Rabu, 01 April 2009

SEBUAH PESAN

Sebuah Pesan
Oleh : Nisa Kusumaningtyas

Awan mendung menyelimuti desa Sekarwangi. Di depan rumah sederhana yang terletak paling pojok, tampak seorang gadis berjilbab lebar sedang duduk lesu menanti seseorang. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Di hatinya berkecamuk sebuah perasaan. Perasaan tidak enak yang mengatakan telah terjadi sesuatu pada kedua orang tuanya.
***
Sebulan yang lalu, tepat disaat Aini pulang sekolah, ia menemukan sepucuk surat yang ditulis oleh orang tuanya. Pelan-pelan ia membuka surat itu,kemudian ia membacanya.


Assalammualaikum Wr.Wb
Anakku, hari ini bapak dan ibu pergi ke kota. Kemarin ibu gurumu memanggil bapak dan ibu datang ke sekolah. Disana beliau mengatakan bahwa kamu anak yang pandai, baik, dan rajin. Bapak dan ibu bangga dengan prestasimu. Kami berharap,setelah lulus SMP kamu dapat melanjutkan sekolah.Oleh karena itu bapak dan ibu akan berusaha mencari biaya pendidikanmu selanjutnya. Pekerjaan bapak sebagai buruh tani hanya cukup untuk makan,sedangkan ibu tidak memiliki penghasilan apapun.Di desa tidak banyak yang bisa kami harapkan, hingga kami memutuskan pergi ke kota,mungkin disana kami akan lebih banyak mendapatkan uang.
Anakku, maaf jika kami tidak membicarakan keputusan ini denganmu. Kami khawatir, kamu tidak akan memperbolehkan kami untuk pergi. Kami takut jika kamu malah tidak mau sekolah karena iba kepada kami. Ketahuilah anakku, bapak dan ibu ingin agar kamu bisa menjadi sukses, tidak seperti kami. Untuk itu kamu harus sekolah yang tinggi.
Anakku, ayah dan ibu akan pergi selama satu bulan.setelah itu kami akan pulang. Nak, jika terjadi sesuatu dengan kami, kamu pergilah ke rumah bulik Rosi. Kamu tinggallah disana. Mereka memang bukan Islam, tapi kami merasa hanya merekalah yang paling mampu di antara keluarga kita. Asalkan kamu tetap pada keyakinanmu, maka kamu akan selamat.
Aini….Sekian surat dari kami. Jaga dirimu baik-baik!
Wassalammualaikum Wr.Wb.




Airmata Aini meleleh. Ia merasa sedih dan takut. Sedih karena ia akan ditinggal orang tuanya.Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus tinggal sendiri di rumah. Tapi Aini sangat takut karena isi surat itu seperti salam perpisahan. Salam perpisahan dari ayah dan ibunya yang sepertinya tidak akan kembali untuk selamanya.
***
“Huh, sudah jam sembilan kenapa bapak dan ibu belum pulang ya?”kata Aini dalam hati.
“Ya Allah, mengapa perasaanku tidak enak!”
“Astaghfirullah, aku tidak boleh berpikir macam-macam!”
Aini pun masuk ke dalam rumah. Saat ia akan membuka pintu,terdengar suara sirine mobil ambulance dan mobil polisi datang mendekat. Ternyata mobil itu berhenti di depan rumah Aini.Aini berlari mendekati mobil ambulance itu. Tampak disana dua sosok mayat terbujur kaku masih berlumuran darah.
“Bapak ibu!”Teriak Aini sambil memeluk jenasah ayah ibunya.
“Mengapa kalian meninggalkan Aini?”
“Aini takut sendirian Bu,Pak!”
Tangis Aini semakin kencang. Ia tidak menyangka ini akan terjadi kepadanya. Ia belum siap menghadapi kenyataan ini.
“Nak!”sapa seorang polisi yang sedari tadi mengawasi Aini.
“Kita duduk disana yuk, biar ayah dan ibu dibawa masuk!”
Aini mendesah dan ia berdiri meninggalkan orang tuanya.“Ya!”kata Aini lemah.

“Ini.”pak polisi menyerahkan sebuah bungkusan.
“Apa ini Pak?”
“Tidak tahu.Buka saja.Itu milik orang tuamu.”
Aini membuka bungkusan yang diberikan pak polisi. Ia terkejut. Di dalam bungkusan itu terdapat sebuah boneka yang pernah dijanjikan ibunya.
“Orang tuamu baik sekali ya?Kamu pasti bangga punya orang tua seperti mereka.”
“Iya Pak saya sangat bangga dengan mereka!”kata Aini sambil tersenyum.
“Bapak berjanji akan menemukan orang yang telah mencelakakan orang tuamu.”
***
Upacara pemakaman orang tua Aini berlangsung dengan mengharukan. Aini terus menangis. Tetangga dan teman Aini berkali-kali harus menenangkan Aini. Mereka merasa iba. Anak seumur Aini telah ditinggal kedua orang tuanya.
Setelah pemakaman selesai, Aini tidak segera pulang. Ia duduk di dekat makam orang tuanya.Tiba-tiba seseorang mendekati Aini.
“In!”
“Mi!”Aini menangis sambil memeluk Rahmi sahabatnya.
Rahmi berusaha menenangkan Aini,”In, yang sabar ya!”
“Mi,kamu tahu nggak?Mereka adalah orang di dunia ini yang paling spesial di mataku”
“Mereka nggak pernah memarahi aku.Mereka selalu sabar,selalu mendukung apa yang aku kerjakan,selalu ada di sampingku saat aku sedih. Mereka bagai malaikat di mataku Mi.”
“Aku percaya kamu kok In!”kata Rahmi sambil tersenyum.
“In,pulang yuk!”
Aini hanya mengangguk kemudian meninggalkan pemakaman bersama Rahmi.
***
Tiga hari setelah kematian orang tuanya, Aini pergi ke rumah bulik Rosi. Ia teringat pesan ayah dan ibunya yang mengatakan agar Aini pergi ke rumah bulik Rosi jika terjadi sesuatu dengan mereka.
Aini mencari dan terus mencari, hingga ia berhenti di depan sebuah rumah mewah. Perlahan-lahan Aini memasuki halaman rumah itu. Dengan rasa takut Aini pun mengetuk pintu. “Permisi!”kata Aini.
Tiba-tiba ada seorang wanita berbadan besar datang menghampiri Aini. Ia begitu ramah.
“Ini pasti Aini!”kata wanita berbadan besar itu. “Wah sekarang sudah besar ya!”lanjutnya.
“Iya!”jawab Aini dengan malu-malu.
“Masuk yuk!”
Aini masuk ke dalam rumah bulik Rosi. “Rumah yang sangat luas.”pikir Aini sambil melangkah mengikuti bulik Rosi.
“Duduk In!”perintah bulik Rosi.
“In, bulik sudah mendengar berita tentang ayah ibumu.Bulik ikut berduka cita ya In!”
“Iya Bulik. Ain sudah ikhlas menerima semua ini!”
“Baguslah kalau begitu.”
“Bulik!”kata Aini perlahan.
“Ada apa In?”
“Begini Bulik, bapak dan ibu Ain sebelum meninggal menulis ini untuk Ain.”Aini menyerahkan surat terakhir orang tuanya kepada bulik Rosi dan bulik Rosi membaca surat itu.
“Bulik, apakah Ain boleh tinggal disini?”
Bulik Rosi berpikir sejenak, kemudian ia berkata “ya!Kamu boleh tinggal disini!”
“Terima kasih Bulik!”
***
Kehidupan Aini bersama Bulik Rosi sangat menyenangkan. Aini dianggap seperti anak sendiri oleh bulik Rosi. Maklum bulik Rosi tidak memiliki anak.
Meskipun Aini telah tinggal di rumah yang mewah, tapi sifat terpuji masih melekat dalam diri Aini. Setiap pagi ia bangun saat adzan subuh. Aini mencuci muka,wudhu lalu sholat subuh,setelah sholat subuh ia membantu bulik Rosi menyapu dan mengepel lantai, selesai menyapu dan mengepel Aini baru mandi dan berangkat sekolah. Begitulah kegiatan pagi hari Aini, yang dilakukannya setiap hari tanpa perintah dan tanpa paksaan. Sikap itu pula yang membuat bulik Rosi makin sayang dengan Aini.
Ketika Aini ulang tahun, bulik Rosi memberikannya sebuah mukena yang sangat indah dan sebuah Al-Qur’an. Aini sangat senang dengan hadiah yang diberikan buliknya. Setiap Aini akan puasa Senin-Kamis bulik Rosi selalu menemani Aini untuk makan saur. Bulik Rosi juga sering membelikan buku-buku tentang Nabi.
***
Kini Aini telah beranjak dewasa. Aini sudah akan SMA. Hari ini ia menerima hasil kelulusan. Hatinya sangat berdebar-debar. Bulik Rosi yang mengambilkan pengumuman kelulusan Aini juga ikut berdebar-debar, namun ia tetap menampakkan wajah tenang di hadapan Aini.
“Kamu pasti lulus kok sayang! Bulik yakin nilai kamu pasti bagus!”
“Amin! Semoga saja ya Bulik!”.
“Ya sudah, bulik masuk ke kelas kamu dulu ya!”


“Aini!”kata seorang guru memanggil wali Aini untuk maju ke depan kelas.
“Bagaimana hasil ujian keponakan saya Bu?”
“Wah Aini mendapatkan nilai yang sangat memuaskan Bu! Dia memperoleh peringkat satu di sekolah ini! Silakan Bu, ini dilihat!”
“Terima kasih Bu!”
Bulik Rosi keluar dari kelas, ia langsung memberitahukan kabar gembira ini pada Aini.
“In..In! Nilaimu bagus In.”
“Oh ya Bulik?Lihat Bulik!”
“Ini!”
“Matematika 100, Bahasa Indonesia 9,75, Bahasa Inggris 8,54, IPA 9,86!”
“Wah keponakan Bulik pintar deh! Bulik bangga!”bulik Rosi mengusap kepala Aini.
“Ah Bulik bisa saja!”
“In, pulang yuk!”
“Ayo Bulik!”

Sampai di tengah jalan, bulik Rosi melihat tukang sayur yang menjadi langganan ibu-ibu di perumahan tempat bulik Rosi tinggal. Terlintas di pikiran bulik Rosi untuk memasak sayur bayam kesukaan Aini. “Hmmm, Aini pasti akan senang kalau aku memasak sayur bayam untuknya.”kata bulik Rosi dalam hati.
“In, kamu pulang dulu sana! Bulik mau pergi dulu sebentar!”
“Kemana Bulik?”
“Ada deh pokoknya! Sudah sana kamu pulang dulu!”
“Ya Bulik!”

Aini pulang ke rumah, sementara itu di tempat belanja,ibu-ibu sedang memilih sayuran yang tersedia sambil berbincang-bincang.
“Bu Rosi lama tidak belanja ya?”
“Iya Bu! Aini yang selalu ke pasar untuk berbelanja!”
“Oh Aini! Ngomong-ngomong apa tidak sulit Bu satu rumah dengan orang yang berbeda keyakinan dengan ibu?”
“Iya Bu!”timpal ibu-ibu yang lain.
“Maksud ibu-ibu apa sih?”
“Bukankah lebih enak kalau satu keyakinan Bu!”
Bulik Rosi tidak menjawab. Ia cepat-cepat membayar sayuran yang akan dibelinya. Sesampai di rumah, bulik Rosi meletakkan sayuran di dapur kemudian masuk kamar. Bulik Rosi masih memikirkan pembicaraan ibu-ibu tadi. “Mungkin benar apa kata ibu-ibu. Mungkin lebih baik kami satu keyakinan!”kata bulik Rosi dalam hati.

Keesokan harinya, ketika Aini sedang sarapan, bulik Rosi mendekati Aini.
“In, kamu ingin meneruskan sekolah dimana?”
“Aini ingin di SMA 3 saja Bulik. Yang favorit!”
“In, kamu sekolah sama anaknya bu Reti saja ya?”
“Bukannya anak bu Reti akan sekolah di SMA swasta Bulik?”
“Ya memang!”
“Terus?”
“Ya terus apa lagi?”
“Kenapa Bulik menyuruh Aini sekolah disana?”
Bulik Rosi menjawab dengan sedikit gelagapan,“Supaya kamu berangkat sekolahnya mudah, sekalian dengan anaknya bu Reti.”
“Tapi kan disana tidak ada yang berjilbab bulik!”
“Ya kamu tidak usah memakai jilbab Ain. Rambutmu kan bagus!”
Aini terdiam sejenak, kemudian ia berkata, “Ain tidak bisa Bulik! Ain sudah mantap memakai jilbab. Kalau memang alasan bulik agar Ain berangkat sekolahnya mudah, Ain tidak masalah kalau Ain sekolah di SMA 7 yang dekat dengan sekolah anaknya bu Reti!”
“Tapi SMA 7 kan SMA yang tidak bagus In!”
“Tidak masalah Bulik!”kata Aini sambil beranjak menuju ke kamar.

Malam harinya, saat Aini sedang mengaji, bulik Rosi mengetuk pintu kamar Aini, “In ngajinya pelan-pelan saja!”
“Ya Bulik!”
“Aneh!”pikir Aini.
“Mengapa Bulik bisa berubah seperti itu ya?”
“Ah, mungkin Bulik masih capek.”
“Semoga saja besok Bulik sudah kembali seperti semula lagi.”

Aini tidak menduga. Semenjak hari itu, buliknya tidak kunjung berubah. Bahkan buliknya lebih menyudutkan Aini.
***
Suatu hari Aini melihat sebuah brosur, “Lomba mengarang cerpen piala kabupaten!”
“Aku akan mengikuti lomba ini!”
Dengan bantuan Rahmi, Aini mulai menulis cerpen. Setelah selesai ia segera mengirimkannya.
“Mi, doakan supaya aku menang ya!”
“Oke!”
***
Hari itu tanggal 9 Januari, Aini memakai baju kuning dan berjilbab putih. Rahmi telah menunggu di depan rumah. Mereka akan melihat pengumuman lomba cerpen.Ketika mereka sampai disana, pengumuman lomba sudah akan dimulai
“Mi, aku deg-degan nih Mi!”
“Tenang saja In!”

“Ya, sekarang saatnya yang kita tunggu-tunggu. Juara satu adalah….Aini dari SMA 7!”suara pembawa acara begitu keras dan jelas.
“Mi, aku menang! Alhamdulillah!”
“Selamat ya In!”
Aini mengangguk, “Terimakasih Mi!”
“Ya. Sudah sana maju ke depan. Ditunggu tuh!”

Semenjak Aini memenangkan lomba cerpen, ia bergabung dengan forum penulis di kotanya.Aini semakin sibuk. Ia sering mengahadiri seminar-seminar dan ia juga harus bolak-balik dari rumah ke tempat perkumpulan penulis yang kebetulan berada dekat dengan sekolahnya.Meskipun semakin sibuk, Aini tetap menjadi anak yang solehah. Ia tetap taat beribadah. Bulik Rosi yang melihat Aini sukses menjadi bangga, namun ia tetap pada pendiriannya, ingin agar Aini satu keyakinan dengannya.
***
“In kesini sebentar!”kata bulik Rosi suatu ketika.
“Ada apa Bulik?”
“In, tanggal 16 disini akan ada acara arisan. Kamu nanti jadi penerima tamunya ya In!”
“Oh iya Bulik!”
“Tapi In..Kamu tidak usah pakai jilbab ya!Sekali ini saja In”perintah bulik Rosi.
Aini hanya terdiam. Di dalam hatinya Aini tidak ingin menuruti perintah buliknya untuk tidak memakai jilbab. Akhirnya ia hanya menjawab ‘Insya Allah’ dan berpikir bagaimana mencari cara agar ia tidak berada di rumah buliknya ketika acara arisan.
Di dalam kamar Aini terus berpikir. Ia bingung cara apa yang bisa membuatnya bisa keluar dari rumah buliknya. Aini sudah tidak betah dengan desakan-desakan buliknya. “Ahhh, aku punya ide!”

“Bulik, Ain akan mencari tempat kos yang dekat dengan tempat perkumpulan penulis. Bolehkan Bulik?”
“Kamu sudah tidak betah tinggal disini?”
“Bukan begitu bulik. Tapi Ain merasa selama ini Ain sudah merepotkan Bulik. Ain hanya ingin belajar mandiri.”
“Apa karena perintah bulik kemarin ya? Ain itu kan cuma keinginan yang mudah!”
“Bukan karena itu kok Bulik. Ain hanya ingin mandiri. Rencana ini juga sudah Ain pikirkan sejak lama!”
“Ya sudah kalau begitu! Kamu akan berangkat kapan?”
“Besok Bulik. Tadi Ain sudah minta tolong sama teman Ain untuk mencarikan tempat kos.Katanya sudah menemukan tempat kos yang bagus.”
“Ya sudahlah!”

Esok harinya Aini berpamitan dengan Bulik Rosi. “Bulik, Ain pergi dulu ya! Maaf selama ini Ain sudah merepotkan Bulik!”
“Tidak In, kamu tidak pernah merepotkan Bulik. Bahkan Bulik merasa terbantu semenjak ada kamu!”
Aini hanya tersenyum, kemudian ia berpamitan, “Bulik Ain berangkat ya!”
“In, sering mampir kesini ya!”perintah bulik Rosi.
“Iya Bulik!”
***
Seminggu semenjak Aini pergi, rumah bulik Rosi terasa hampa. Tidak ada lagi lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Aini, tidak ada lagi tawa Aini yang ceria.Sepi.Ya, itulah yang dirasakan bulik Rosi saat ini.Bulik Rosi merasa rindu dengan Aini.Rindu dengan suara Aini saat membaca Al-Qur’an, rindu dengan gelak tawa Aini.
Kini bulik Rosi menyadari, betapa kelirunya dia telah membuat Aini merasa tidak nyaman tinggal bersamanya. Mata bulik Rosi berkaca-kaca.Ia menangis.

Di sebuah ruang ber-AC tampak seorang gadis menatap keluar jendela. Tatapannya kosong.
“In, hooi!”sapa seorang wanita cantik berbadan kurus tinggi.
“Mbak Intan ngagetin aja!”
“Ada apa In? Kok mbak perhatiin dari tadi melamun aja. Ada masalah ya?Cerita saja sama mbak.Mbak siap ndengerin kok!”
“Mbak sebenarnya Aini sedang merasa bersalah dengan seseorang.”
“Siapa In?”
“Bulik saya Mbak.”
“Lho kok bisa?”
“Aini disuruh menjadi penerima tamu saat acara arisan di rumah bulik. Tapi Ain nggak boleh pakai jilbab.Ain nggak mau Mbak.Terus Ain mencari cara untuk pergi dari rumah bulik.Ain beralasan mencari tempat kos yang dekat dengan tempat perkumpulan kita.Disitulah masalahnya mbak. Ain merasa bersalah telah membohongi bulik.”
“Ya sudah, sekarang begini saja kamu pergi ke rumah bulik kamu. Setelah itu kamu bicara baik-baik dengan beliau. Katakan apa yang kamu rasakan selama ini dengan bulik kamu. Insya Allah masalahnya akan selesai.”
“Iya mbak. Terima kasih.”

Di depan tempat kos Aini sebuah mobil Jazz merah berhenti. Seorang wanita berbadan besar dengan sepatu ber-hak tinggi turun dari mobil itu. Ia masuk dan mengetuk pintu. Tak ada jawaban dari dalam hingga lama ia tertegun di depan pintu.
Sementara itu sebuah angkot berhenti di perempatan jalan. Aini turun dari angkot dan berjalan menuju tempat kosnya.
“Ada tamu. Siapa ya? Sepertinya kok saya kenal dengan mobil itu.”Aini bertanya dalam hati.
Sampai di depan kos, “Bulik!”
“Aini!”
“Bulik apa kabar?”
“Baik In, sangat baik!”
“Bulik tahu dari siapa kalau Ain kos disini?”
“Dari anak Bu Reti.”
“Oh…!”
Sejenak suasana tenang. Angin yang bertiup terdengar kencang bunyinya.
“In, kamu balik ke rumah bulik ya!Bulik sepi kalau tidak ada kamu!Bulik janji Bulik akan membuat kamu nyaman tinggal di rumah bulik.”
“Ain mau tinggal dengan Bulik lagi, tapi Ain mau memakai jilbab terus ya Bulik? Bulik tidak keberatan kan?”
“Tentu saja tidak!”kata bulik Rosi sambil tersenyum.

Akhirnya Aini kembali lagi ke rumah bulik Rosi. Sekarang hidup Aini bahagia. Lebih bahagia dari sebelum-sebelumnya.
***
“Bu, Aini pulang ke rumah ibu lagi ya?”
“Iya.”
“Terus, bagaimana kelanjutannya ?”
“Ibu-ibu kami memang berbeda keyakinan. Namun kita nyaman dengan kondisi sekarang ini. Asalkan kita mau saling menghargai, pasti hidup kita akan menyenangkan!”
Para ibu yang sedang belanja itu terdiam.
***
Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog