 1937. Pada bulan Desember orkestra Benny Goodman kembali tampil di layer perak kali ini dalam film Hollywood Hotel. Puncak kepopuleran Benny di era 1930-an adalah pada Januari 1938 saat dia menggelar konser di Carnegie Hall.
Pada 1939, Benny kehilangan banyak musisi andal setelah Gene Krupa dan Harry James memilih mendirikan band sendiri. Selain itu, Benny juga menghadapi kompetisi yang semakin ketat dari musisi-musisi pendatang baru seperti Artie Shaw dan Glenn Miller. Meski demikian, Benny masih mampu mencetak 8 lagu top ten termasuk lagu terlaris And the Angels Sing. Menjelang akhir 1939, Benny kembali ke Columbia Records. Pada November, Benny tampil dalam drama musical Broadway, Swingin’ the Dream, memimpin sebuah sekstet. Sayangnya pertunjukan itu tak berumur panjang, namun meski berumur pendek pertunjukan itu menghasilkan komposisi Darn That Dream yang menjadi lagu terlaris pada Maret 1940. Sepanjang tahun 1940, Benny hanya menghasilkan tiga lagu top ten. Kemuduran ini juga diakibatka karena dia sempat menderita sakit dan beristirahat total hingga menjelang akhir 1940.
Terlibatnya Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, dan terjadinya larangan rekaman oleh Federasi Musisi Amerika pada Agustus 1942 menjadi masa-masa sulit bagi para seniman musik. Namun, Benny masih mampu mencetak beberapa lagu laris misalnya Taking A Chance of Love tahun 1943 yang merupakan bahan rekaman lama sebelum terbitnya larangan rekaman. Selama masa ‘bebas’ ini, Benny menggunakan waktunya untuk membintangi sejumlah film misalnya Powers Girl, Stage Door Canteen dan The Gang’s All Here.
Setelah menggelar tur di timur jauh pada 1956-1957, Benny Goodman semakin sering tampil di luar Amerika Serikat. Pada tahun 1962, dia menggelar tur di Uni Sovyet yang menghasilkan album Benny Goodman in Moscow. Pada tahun 1963, RCA Victor merancang rekaman studio, reuni Benny Goodman Quartet tahun 1930-an yang menampilkan Benny Goodman, Gene Krupa, Teddy Wilson dan Lionel Hampton. Hasilnya adalah album Together Again! yang cukup laris pada tahun 1964.
Di tahun-tahun berikutnya Benny Goodman semakin jarang merilis album. Namun pada 1971 dia masih bisa menembus tangga lagu terlaris dengan menelurkan album Benny Goodman Today yang direkam langsung saat konser di Stockholm. Album terakhir yang kemudian dirilis sebelum kematiannya dalam usia 77 tahun adalah Let’s Dance. Sebuah soundtrack televise yang menghasilkan Grammy Award untuk penampilan instrumental jazz terbaik.






















Billie Holiday
(7 April 1915 – 17 Juli 1959)
. Terlahir sebagai Eleonora Fagan Gough, Billie Holiday mengalami masa kecil yang sulit yang sangat mempengaruhikehidupan dan karir musiknya. Sebagian masa kecil Billie masih merupakan misteri dan sebagian lainnya tertera dalam otobiografinya Lady Sing the Blues yang pertama kali dipublikasikan tahun 1956 dan kemudian diketahui mengandung banyak kesalahan.
Nama panggung, Billie Holiday adalah gabungan nama aktris idolanya Billie Dove dan Clarence Holiday, yang kemungkinan besar adalah ayahnya. Dia sempat mengganti nama belakangnya menjadi Halliday, agaknya untuk menghilangkan jejak ayah yang tak peduli padanya namun kemudian kembali menggunakan nama Holiday. Ada sejumlah kontroversi soal siapa ayah Billie Holiday. Menurut akta kelahiran yang dikeluarkan di Baltimore, ayak Billie bernama Frank De Viese. Beberapa kritikus menduga nama ini hanya dimasukkan begitu saja oleh para pegawai rumah sakit.
Kehidupan Billie sejak awal memang sudah sangat sulit. Ibunya, Sadie Fagan pindah ke Philadelphia, kota tempat kelahiran Billie, karena diusir dari rumah setelah hamil di usia 13 tahun. Setelah Billie lahir, mereka berdua tinggal di kawasan miskin Baltimore. Sang ibu kemudian menikah kembali saat Billie berusia 3 tahun namun tak lama kemudian bercerai, ayah barunya meninggalkan Billie sendirian dengan ibu dan anggota keluarga lainnya. Kondisi ini yang membuat Billie sering mangkir dari sekolah. Akibatnya, Billie kemudian dikirim ke sebuah sekolah Katholik pada tahun 1925.
Karena pertolongan kerabat keluarganya, maka Billie bisa keluar dari sekolah itu pada tahun 1927. Trauma dengan pengalaman ini setahun berikutnya Billie pindah ke New York bersama ibunya. Tahun 1929, ibu Billie memergoki tetangganya Wilbert Rich tengah memperkosa Billie. Rich sendiri kemudian dipenjara tiga bulan atas perbuatannya.Di New York, Billie bersama ibunya menjadi pembantu rumah tangga.
Ibunya kemudian mencari tambahan pendapatan dengan menjadi pekerja seks komersial. Billie sebenarnya sudah mulai menyanyi di beberapa klub pada tahun 1930-1931. Berbagai cerita muncul soal awal kesuksesannya, yang jelas Billie mulai menarik perhatian pada tahun 1933 saat produser jazz Mark Hammond, yang usianya hanya lebih tua tiga tahun dari Billie dan tengah memulai karirnya, menulis tentang Billie untuk Melody Maker dan kemudian membawa Benny Goodman untuk melihat penampilan Billie. Setelah merekam demo di Columbia Studios, Billie bergabung dengan band kecil pimpinan Goodman dan memulai debut komersialnya pada 27 November 1933 dengan lagu Your Mother Son-In-Law.
Meski selama setahun berikutnya Billie tak pernah masuk studio rekaman lagi, nama dan kemampuannya sudah menarik minat sejumlah klub malam di New York.. Pada awal 1935, dia memulai debutnya di Apolli Theater dan tampil bersama Duke Ellington. Selama paruh kedua 1935, Billie akhirnya masuk dapur rekaman lagi dan merekam empat sesi bersama pianis Teddy Wilson. Meski rekaman ini gagal karena kualitasnya yang buruk, Billie dan beberapa grup band menghidupkan sejumlah lagu yang dianggap biasa seperti What a Little Moonligt D, Twenty Four Hours a Day dan If You Were Mine. Permainan band yang menawan ditambah kemampuan olah vocal Billie yang semakin baik membuat Billie dan bandnya semakin terkenal.
Selama tahun 1936, Billie menggelar tur bersama Jimmie Lunceford dan Fletcher Henderson. Kemudian dia kembali ke New York dan pada akhir tahun 1937, Billie merekam beberapa lagu dengan sejumlah band kecil yang juga tengah diorbitkan Hammond, Count Basie’s Orchestra. Penyanyi tenor, Lester Young yang pernah mengenal Billie beberapa tahun sebelumnya dan pemain terompet Buck Clayton menjadi musisi yang selalu tampil bersama Billie. Mereka bertiga menghasilkan album terbaik mereka pada akhir 1930-an.
Pada musim semi 1937, dia memulai tur bersama Count Bassie, sebagai pendamping penyanyi utama Jimmy Rushing. Namun, Billie hanya bertahan satu tahun setelah dipecat karena terlalu temperamental dan penolakannya untuk membawakan lagu-lagu blues standard penyanyi perempuan dari decade 1920-an.
Untuk sementara, pemecatan ini justru menguntungkan Billie. Kurang dari sebulan setelah dipecar Bassie, Billie dikontrak sebuah band populer saat itu Artie Shaw band. Dia mulai bernyanyi bersama grup ini pada tahun 1938, dan menjadi penyanyi kulit hitam pertama yang menjadi vokalis utama grup band kulit putih. Namun, promoter penrtunjukan dan sponsor radio menolak kehadiran Billie karena gaya menyanyinya yang di luar kebiasaan dan juga karena kulitnya yang hitam.
Setelah sejumlah pelecehan, Billie akhirnya keluar dari band itu. Dan untuk kedua kalinya, keputusan ini tepat. Tak lama kemudian, Billie mendapat kesempatan tampil di sebuah klub malam baru Café Society, yang merupakan klub malam baru dengan pengunjung dari berbagai ras. Di klub itu, Billie menyanyikan lagu yang kemudian akan membawanya ke puncak karir, Strange Fruit.
Strange Fruit kemudian menjadi lagu andalan penampilan Billie. Meski John Hammond menolak untuk merekam lagu ini, namun dia memberi izin Billie untuk merekam lagu tersebut untuk perusahaan rekaman Commodore milik Milt Gabler. Saat dirilis, beberapa stasiun radio memboikot lagu ini yang justru semakin membuat lagu ini kontroversial sekaligus laris.
Billie kembali mencetak hit pada tahun 1941 dengan lagu God Bless the Child. Gabler yang juga bekerja untuk Decca Records mengontrak Billie pada tahun 1944 dan memberikan lagu yang khusus diciptakan bagi Billie, Lover Man. Lagu ini menjadi hit ketiga Billie Holiday. Billie terus bersama Decca selama decade 1940-an dan kembali mencatatkan hasil bagus termasuk lagu karya Bessie Smith Tain’t Nobody’s Business If I Do, Them There Eyes, dan Crazy He Calls Me.Saat karirnya tengah di puncak, kehidupan emosional Billie memunculkanm asa-masa sulit di pertengahan 1940-an. Setelah menjadi pecandu alcohol dan marijuana, Billie mulai mengkonsumsi opium bersama suami pertamanya Johnie Monroe.
Perkawinan pertamanya kandas dan tak lama kemudian dia menikah kedua kalinya kali ini dengan pemain terompet Joe Guy dan saat itu Billie mulai menkonsumsi heroin. Billie sempat meraih sukses dalam konsernya di Balaikota New York dan sempat bermain film bersama Louis Armstrong tahun 1947 berjudul New Orleans. Di film itu di berperan sebagai pembantu rumah tangga. Namun, Billie kehilangan banyak uang usai menggelar konser tunggal bersama Joe Guy. Kematian ibunya sangat mempengaruhi Billie dan tahun 1947 Billie berurusan dengan hukum karena memiliki heroin dan dihukum penjara selama delapan bulan.
Sayangnya, masalah Billie berlanjut saat dia bebas dari tahanan. Kasus narkoba membuatnya tersingkir dari berbagai pertunjukan di klub-klub malam. Dua tahun kemudian, Billie memulai rekaman untuk produser Norman Granz pemilik label Clef, Norgan dan Verve. Rekaman ini membuatnya kembali tampil bersama para musisi top misalnya Oscar Peterson dan Charlie Shavers. Tahun 1954, untuk pertama kalinya Billie menggelar tur Eropa. Saat kembali ke Eropa, sekitar lima tahun kemudian, Billie tampil untuk terakhir kalinya di televisi yaitu untuk acara Chelsea at Nine di London. Rekaman terakhir Billie dibuat untuk MGM tahun 1959. Album ini dirilis setelah kematian Billie Holiday.
Pada 31 Mei 1959, Billie dilarikan ke rumah sakit Metropolitan New York akibat penyakit liver dan jantung. Di rumah sakit kamarnya dijaga ketat polisi. Penjagaan ini bukan karena khawatir akan banyaknya pengunjung, namun di saat sekarat itu polisi menjerat Billie atas kepemilikan illegal obat-obatan terlarang. Billie tetap dalam pengawasan polisi di rumah sakit sampai dia meninggal 17 Juli 1959. Di tahun-tahun terakhir kehidupannya, dia banyak menghambur-hamburkan pendapatannya. Saat dia meninggal Billie hanya memiliki tabungan 70 sen dan uang 750 dolar di kantungnya.

















Charles Mingus
(22 April 1922 – 5 Januari 1979)
. Charles Mingus adalah seorang pemain bass, penulis lagu dan pianis jazz handal asal Amerika Serikat. Selain dikenal sebagai musisi, Mingus juga dikenal luas sebagai aktivis yang menentang praktik ketidakadilan rasial. Di antara para musisi jazz, Mingus bisa dikatakan sebagai musisi papan atas dan telah menghasilkan banyak album bermutu. Banyak musisi yang pernah bergabung dengan band yang dipimpinnya selanjutnya memiliki solo karir yang cemerlang. Mingus juga memiliki kemampuan mengasah bakat musisi muda.
Sangat ambisius namun tetap membumi, seringkali sangat radikal namun sekaligus sangat tradisional. Itulah ciri musik karya Charles Mingus. Karyanya merupakan paduan berbagai elemen kehidupan yang pernah dialaminya, mulai dari unsur musik gospel, New Orleans jazz, swing, bop, musik Latin, musik klasik modern hingga jazz modern. Pengalaman lain yang memperkaya musiknya adalah latar belakang kehidupannya yang multi kultur. Mingus lahir di Nogales, Arizona tahun 1922, namun dibesarkan di Los Angeles. Ibunya memiliki campuran darah Cina dan Inggris. Sementara ayahnya adalah hasil hubungan sang kakek dengan anak majikannya yang berdarah Swedia.
Pada awalnya, sang ibu hanya mengizinkan Mingus mendengarkan musik-musik gereja. Namun, jauh di dalam hatinya Mingus lebih menyukai jazz., terutama karya-karya Duke Ellington. Perkenalannya dengan musik dimulai saat dia belajar meniup trombone dan kemudian bermain cello. Sebagian besar teknik menggesek cello yang diperolehnya kemudian dikembangkannya saat menggunakan double bass di SMU. Sedangkan kemampuannya menulis lagu sudah terlihat sejak dia remaja. Saat itu dia sudah banyak menulis komposisi luar biasa, beberapa di antaranya sangat mirip dengan gaya Thrid Stream Jazz.
Tekanan ekonomi sempat membuat Mingus harus meninggalkan dunia musik, dan bekerja di Perusahaan Pos Amerika Serikat hingga tahun 1950, saat pemain vibrafon Red Norvo mengajaknya bergabung untuk membentuk trio Red Norvo. Kelompok ini berhasil menarik perhatian penggemar jazz dengan memperkenalkan aliran jazz West Coast.
Setelah meninggalkan trio ini, Mingus memutuskan pindah ke New York dan mulai menjalin kerja sama dengan sejumlah musisi jazz seperti Billy Taylor, Stan Getz dan Art Tatum. Mingus juga menjadi bassist di konser Masey Hall, Toronto 1953. Di sini dia tampil bersama Charlie Parker, Dizzie Gillespie, Bud Powell dan Max Roach. Kemudian untuk waktu singkat Mingus pernah bergabung bersama idolanya Duke Ellington. Bahkan, Mingus menjadi satu-satunya musisi yang pernah dipecat Ellington dari big bandnya.
Selanjutnya Mingus berupaya untuk merebut perhatian komunitas jazz. Pada tahun 1952, dia mendirikan perusahaan rekaman Debut Records bersama Roach dan Celia yang kemudian menjadi istrinya. Hingga tahun 1957 perusahaan ini banyak merekam berbagai jenis musik jazz mulai bebop hingga jazz eksperimental. Salah satu produksi Debut Records yang patut dikenang adalah sebuah album Miles Davis dan beberapa sesi solo Mingus yang menonjolkan ide-ide musiknya. Pada tahun 1956, Mingus merilis album Pithecanthropus Erectus , Mingus telah menempatkan diri sebagai penulis lagu dan bandleader handal. Dalam decade 1960-an, Mingus menelurkan karya-karya terbaiknya misalnya album The Key, New Tijuana Moods, Mingus Ah Um, Blues and Roots dan Oh Yeah.
Upaya Mingus untuk keluar dari masalah ekonomi, dan persaingan bisnis musik hampir membuat dia kehilangan akal sehatnya. Bahkan, beberapa baris nada dalam album The Black Saint, ditulis oleh psikiaternya Dr Edmund Pollock. Mingus mengalami sejumlah kegagalan, misalnya menggelar festival jazz sendiri untuk menyaingi festival jazz Newport, konser tunggalnya di Balai Kota New York tahun 1962 yang merugi, bangkrutnya perusahaan rekaman Charles Mingus Records, kegagalan mendapatkan penerbit untuk otobiografinya Beneath the Underdog dan berbagai kegagalan lainnya membuat Mingus tak hanya patah semangat namun juga bangkrut. Dia benar-benar meninggalkan musik antara tahun 1966-1969. Dia pernah tampil pada Juni 1969 hanya karena benar-benar membutuhkan uang.
Kondisi berubah setelah menerima dana dari Guggenheim Fellowship, penerbitan otobiografinya tahun 1971 dan dirilisnya album Let My Children Hear Music membuat kepercayaan dirinya bangkit dan kembali terjun ke dunia musik. Tahun 1974 dia membentuk grup kuintet baru, diperkuat drummer Dannie Richmond bersama Jack Walrath, Don Pullen dan George Adams. Sayangnya, saat ketenaran mulai diperoleh kembali, pada tahun 1977 Mingus didiagnosa menderita penyakit Lou Gehrig dan pada tahun berikutnya dia sudah tak mampu lagi memainkan bass. Namun, meski hanya bisa duduk di kursi roda, Mingus tak kenal menyerah. Dia menerima kehormatan menggelar konser di Gedung Putih pada 18 Juni 1978.
Proyek kolaborasi terakhir Mingus adalah bersama musisi folk-rock Joni Mitchell, yang menulis lirik untuk Mingus dan memasukkan suara Mingus ke dalam rekamannya. Mingus meninggal dunia dalam usia 56 tahun di Cuernavaca, Meksiko saat tengah menjalani perawatan. Jasadnya kemudian dikremasi dan abunya disebarkan di Sungai Gangga, India.



Charlie Parker
(29 Agustus 1920 – 12 Maret 1955). Sebagai pemain saksofon, Charles Parker secara luas dianggap sebagai salah satu musisi jazz paling berpengaruh. Namanya disejajarkan dengan Louis Armstrong dan Duke Ellington. Parker tak diragukan lagi adalah pemain saksofon terhebat sepanjang masa. Dia tak hanya mampu memainkan nada-nada cepat namun juga memainkan nada-nada lembut dengan sama baiknya. Di kalangan musisi dan penggemar jazz, Parker dikenal dengan nama panggilan Yardbird pada masa-masa awal karirnya dan nama panggilan singkatnya, Bird menjadi julukan Parker hingga akhir hayatnya. Julukannya ini juga menjadi inspirasi bagi sejumlah komposisi karya Parker misalnya Yardbird Suite dan Omithology.
Charlie Parker lahir dan besar di Kansas City. Pada awalnya, dia memainkan terompet baritone sebelum beralih ke terompet alto. Parker sangat terpengaruh dengan musik Kansas City yang kaya warna, sehingga dia memutuskan untuk berhenti sekolah pada usia 14 tahun, meskipun pada saat itu kemampuan bermusiknya masih sangat meragukan. Setelah beberapa kali tampil dengan hasil buruk, Parker alias Bird bekerja keras mengasah kemampuannya bermusik. Pada tahun 1937 saat pertama kali dia bergabung dengan Jay McShann Orchestra, kemampuan musiknya sudah meningkat pesat dan sudah diramal bakal menjadi seorang musisi sukses di kemudian hari.
Meski sudah mulai tampil bermusik, nampaknya Parker masih ingin berkembang lebih jauh. Tahun 1939 dia memutuskan pindah ke New York, dan pekerjaan pertamanya di kota besar itu jauh dari musik. Dia menjadi seorang pencuci piring di sebuah klub malam. Meski hanya sebagai pencuci piring, Parker memiliki keuntungan yaitu bisa dengan bebas mendengarkan aksi pianis Art Tatum hampir setiap malam. Debut rekaman pertama Parket terjadi pada tahun 1940 bersama Jay McShann. Selain itu dia juga menghasilkan karya solo yang memikat bersama beberapa musisi Jay McShann misalnya Oh, Lady Be Good dan Honeysuckle Rose.
Saat Jay McShann big band mengunjungi New York pada 1941, Parker sudah menghasilkan sejumlah karya solo dan penampilannya bersama orkestra besar ini memukau sekaligus mengkhawatirkan para musisi lain yang belum siap mendengar ide-ide baru Parker. Meskipun Charlie Parker pernah menghasilkan rekaman dengan Tiny Grimes combo pada tahun 1944, namun kerjasamanya dengan Dizzie Gillespie pada tahun 1945 yang mencengangkan dunia musik jazz. Kedua master jazz ini memainkan nada-nada cepat dalam beberapa lagu baru seperti Groovin’ High, Dizzy Atmosphere, Shaw ‘Nuff, Salt Peanuts dan Hot House.
Sayangnya, Charlie Parker adalah seorang pecandu heroin sejak remaja dan celakanya sejumlah musisi yang mengidolakan Parker juga mengkonsumsi heroin dengan harapan kemampuan musik mereka bisa menyamai sang idola. Saat Gillespie dan Parker, yang dikenal dengan julukan Diz and Bird, datang ke Los Angeles dan berhadapan dengan berbagai jenis kekerasan dan perbedaan, mereka memutuskan kembali ke New York. Namun, Parker menguangkan tiketnya dan memutuskan tinggal di LA. Dan setelah beberapa rekaman dan penampilan, kekurangan konsumsi obat-obatan yang ditutupinya dengan mengkonsumsi minuman keras secara berlebihan, menghasilkan kemerosotan mental berujung perawatan selama enam bulan di rumah sakit Camarillo.
Setelah keluar dari rumah sakit, Januari 1947, parker kemudian kembali ke New york dan terlibat dalam sjumlah penampilan paling penting sepanjang karirnya. Dia memimpin kuintet yang terdiri dari Miiles Davis, Duke Jordan, Tommy potter dan Maz Roach. Puncak ketenaran Parker terjadi pada tahun 1947-1951, selain itu secara rutin dia tampil di Eropa pada 1949-1950.
Namun, Charlie Parker dengan kecanduannya pada obat-obatan terlarang, terlalu senang bermain api. Izin tampilnya dicabut di New York dan akibatnya Parker semakin sulit untuk tampil. Meskipun Parker masih mampu tampil dalam kemampuan terbaiknya seperti saat bersama Dizzie Gillespie di konser Massey Hall tahun 1953, karir Parker tengah menurun tajam. Tahun 1954, dia dua kali mencoba bunuh diri. Setelah itu kesehatannya terus menurun dan pada Maret 1955, Parker meninggal dunia dalam usia 34 tahun. Pada tahun 1988, aktor dan sutradara yang juga penggemar jazz, Clint Eastwood membuat film tentang kehidupan Charlie Parker. Film berjudul Bird itu dibintangi Forest Whitaker yang memerankan sang legenda.











David Warren Brubeck
(6Desember1920) Dave Brubeck adalah seorang pianis yang dianggap sebagai salah satu ikon jazz. Dia telah menciptakan banyak komposisi jazz standard seperti In Your Own Sweet Way dan The Duke. Gaya bermusik Brubeck mencerminkan upaya sang ibu melatih Brubeck dalam musik klasik. Dia juga dikenal dengan kemampuannya yang sangat tinggi dalam berimprovisasi. Brubeck dilahirkan pada 6 Desember 1920.
Brubeck belajar musik di College of the Pacifik pada tahun 1938-1942. Kemudian dia memimpin band angkatan darat untuk pasukan Jendral Patton selama Perang Dunia II. Usai perang, pada tahun 1946 Brubeck kembali menimba ilmu di Mills College dengan bimbingan composer musik klasik Darius Milhaud yang mendorong Brubeck untuk menekuni musik jazz. Dalam kurun waktu 1946-1949, Brubeck memimpin grup yang terutama terdiri dari kawan-kawan kuliahnya dan mereka dikenal sebagai the Dave Brubeck Octet. Karya mereka, yang dirilis tahun 9151, masih enak dinikmati hingga saat ini.
Brubeck kemudian membentuk trio bersama drummer Cal Tjader dan pemain bas Ron Crotty. Mereka bertiga menghasilkan rekaman yang cukup populer di kawasan Bay Area dalam kurun waktu 1949-1951. Namun, trio ini bubar saat Brubeck mengalami cedera punggung setelah berenang dan harus beristirahat total selama enam bulan. Setelah pulih dari cedera, tahun 1951 seorang vokalis alto Paul Desmond mendesak Brubeck untuk membentuk kuartet. Dalam dua tahun, tanpa diduga kuartet ini menjadi cukup terkenal. Penyebabnya adalah suara merdu Desmond dan permainan piano Brubeck yang penuh eksperimen.
The Dave Brubeck Quartet secara teratur melakukan perjalanan tur ke seluruh dunia hingga mereka bubar pada tahun 1967. Setahun kemudian Brubeck kembali ke dunia musik jazz dengan membentuk kelompok kuartet baru dengan menampilkan Gerry Mulligan. Brubeck juga beberapak kali tampil dalam pertunjukan reuni dengan Desmond hingga vokalis itu meninggal dunia tahun 1977. Kemudian Brubeck bergabung dengan ketiga putranya Darius, Chris dan Danny dalam Two Generations of Brubeck era 1970-an. Pada awal decade 1980-an, pemain saksofon tenor Jerry Bergonzi bergabung dalam grup kuartet Brubeck. Dan di pertengahan 1980-an pemainklarinet Bill Smith, yang juga anggota awal octet Brubeck, ikut bergabung bersama vokalis Bobby Miitello.
Atas karirnya yang panjang di dunia musik Dave Brubeck memperoleh sejumlah penghargaan. Tahun 1996 dia menerima Grammy Lifetime Achievement Award. Kemudian dari Universitas Notre Dame dia menerima Laetare Medal, sebuah penghargaan tertinggi dan paling bergengsi untuk warga Amerika penganut Katholik. Pada 8 April 2008, Menteri Luar Negeri AS, Condoleeza Rice menganugerahkan penghargaan Benjamin Franklin for Public Diplomacy. Pemerintah AS menilai, Brubeck telah memberikan harapan, kesempatan dan kebebasan melalui karya-karya musiknya. Sementara itu Gubernur California Arnold Schwarzenegger dan istrinya Maria Shriver memutuskan pada 28 Mei 2008 nama Dave Brubeck masuk ke dalam daftar Calilfornia Hall of Fame di Museum Sejarah, Perempuan dan Seni California.





Earl Kenneth Hines
(28 Desember 1903-22 April 1983)
. Earl Hines adalah satu dari sedikit pianis yang sangat berpengaruh dalam perkembangan musik jazz. Dilahirkan di Duquesne, kawasan pinggiran Pittsburgh, Pennsylvania, pada 28 Desember 1903. Ayahnya adalah pemain terompet dan pimpinan Pittsburgh’s Eureka Brass Band dan ibu tirinya adalah pemain organ gereja. Pada awalnya, Earl mengikuti jejak ayahnya dan mencoba untuk menjadi pemain terompet. Namun, ternyata meniup terompet membuat telinganya sakit dan rasa sakit itu tidak dideritanya saat bermain piano, akhirnya diapun memilih piano. Earl lalu belajar piano klasik dan bermain organ di gereja Baptis di kawasan tempat tinggalnya. Earl mengklaim dia memainkan piano di sekitar Pittsburgh bahkan sebelum kata jazz ditemukan.
Awal karir musiknya dimulai saat dia memutuskan untuk bergabung dengan Lois Deppe & His Serenaders di klub malam terkenal Pittsburgh, Liederhaus. Deppe saat itu dikenal sebagai seorang penyanyi lagu-lagu klasik dan populer. Saat itu Hines baru berusia 17 tahun. Dia merekrut Hines dalam perjalanan konsernya ke New York. Rekaman pertama Hines bersama band ini adalah di bawah label Gennett Records pada tahun 1923. Namun dari empat rekaman, hanya dua yang dirilis dan hanya satu single yang merupakan komposisi karya Hines Congaine yang muncul dalam dua rekaman itu. Hines kembali masuk dapur rekaman dengan Deppe sebulan kemudian, untuk merekam lagu-lagu rohani dan pop.
Tahun 1925, Hines pindah ke Chicago yang saat itu dikenal sebagai ibukota musik jazz, yang juga merupakan kota asal para legenda jazz Roll Morton dan King Oliver. Di Chicago, Hines bermain piano dengan Carroll Dickerson’s band dan di Persatuan Musisi Chicago, Hines bertemua dengan Louis Armstrong. Kemudian keduanya menjadi teman karib dan bermain bersama dengan kelompok musik Dickerson di Sunset Café. Tahun 1927, band ini kemudian menjadi Louis Armstrong Band dan Hines menjadi pengarah musiknya. Armstrong sangat terpukau dengan permainan gaya terompet Hines yang luar biasa.
Di tahun yang sama, Armstrong bersama Louis Armstrong Hot Five masuk dapur rekaman di bawah label Okeh Records dan hebatnya, posisi istri Armstrong, Lili Hardin sebagai pianis digeser oleh Hines. Kemudian Armstrong dan Hines memproduksi banyak rekaman yang sering dianggap bagian dari rekaman jazz paling penting sepanjang sejarah. Rekaman mereka yang paling terkenal adalah duet terompet dan piano Weatherbird yang dirilis tahun 1928. Di tahun yang sama, Hines juga memproduksi 14 rekaman solo. Setelah Sunset Club tutup, Armstrong dan penabuh drum Zutty Singleton bermain di klub baru Savoy Ballroom, sementara Hines bermain di New York. Saat kembali ke Chicago, Hines bergabung dengan Jimmie Noone’s band di Apex Club.
Pada usianya yang ke-25, Hines mulai memimpin big bandnya sendiri. Selama 11 tahun, kelompok bandnya bermain di The Grand Terrace Café milik tokoh criminal terkenal, Al Capone. Bahkan, Hines adalah pianis kesayangan Al Capone. Tak hanya bermain di Café, The Earl Hines Big Band dengan 28 anggotanya sibuk membuat rekaman untuk berbagai perusahaan rekaman antara tahun 1929 hingga 1939. Kesibukan ini terhenti saat industri rekaman melakukan mogok massal antara tahun 1942-1945. Earl Hines dan big bandnya juga sering melakukan tur ke seluruh penjuru Amerika saat itu.
Pada awal tahun 1949, Hines kembali bergabung dengan Armstrong dan bandnya All Stars. Meski tak terlalu bahagia, Hines bergabung bersama All Stars hingga 1951. Selanjutnya Hines membentuk band sendiri dan melakukan tur keliling Amerika dan Eropa. Namun, di saat jazz mulai naik daun di era 1960-an, Hines merasa sudah cukup tua untuk pension dan memulai bisnis tembakau di Oakland, California. Nampaknya dia sudah benar-benar akan meninggalkan profesinya sebagai musisi.
Di tahun 1964, Hines ‘ditemukan’ kembali oleh kawan lama dan manager tak resminya Stanley Dance, setelah melakukan sejumlah recital di The Little Theatre, New York. Dan itu adalah recital pertama yang pernah dilakukan Hines yang selalu menganggap dirinya adalah pemain piano biasa saja. Resital itu ternyata menciptakan sebuah sensasi besar. Harian The New York Times sampai menulis “Tak ada yang harus didengarkan lagi, setelah Anda mendengar Earl Hines”. Kemudian Hines memenangkan International Critics Poll tahun 1966 yang digelar majalah Down Beat. Majalah itu juga mendaulat Hines sebagai pianis jazz nomor 1 tahun 1966 dan lima tahun berikutnya berturut-turut. Kemudian Jazz Journal menganugerahi rekaman Hines sebagai yang terbaik dan menjadi urutuan pertama kategori pianis. Sementara majalah Jazz, memilih Hines sebagai musisi Jazz terbaik tahun 1966.









John William Coltrane
(23 September 1926 – 17 Juli 1967)
. John Coltrane lahir dan besar di Carolina Utara, sebelum pindah ke Philadelphia tahun 1943. Dua tahun kemudian dia mendaftarkan diri masuk Angkatan Laut AS dan bermain musik di band Angkatan Laut. Hanya setahun bertahan di militer, Coltrane kembali ke kehidupan sipil dan mulai mempelajari jazz dari gitaris dan composer kenamaan Philadelphia, Dennis Sandole hingga awal 1950-an.
Pada tahun 1946, Coltrane sebenarnya sudah menghasilkan sejumlah rekaman meski masih dianggap sebagai musisi muda biasa saja. Meski demikian, Coltrane sempat bergabung bersama nama-nama besar misalnya Dizzy Gillespie, Earl Bostic dan Johnny Hodges pada awal 1950-an. Karir professional baru benar-benar berkembang antara tahun 1955-1967, saat itulah dia mengembangkan modern jazz dan mempengaruhi para musisi generasi berikutnya.
Meski karir Coltrane terbilang singkat, dia pertama kali muncul sebagai musisi pendamping pada usia 29 tahun, bersolo karir pada usia 33 tahun dan meninggal pada usia 40 tahun, sebagai seorang pemain saksofon John Coltrane termasuk tokoh jazz paling penting sekaligus paling kontroversial. Nampaknya aneh dalam karirnya yang singkat, Coltrane bisa menghasilkan banyak album. Hal itu tak mengherankan karena selain Coltrane sendiri banyak menelurkan album, perusahaan-perusaahan rekaman banyak merekam ulang album-album lamanya saat nama Coltrane sudah menjulang.
Banyak pertanyaan muncul seputar gaya bermusik Coltrane, karena dia kerap berganti gaya sepanjang karirnya. Para kritikus musik lebih memilih gaya Coltrane ada di antara gaya konvensional dan eksperimental. Meski demikian, tak ada yang mempertanyakan komitmen Coltrane terhadap musik khususnya jazz.
Bakat Coltrane meniup saksofon sudah terlihat sejak awal. Setelah sempat belajar musik di Granoff Studios dan Ornstein School of Music di Philadelphia, dia kemudian bergabung dengan band-band local yang manggung di kafe dan klub. Setelah bergabung dengan Angkatan Laut selama satu tahun, Coltrane kemudian menjadi anggota band pimpinan Eddie Vinson dan memainkan tenor saksofon. Namun, dia juga mendengarkan permainan para sksofonis jazz ternama baik tenor maupun alto seperti Charlile Parker, Ben Webster, Coleman Hawkins, Lester Young dan Tab Smith. Setelah satu tahun bergabung bersama Vinson, kemudian Coltrane menjadi anggota Dizzy Gillespie band selama empat tahun.Dekade 1950-an, berkembanglah modern jazz yang ditandai kemunculan nama-nama seperti Miles Davis dan Thelonius Monk.
Coltrane sempat bergabung bersama mereka dan memainkan horn. Monk bahkan sempat mengajari Coltrane sejumlah teknik yang menambah kemampuannya dalam memainkan saksofon. Permainan Coltrane dapat didengar dalam album terkenal Miles Davis, Kind of Blue. Pada era 1960-an, Coltrane membentuk grup kuartet sendiri bersama pianis McCoy Tiner , drummer Elvin Jones dan bassis Jimmy Garrison yang semuanya – sama seperti Coltrane – sangat gemar mengembangkan kebebasan dalam bermusik. Akhirnya, Coltrane benar-benar membebaskan dirinya mengembangkan musik sesuka hati dan hasil karya terbaiknya antara lain My Favorite Things, yang merupakan variasi mengejutkan berdasarkan karya Richard Rogers dalam Sound of Music.
Sayangnya, karir hebat Coltrane berakhir cepat. Dia meninggal dunia di Rumah Sakit Huntington, Long Island, New York pada 17 Juli 1967 dalam usia 40 tahun akibat menderita kanker hati. Penulis biografi Lewis Porter mengatakan hal yang controversial soal penyebab kematian Coltrane. Dia mengatakan penyebab penyakit yang menyebabkan kematian Coltrane ebrawal dari hepatitis yang diperolehnya dari kebiasaannya mengkonsumsi heroin. Dalam wawancaranya, seorang saksofonis jazz Albert Ayler mengklaim bahwa Coltrane lebih memilih terapi meditasi ala Hindu untuk menyembuhkan penyakitnya dari pada pengobatan konvensional ala barat, meskipun sang istri Alice Coltrane membantah hal ini.
Keluarga Coltrane dikabarkan masih memegang hak atas sejumlah karya Coltrane yang belum dirilis, sebagian besar berupa rekaman saksofon mono. Pada tahun 1995, berbarengan dengan rilis album Stellar Regions, master rekaman itu dibawa ke studio dan tidak pernah ditemukan kembali. Untuk karir panjangnya, Coltrane menerima penghargaan Special Citation dari Pulitzer Prize Board tahun 2007. Penghargaan ini diberikan untuk kemampuan improvisasi, daya bermusik yang hebat dan menjadi ikon dalam sejarah jazz. Selain itu, gereja The Saint John Coltrane African Orthodox di San Fracisco mengambil nama sang musisi sebagai nama gereja itu. Bahkan komunitas Otodox Afrika sudah menganugerahi gelar santo atau orang suci bagi John Coltrane sejak tahun 1971.











Miles Dewey Davis
(26 Mei 1926 – 28 September 1991)
.
Dalam sejarah musik Jazz, Miles Davis dianggap lebih dari sekadar musisi, dia adalah sebuah ikon budaya. Miles Davis sangat dikenal bahkan oleh orang yang tak bisa membedakan antara bebop dan fusion. Kondisi ini mungkin terlihat aneh karena Miles Davis memulai karirnya tanpa keinginan untuk meraih pujian atau penggemar. Davis dikenal luas sebagai musisi paling berpengaruh di abad ke-20.
Davis hampir selalu terlibat dalam semua perkembangan jazz sejak masa Perang Dunia II hingga decade 1990-an. Dia tampil dalam berbagai rekaman musik bebop dan merekam salah satu album pertama cool jazz. Dia juga memiliki peran dalam perkembangan hard bop dan modal jazz. Bersama sejumlah musisi jazz lain, Davis juga mengembangkan jazz-funk dan jazz fusion pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Dan album terkakhirnya merupakan campuran antara jazz dan rap. Banyak musisi jazz yang meroket karirnya setelah bergabung dengan band pimpinan Miles Davis antara lain pianis Joe Zawinul, Chick Corea, Herbie Hancock, pemain saksofon John Coltrane dan Kenny Garrett, drummer Tony Williams dan gitaris John McLaughlin.
Miles Davis lagir di Alton, Illinois, 26 Mei 1926 namun dia tumbuh besar di St Loius timur di tengah keluarga menengah. Sejak duduk di bangku SMA, Davis sudah rutin bermain band tak hanya bersama band sekolah namun juga dengan beberapa band local. Dia dengan cepat terpukau dengan jazz, terutama dengan karya-karya Charlie Parker dan Dizzy Gillespie. Ayahnya kemudian mengirim Davis ke Juliard untuk belajar musik namun Davis tak menghabiskan waktunya di sana. Dia memilih untuk berhenti sekolah demi bergabung dengan kuintet Charlie Parker pada 1946-1948. Saat itu membuktikan, Miles Davis belum mampu mengimbangi kemampuan Charlie Parker. Namun, dia bekerja keras dan akhirnya mampu membuktikan kemampuan bermusiknya.
Kemudian Miles bergabung dengan sebuah grup yang mengerjakan jenis musik yang benar-benar berbeda. Band ini terdiri atas JJ Johnson, Lee Konitz,. Gerry Mulligan, John Lewis dan Max Roach, yang semuanya adalah musisi bebop handal. Para musisi ini mengembangkan gaya yang jaug lebih tenang dan rileks yang ternyata cocok dengan gaya musik Miles Davis. Aransemen yang diciptakan Lewis, Mulligan John Carisi dan Gil Evans ternyata memberi gaya unik bagi grupn ini. Davis kemudian menjadi wakil pimpinan grup dan pada saat itulah komposisi klasik Birth of the Cool dihasilkan.
Pada awal decade 1950-an adalah masa-masa sulit untuk Miles Davis, terkait ketergantungannya pada heroin dan dia adalah seorang musisi yang tidak menyenangkan saat itu. Pada pertengahan 1950-an, dengan kerja dan kemauan keras, dia terbebas dari kecanduan heroin dan mulai membentuk kuintet pertamanya yang beranggotakan Miles Davis, John Coltrane, Red Garland, Paul Chambers, dan Philly Joe Jones. Kuintet ini dengan cepat menjadi populer dan merekam sejumlah album terkenal untuk perusahaan rekaman Prestige antara lain Cookin’, Stemanin’, Workin’ and Relaxin’. Saat kuintet ini bubar, Miles Davis sempat berkolaborasi dengan penggubah musik Gil Evans dan menghasilkan album-album hebat yaitu Porgy and Bess dan Sketches of Spain. Dia mengakhiri decade 1950-an dengan menghasilkan salah satu album jazz terbaik sepanjang masa yaitu Kind of Blue bersama John Coltrane, Julian ‘Cannonball’ Adderley, Bill Evans, Paul Chambers dan Philly Joe Jones.
Pada decade 1960-an, Miles Davis membentuk kelompok kuintet baru kali ini beranggotakan Wayne Shorter, Herbie Hancock, Tony Williams dan Ron Carter. Musik kelompok ini begitu kompleks, mulai dari post-bop ekesperimental modal jazz hingga free jazz.. Para penggemar Miles Davis agaknya kebingungan dengan gaya band ini. Namun, para kritikus memuji inovasi Miles Davis dan banyak pemusik yang tertarik dengan gaya baru ini. Hasil kuintet ini baru-baru ini dikompilasi dalam bentuk 6 buah piringan berjudul The Complete Columbia Studio Recordings, 1965-1968.
Dekade 70-an dimulai. Dan sebagai musisi, Miles Davis sadar musik rock perlahan mulai menggantikan jazz sebagai musik pilihan kaum muda. Agar tak semakin ketinggalan, Miles Davis mulai menggunakan peralatan musik elektrik dalam penampilannya. Perubahan ini tak ayal semakin membatasi penggemar jazz dan menghasilkan kritik tajam. Namun, tak bisa diingkari kekuatan musik Miles Davis bisa menembus pasar komersial. Album Bitches Brew saat dirilis tahun 1970 terjual 400.000 kopi dan tercatat sebagai album jazz terlaris sepanjang masa. Dalam album ini Miles Daviz menggaet Chick Corea, Herbie Hancock, John McLaughlin dan musisi lain yang kemudian menjadi musisi utama dalam perkembangan fusion. Miles Davis masih terus tampil di panggung dan masuk dapur rekaman sepanjang 1970-1980-an. Sepanjang masa ini, dia terus tampil dengan band-band elektronik, sering memainkan organ ketimbang terompetnya dan tampil memunggungi penonton.
Miles Davis meninggal dunia 28 September 1991 di Santa Monica, Calilfornia dalam usia 65 tahun. Sebelumnya dia menderita komplikasi stroke, pneumonia dan gagal saluran pernafasan. Jasadnya dikebumikan di Pemakaman Woodlawn, Bronx, New York. Setahun sebelum meninggal, Miles Davis dianugerahi Grammy Lifetime Achievement Award. Dan pada 13 Maret 2006, nama Miles Davis diabadikan dalam Rock and Roll Hall of Fame meski dia adalah seorang musisi jazz. Sebelumnya, namanya juga diabadikan di St Louis Walk of Fame, Big Band and Jazz Hall of Fame dan Down Beat’s Jazz Hall of Fame.


Thomas Wright Waller
(21 Mei 1904 – 15 Desember 1943)
Pianis yang lebih dikenal dengan nama Fats Waller ini dalam sejarah musi jazz dikenal sebagai pianis stride ternama. Waller adalah salah satu musisi terkenal di jamannya, dia meraih kesuksesan baik komersial maupun kritik di Amerika Serikat maupun di Eropa. Waller juga penulis lagu handal. Banyak lagu karyanya maupun yang diciptakan bersama orang lain masih dikenal hingga kini, misalnya Honeysuckle Rose, Ain’t Misbehavin dan Squeeze Me. Di kalangan para pianis Waller dikenal sebagai ‘Horowitz hitam’ karena kemampuan Waller selalu disetarakan dengan pianis Rusia kenamaan Vladimir Horowitz.
Fats Waller lahir di Harlem tahun 1904 dari keluarga musisi. Kakeknya adalah seorang pemain biola dan ibunya adalah pemain organ gereja. Sedangkan ayahnya adalah pendeta di Gereja Baptis Abbisinia, Harlem. Persentuhan pertamanya dengan musik adalah dengan lagu-lagu gereja dan suara organ yang mengiringi lagu-lagu gereja itu. Bahkan, ibu Waller sudah mengajarinya bagaimana cara memainkan organ. Waller juga dikenalkan pada karya-karya klasik Johan Sebastian bach oleh pengarah musik gerejanya.
Saat Waller berusia 6 atau 7 tahun, Waller sangat suka memainkan piano milik tetangganya. Melihat bakat terpendam putranya, ibu Waller kemudian menyewa seorang guru piano untuk melatih putranya. Waller kemudian belajar membaca not dan menulis lagu dari sang guru piano. Namun, sang guru justru menganjurkan agar Waller lebih mengandalkan telinganya dalam belajar musik. Dalam usia 14 tahun Waller memenangkan kontes pencarian bakat setelah memainkan lagu Carolina Shout karya James P Johnson. Hebatnya, Waller mempelajari lagi ini hanya dengan melihat seorang pianis yang tengah memainkan lagu itu.
Tahun 1918, Waller meninggalkan sekolah dan melakukan berbagai pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan bakat pianonya. Tahun 1919, dia mendapat pekerjaan untuk memainkan organ mengiringi pemutaran film-film bisu di sebuah bioskop. Ayahnya ingin agar Waller meneruskan jejaknya sebagai pendeta namun ternyata Waller lebih memilih mengejar karir di dunia musik. Perbedaan ini semakin kentara setelah ibunya meninggal dunia pada tahun 1920. Saat itu Waller memutuskan untuk pindah dari rumah orang tuanya dan memilih tinggal dengan keluarga pianis Russel Brook. Di sinilah dia bertemu dengan James P Johnson dan Willie ‘ The Lion’ Smith, dua pianis ternama di Harlem saat itu.
James P Johnson kemudian membawa Waller dan mendidik dia cara memainkan piano dan meningkatkan kemampuan musiknya secara nyata. Willie Smith memiliki pengaruh terhadap karir musik Waller. Smithlah yang memperkenalkan Waller pada karya-karya para musisi impresionis abad ke-19. Pada tahun 1921, Waller disewa untuk memainkan organ di sebuah bioskop film-film bisu dengan upah $50 sepekan. Setahun kemudian, Waller sudah masuk dapur rekaman di bawah label Okeh Records. Tahun 1923, Waller merekam beberapa permainan piano untuk QRS. Dalam empat tahun selanjutnya, dia merekam banyak album dengan RCA Victor dan menjadi sangat terkenal.
Ada sebuah cerita mengenai Fats Waller. PAda suatu malam di tahun 1926 setelah selesai manggung, Waller diculik para mafia dan dipaksa untuk tampil dalam ulang tahun Al Capone. Pada tahun 1927, Waller kembali masuk dapur rekaman bersama Flatcher Henderson Orkestra dan pada tahun berikutnya dia menjalani debutnya di Carnegie Hall. Tahun 1927, Waller bertemu dengan penulis puisi Andy Razaf dan mereka berdua kemudian bekerja sama menulis lagu-lagu populer seperti Hot Chocolates dan Ain’t Misbehavin yang kemudian menghadirkan kesuksesan baik komersial maupun pujian dari para kritikus untuk Fats Waller.
Tahun 1931, Fats Waller menggelar tur ke Paris dan pada saat kembali ke New york dia membentuk band combo Fats Waller and His Rhythms. Bersama band inilah Fats Waller menggelar show dan masuk dapur rekaman hingga kematiannya. Dia sudah merekam ratusan piringan hitam bersama RCA, dia juga tampil di radio dan membintangi beberapa film. Pada pertengahan 1930-an, Fats Waller secara rutin tampil di kawasan pantai barat Amerika Serikat dan pada tahun 1938 kembali ke Eropa kali ini untuk menggelar tur di Inggris. Pecahnya perang Eropa tahun 1939 memaksanya untuk kembali ke Amerika Serikat. Di kampong halamannya, Fats Waller masih tampil sekali lagi di Carnegie Hall dan melakukan tur Amerika terutama di kawasan pantai barat.
Pada tahun 1943, Waller membintangi film Stormy Weather dan dalam bulan Desember tahun yang sama saat tampil di Zanzibar Room, Hollywood, dia menderita influenza. Akibatnya dia harus memperpendek jadwal penampilannya. Perpaduan antara bertahun-tahun menjadi peminum berat, bekerja terlalu keras dan obesitas menjadi penyeban utama kematiannya dan influenza berat yang dideritanya mengakibatkan Waller menderita sejumlah penyakit lainnya. Pada 15 Desember 1943, saat menumpang kereta api menuju ke New York, Thomas ‘Fats’ Waller meninggal dunia dekat Kansas City akibat pneumonia. Pada tahun 1993, Fats Waller diganjar penghargaan Prestasi Seumur Hidup Grammy Award.





Edward Kennedy “Duke” Ellington
(29 April 1899 - 24 Mei 1974)
Sebagai musisi, Duke Ellington dikenal sebagai salah satu tokoh jazz paling berpengaruh di Amerika Serikat. Dia adalah salah satu musisi kulit hitam paling terkenal di abad ke-20. Selain menghasilkan banyak rekaman, Ellington juga membintangi beberapa film. Ellington dan kelompok orkestranya secara rutin melakukan tur di Amerika Serikat dan Eropa sebelum dan sesudah Perang Dunia II. Reputasinya semakin tinggi setelah kematiannya. Dia menerima berbagai penghargaan salah satunya penghargaan khusus dari Pulitzer Prize Board.
Duke Ellington lahir pada 29 April 1899 di Washington DC. Kedua orang tuanya James Edward Ellington dan Daisy Kennedy Ellington dikenal sebagai pemain piano. Dari kedua orang tuanya inilah, Duke mewarisi bakat bermusiknya. Pada usia tujuh tahun, Duke mulai belajar piano. Meski mulai belajar piano, pada awalnya Duke lebih tertarik pada baseball ketimbang musik. ”Presiden Roosevelt sesekali datang menunggangi kudanya dan berhenti untuk melihat kami bermain baseball,”kenang Duke suatu ketika.
Saat remaja, Duke menjalani pekerjaan pertamanya sebagi penjual kacang, pada saat pertandingan baseball klub Washington Senators. Beberapa pekerjaan berikutnya juga tak satupun yang bersinggungan dengan musik. Namun, bakatnya bermusik tidak hilang. Pada tahun 1914, saat Duke bekerja sebagai pengaduk soda di kafe Poodle Dog, dia menulis komposisi pertamanya yang berjudul Soda Fountain Rag yang juga dikenal dengan judul Poodle Dog Rag. Saat itu, Duke menciptakan komposisi ini dengan ‘telinga’ sebab dia belum pernah belajar menulis lagu.
Dalam otobiografinya, Music is my Mistress (1973) Duke mengatakan pada awalnya dia menganggap dirinya tak berbakan memainkan piano, sehingga dia tidak terlalu antusias belajar piano. Setelah beberapa waktu, kondisi itu berubah. Pada usia 14 tahun Duke sering menyelinap ke Frank Holiday’s Poolroom dan di sana dia mendengar sejumlah musisi bermain piano. Inilah yang kemudian menumbuhkan minatnya terhadap piano dan mulai belajar piano lebih serius.
Duke kemudian mulai melihat dan meniru gaya para pianis ragtime, tak hanya di Washington DC, tapi juga hingga ke Philadelphia dan Antlantic City saat dia berlibur dengan ibunya. Guru musik SMU Dunbar, Henry Lee Grant bahkan memberinya les privat soal harmonisasi musik. Dengan bimbingan tambahan dari pianis terkenal asal Washington, Oliver ‘Doc’ Perry, Duke mulai belajar membaca partitur, menampilkan gaya professional dan meningkatkan tekniknya.
Duke juga terinspirasi dengan pertemuannya dengan James P Robinson dan Luckey Roberts, para legenda jazz masa itu. Selanjutnya Duke mulai manggung di berbagai kafe dan klub malam di sekitar Washington DC dan mulai menyadari bahwa dirinya ternyata sangat mencintai musik. Kecintaannya terhadap musik semakin besar sehingga dia berani menolak beasiswa seni di Institut Pratt, Brooklyn pada tahun 1916. Dia bahkan keluar dari Amstrong Manual Training School tempat dia mempelajari seni komersial.
Antara tahun 1917 dan 1919, Duke memulai karir musiknya, meski bisa dikatakan masih sebagai musisi paruh waktu. Di siang hari dia berprofesi sebagai perancang gambar-gambar iklan dan di malam hari dia bermain piano. Dia juga bekerja sebagai pengantar surat untuk Angkatan Laut AS dan Departemen Dalam Negeri. Duke benar-bernar terjun ke bisnis musik pada akhir 1917 dan membentuk band pertamanya, The Duke Serenaders. Dalam grup ini, Duke juga berperan sebagai agen. Aksi panggung pertamanya dengan The Duke Serenaders adalah di True Reformers Hall dan saat itu dia dibayar 75 sen dollar.
Selanjutnya, Duke manggung hampir di seantero Washington DC dan mulai menembus pesta-pesta pribadi dan acara-acara kedutaan besar di sekitar Virginia. Penampilan The Duke Serenaders ternyata tak hanya memukau komunitas kulit hitam tapi juga warga kulit putih, sebuah hal yang sangat langka di saat rasialisme warna kulit masih sangat kental di Amerika Serikat. Karir Duke Ellington terus meroket sehingga dia akhirnya merasa sudah saatnya menikahi kekasihnya sejak SMU, Edna Thompson pada tahun 1918. Pasangan ini dikaruniai putra semata wayang Mercer Kennedy Ellington yang setelah kematian Duke memimpin orkestra yang didirikan sang ayah.
Sepanjang hidupnya, Duke Ellington memperoleh banyak penghargaan. Antara lain Grammy Lifetime Achievement Award 1966. Antara tahun 1959-1999, Duke mengoleksi 12 Grammy Award, 9 album dan singlenya masuk dalam Grammy Hall of Fame Award dan berbagai penghargaan musik lainnya. Selain itu, Duke juga memperoleh sejumlah penghargaan dari pemerintah misalnya Presidential Medal of Honor dari Pemerintah AS tahun 1969 dan Legion of Honor dari Pemerintah Prancis 1973.
Duke Ellington meninggal dunia pada 24 Mei 1974 karena penyakit kanker paru-paru dan pneumonia, sebulan setelah ulang tahunnya ke-75. Upacara pemakamannya di Katedral St John the Divine dihadiri 12.000 orang. Duke Ellington dimakamkan di pemakaman Woodlawn, Bronx, New York.















Herman Poole Blount “Sun Ra”
(22 Mei 1914 – 30 Mei 1993)
M
usisi yang terlahir dengan nama Herman Poole Blount ini dikenal sebagai composer jazz, pianis, dan pemain synthesizer, penulis puisi dan filsuf. Dia dikenal dengan filosofi kosmik, komposisi musik dan gaya panggungnya. Sebagian kritikus musik menganggap Sun Ra adalah musisi jazz paling kontroversial. Sun Ra memang nyentrik, dia mengklaim dirinya merupakan bagian dari ras malaikat yang berasal dari planet Saturnus. Sun Ra juga mengembangkan filosofi kosmik dan lirik-lirik puitis yang membuatnya sebagai pelopor aliran afrofuturism, di mana dia selalu mengingatkan bahwa perdamaian di atas segalanya.
Dia membuang nama kelahirannya dan mengubah namanya menjadi Sun Ra. Dalam mitologi Mesir Kuno, Ra adalah Dewa Matahari. Dia juga menggunakan beberapa nama lain misalnya Le Sonra dan Sonny Lee. Sun Ra selalu mengingkari semua hubungan dengan nama kelahirannya dengan berkata “Blunt adalah manusia imajiner tak pernah eksis. Semua nama yang saya gunaka selain Ra adalah nama samaran.”
Sun Ra boleh saja mengaku berasal dari Saturnus. Namun, sebagai manusia Bumi dia lahir di Alabama tahun 1914 sebagai Herman ‘Sunny’ Blount. Kemunculan Blount alias Sun Ra alias Tuan Misteri pertama kali saat dia menjadi pianis Fletcher Henderson band dan hingga akhir hidupnya Sun Ra tetap diakui sebagai musisi jenius dnegan gaya ekstra galaktiknya.
Meski bergaya controversial, Sun Ra adalah seorang innovator besar. Dia sudah memimpin band sendiri pada 1934. Selain itu dia juga menjalani berbagai profesi secara paruh waktu di kawasan barat tengah Amerika Serikat, bekerja sebagai pianis dan pencipta lagu untuk Fletncher Henderson pada 1946-1947. Sun Ra juga muncul dalam beberapa rekaman pada awal 1948 namun baru benar-benar menghasilkan rekaman pada 1953. Dia memimpin sebuah big band, yang dia sebut Arkestra di Chicago. Di sana Ra mencoba memainkan advanced bop, namun tetap terbuka pada pengaruh berbagai budaya, bereksperimen dengan keyboard elektrik.
Setelah pindah ke New York pada 1961, Ra menggelar beberapa karyanya. Pada tahun 1970 dia memindahkan Arkestranya ke Philadelphia dan dalam beberapa tahun selanjutnya dia memilih untuk menciptakan improvisasi bebas dengan nada-nada mistik dan melodi swing yang eksentrik. Sebagian besar rekan-rekan terpentingnya datang dan pergi selama puluhan tahun karir Sun Ra misalnya Marshall Allen dan Pat Patrick. Banyak inovasi Sun Ra yang hingga kini dianggap penting misalnya Ra adalah musisi jazz pertama yang memakai dua bass, menggunakan bass elektrik, memainkan keyboard dan menggunakan banyak perkusi. Dia juga memproklamirkan bahwa jazz berasal dari Afrika danmemasukkan dimensi mistik dan spiritual ke dalam musiknya.

















John Birks ‘Dizzie’ Gillespie
(21 Oktober 1917- 6 Januari 1993)
D
izzie lahir di Cheraw, Carolina Selatan dan merupakan bungsu dari sembilan bersaudara. Ayahnya adalah seorang pemimpin band local, sehingga Dizzie sudah mengenal musik sejak masa kanak-kanaknya, dia sudah belajar memiankan piano pada usia 4 tahun. Sosok Dizzie Gillespie bersama Charlie Parker dikenal sebagai legenda perkembangan aliran bebop dan modern jazz. Selain itu, Dizzie juga dikenal sebagai salah satu pemain terompet terbaik dalam sejarah musik jazz, bahkan beberapa kritikus menganggap dia adalah yang terbaik.
Selain belajar piano, ayah Dizzie, John Birks Gillespie sudah mengenalkan trombone padanya sejak kecil. Pada usia 12 tahun, Dizzie memilih terompet sebagai spesialisasinya. Meski ayahnya adalah pemimpin kelompok band local, Dizzie tumbuh dalam kemiskinan. Dia memperoleh bea siswa untuk melanjutkan studi ke sebuah sekolah pertanian namun pada tahun 1935 dia keluar dari sekolah itu dan memilih menjadi musisi. Dalam perjalanan kariernya, Dizzie sangat terpengaruh Roy Eldridge.
Pada tahun 1937 dia bergabung dengan orkestra Teddy Hill danmenempati posisi yang ditinggalkan idolanya Roy Eldridge. Bersama orkestra ini juga Dizzie memperoleh kesempatan pertama masuk dapur rekaman dan mencicipi tur ke Eropa. Setelah sempat menjadi musisi freelance selama setahun, Dizzie kemudian bergabung dengan orkestra Cab Calloway pada tahun 1939-1941. Bersama band ini, Dizzie memiliki banyak kesempatan melakukan rekaman dan semakin mengasah kemampuannya. Penampilannya dalam komposisi Pickin’ the Cabbage menunjukkan dia semakin lepas dari baying-bayang Roy Eldridge.
Dizzie juga merupakan salah satu pencipta gaya Afro-Kuba atau Latin Jazz. Dia menambahkan konga ke dalam orkestranya pada tahun 1947. Sebagai salah satu pemimpin band terbaik dalam sejarah jazz, Dizzie memiliki kelebihan disbanding musisi lain di era bop. Dia berhasil menciptakan musik yang mudah dimengerti dan dinikmati para penggemar jazz. Tak hanya itu, sebagai seorang entertainer, penampilan Dizzie di atas panggung sangat luar biasa. Dia bisa menyanyi dan terkadang memainkan beberapa perkusi khas musik Latin. Namun, kemampuan luar biasanya dalam meniup terompet yang menempatkan Dizzie sebagai salah satu legenda jazz.
Ciri khas lain Dizzie adalah terompetnya bengkok 45 derajat. Menurut otobiografinya, bentuk terompet yang bengkok itu adalah akibat sebuah kecelakaan pada tahun 1953. Meski secara fisik rusak, namun terompet itu malah menghasilkan suara unik yang disukai Dizzie. Penulis biografi Dizzie, Alyn Shipton menulis nampaknya Dizzie memperoleh ide ini setelah melihat instrument serupa di Manchester, Inggris pada 1953 saat menggelar tur dengan orkestra Teddy Hill. Saat itu, Dizzie melihat seorang pemain terompet Inggris menggunakan terompet serupa. Ketika itu, Dizzie bahkan berkesempatan mencoba terompet itu dan dari pengalaman tersebut dia mampu menciptakan gaya sejenis yang cocok untuk dirinya. Pada tahun 1954, dibuatlah sebuah terompet khusus baginya dan kemudian menjadi cirri khas Dizzie Gillespie.
Dizzie Gillespie meninggal dunia pada 6 Januari 1993 dalam usia 75 tahun akibat kanker pancreas dan dimakamkan di pemakaman Queens, New York. Upacara pemakaman Dizzie dilakukan dua kali. Pertama dilakukan dengan tata cara agama Baha’I yang dianutnya dan hanya dihadiri keluarga serta kerabat dekat. Upacara kedua dilakukan di Katedrak St John the Divine, New York dan terbuka untuk umum.










William ‘Count’ Basie
(21 Agustus 1904 – 26 April 1984)
W
illiam Bassie belajar musik sejak kecil dari ibunya, dan memainkan piano sejak masa kanak-kanak. Mempelajari dasar-dasar piano gaya ragtime dari beberapa musisi dan pianis Harlem, dan mempelajari cara bermain organ secara informal dari Fats Waller.
Debut professional Bassie adalah saat menggantikan Fats Waller, dalam sebuah pertunjukan berjudul Katie Crippen and Her Kids. Selain itu, Bassie juga bekerja dengan June Clark dan Sonny Greer, yang di kemudian hari menjadi penabuh drum untuk Duke Ellington.
Soal Sonny Greer, Bassie, meski secara alami memiliki bakat sebagai pianis, namun sebenarnya dia lebih suka memainkan drum. Saat melihat kemampuan Sonny Greer yang jauh lebih hebat dalam urusan menabuh drum, Bassie seakan menjadi ‘minder’ dan akhirnya sejak berusia 15 tahun memilih piano menjadi instrument spesialisnya.
Saat Bassie menjalani tur ke Kansas City bersama kelompok musik Gonzel White, dia mengalami musibah. Peralatan panggung kelompok ini tiba-tiba rusak, dan dia ‘terjebak’ di kota itu. Akibatnya, untuk sementara waktu, Bassie bekerja sebagai pengiring musik untuk sebuah bioskop film-film bisu.
Pada tahun 1928, Bassie pindah ke kota Tulsa dan mendengar bahwa salah satu big band tersohor saat itu, Walter Page & His Famous Blue Devils, dengan vokalis terkenal, Jimmy Rushing, tengah manggung di kota itu. Beberapa bulan kemudian, Bassie diajak bergabung dengan big band ini, yang kerap manggung di Texas dan Oklahoma. Saat itulah, untuk kali bertama kalinya, William Bassie mendapatkan panggilan Count Bassie.
Suatu hari, seorang produser musik-musik jazz John Hammond mendengarkan penampilan Count Bassie di radio. Kemudian, dia memutuskan band ini harus tampil di New York. Hammond bahkan rela membantu secara financial untuk mengembangkan band ini sebelum diberangkatkan ke New York, pada tahun 1936. Hammond menjadikan Willard Alexander sebagai manajer, dan pada Januari 1937, Count Bassie merilis album pertama mereka di bawah bendera Decca Record. Tahun berikutnya, Caount Bassie big band sudah terkenal di seluruh dunia.
Meski sering berganti vokalis selama era 1940-an, Bassie membuat bandnya tetap memiliki permainan yang memikat, memiliki semangat tinggi dan selalu memiliki vokalis jazz yang berbakat. Di antara nama-nama vokalis yang pernah bergabung dengan Bassie antara lain Lester Young, Herschel Evans, Don Byas, Buddy Tate, Lucky Thompson, Illionis Jacquet dan Paul Gonsalves. Sementara para pemian terompet antara lain, Buck Clayton, Harry ‘Sweetes’ Edison, Joe Newmon dan Emmet Berry. Sementara pada trombone nama-nama seperti Dickie Wells, Benny Morton, Vic Dickenson dan JJ Johnson.
Pada periode 1950-1951 saat kondisi ekonomi tak begitu bagus, Bassie tetap mempertahankan big bandnya. Pada tahun 1954, Joe Williams menjadi vokalis utama Count Bassie big band. Kedatangan Williams ini membuat band ini memiliki warna baru dan kemudian mereguk sukses komersial dengan lagu andalan mereka Every Day I Have The Blues. Pada periode yang sama penulis lagi Neal Hefti dan Ernie Wilkins menyumbangkan banyak aransemen swing untuk Count Bassie band. Dengan bantuan kedua orang ini, Count Bassie band terus bertahan di papan atas hingga era 1970-an.
Kesehatan Count Bassie mulai menurun pada tahun 1976, saat dia mengalami serangan jantung yang membuatnya harus beristirahat selama beberapa bulan. Meski berulang kali dirawat di rumah sakit, pada tahun 1981, Count Bassie masih mampu tampil di panggung meski harus menggunakan kursi roda. Count Bassie meninggal dunia pada tahun 1984 dalam usia 79 tahun setelah menderita kanker.
Sepanjang karir musiknya, Count Bassie sudah memperoleh banyak penghargaan. Selain Grammy Award, Count Bassie and His Big Bands memenangkan Esquire’s Silver Award 1945, memuncaki posisi teratas dalam survey pembaca Down Beat 1955, survey majalah Metronom 1958-1960, survey para kritikus majalah Down Beat 1954-1957, Playboy all Stars 1959. Sebagai pianis Bassie dinyatakan sebagai yang terbaik dalam survey pembaca Metronome 1942-1943. Pada tahun 1958 Count Bassie terpilih menjadi anggota Down Beat Hall of Fame.
Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog