Kamis, 09 Oktober 2014

Pagelaran Seni TOP , Amazing....



Story About Culture Project

Door !haha.. Assalamualaikum, saya Imma Mauliasofa, kelas XII IPA 2 di SMA favorit seduniaaa. SMA 3 Pekalongan atau biasa kami singkat SMAGA. Oyaaa, tulisan ini kupersembahkan untuk guru Seni music tercinta, Bapak Saiful Falah yang unyu-unyu J untuk memenuhi nilai sebagai nilai ulangan pertama. Di sini aku, ane, saya, kula atau bahasa kerennya gue. (bukan gule, itu makanan) akan menceritakan perjalanan penuh pertumpahan keringat untuk menampilkan pertunjukan pagelaran seni sebagai nilai ujian praktek.
Di SMAGA, setiap tahun dilaksanakan pagelaran seni, tak terkecuali tahun ini. Dan panitia tahun ini yang diketuai oleh si Rangga, Rang to the ga, Rangga. Dari pawakannya udah keliatan, wibawanyaa beeeh T O P !tegasnya beeeh jangan ditanya (y). luar biasa pokoknya. Tahun ini pagelaran seni SMAGA mengangkat tema Culture Project. Tahu maksudnya ?saya juga nggak tahu, hahaha. Jadi gini intinya, pagelaran tahun ini mengusung sebuah kolaborasi antara kebudayaan dan kesenian Indonesia dengan Dunia, entah itu di benua Amerika, Australia atau manapun, yang penting masih masuk dalam wilayah bumi.
Jika dianalogikan tema pagelaran tahun lalu dengan tahun ini, mungkin sedikit lebih extrim. Mengapa ?karena tahun yang kemarin pagelaran hanya mengusung tema khusus budaya Indonesia. Dan tidak bisa dipungkiri kedahsyatannya, bombastis dan fantastis. Luar biasa buat kakak-kakak kelasku itu, muaaah hahaha. Kalau untuk tahun ini kan lebih menyeluruh. Lebih mendunia. Culture project ini jadi satu wadah untuk kita, siswa-siswi kelas XII mengukir cerita SMA. Amaziiing !
Dengan durasi kurang lebih 30 menit, setiap kelas diharuskan menampilkan sebuah pertunjukan akulturasi antara budaya sendiri dengan Negara luar. Nah, kelasku XII IPA 2 memutuskan untuk menggabungkan budaya Indonesia, Belanda dan Jepang. Bagaimanakah ketiga Negara tersebut dapat kami gabungkan ?mau tau aja apa mau tau banget haaa ? haha. Jadi kita, aku dan teman-teman luar biasaku, mengemasnya dalam sebuah cerita sejarah kemerdekaan Indonesia.
Dengan menggabungkan berbagai unsur seni, seperti seni drama, seni music(drum band atau apalah itu yaa) , seni rupa (arsitektur), seni suara (menyanyikan Indonesia Pusaka, walaupun dengan suara maksa dan pas-pasan) dan seni tari (menggabungkan berbagai tarian termasuk tari Jawa dengan kipas khas Jepang). Konsep ini berdasarkan segala ide pikiran kami menjadi satu kesatuan yang utuh. Walaupun butuh waktu sekitar sebulan atau kurang, aku juga lupaa, hehe. Konsep itu telah “menelan” (berlebihan nih kayaknya kata-kata saya, wkwk)  beberapa siswa XII IPA 2 soalnya banyak yang harus berantem, “bacot-bacotan” (anggap sensor) dan sejenisnya untuk menyatukan pendapat kami.
Berbekalkan konsep sedemikian rupa, mulailah kami berkelana, menelusuri hutan, menyeberangi samudera dan mendaki gunung melewati lembah bersama teman berpetualang, syalalala, untuk mencari pelatih yang akan membantu kami “menggebrak” panggung pagelaran tahun ini. Dan kami berlabuh pada dua orang pelatih. Yang pertama adalah Mas Tamakun, yang kami bilang mirip dengan Rian D’masiv, sebagai pelatih drama. Dan Ibu Hesti sebagai pelatih tari. Mereka berdua inilah yang menjadikan kami bisa sebaik sekarang, terima kasih pelatihkuuuu L.
Kembali ke menu awal, culture project ini sedikit membuat kami kesulitan menentukan alur pertunjukan. Setelah beberapa minggu kami bersemedi, akhirnya kami satukan tekad dan pendapat bahwa ceritanya begini begitu bla bla bla. Setelah itu, kamipun mulai sedikit demi sedikit melatih diri. Aku juga lupa berapa lama kelasku berlatih, mungkin karena keseringan jadi lupa berapa bulan, berapa pertemuan. Yang saya ingat adalah iuran yang harus kami keluarkan adalah…. Jengjengjengjeng… 15 ribu / MINGGU. Dari yang doyan jajan jadi Cuma bisa beli aqua dan 5 permen mint. Dari yang bensin motor selalu full jadi miris liat jarumnya anjlok ke merah. Itu semua kami lakukan agar tidak memberatkan orang tua. Kami ini ingin menjadi anak yang berbudi luhur dan berhati malaikat, akhirnya kami menyisikan uang saku kami untuk memenuhi iuran per minggu yang semakin lama semakin “mencekek” leher kami, rasanya sulit untuk bernafas lega saat bel istirahat berbunyi. Tapi tidak masalah, itu semua agar kami bisa memberikan pertunjukan yang terbaik dari yang terbaikkk.
Kemudian, dari seni drama kami menceritakan penjajah Belanda dan Jepang yang ingin menangkap mata-mata Jendral Soedirman, namun mereka terpukau dan kagum pada luhurnya budaya Indonesia. Di situ tidak lupa kami juga menunjukkan kesenian tari Jawa, alat music seperti kendang dan juga seni ketrampilan membatik. Kita tahu bahwa batik kita punya sudah dikenal dunia. Selain drama, kami juga menyuguhkan tarian, live music seperti marchine band (kalau nggak salah tulisannya) dan menyanyikan secara paduan suara yang sedikit “maksa” kalau boleh jujur, hahaha. Kami menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Yah tujuannya supaya lebih rahat untuk merenungi arti kemerdekaan Indonesia.
Sebelumnya, latar belakang kami memilih cerita sejarah kemerdekaan yaa tidak lain tidak bukan untuk menyadarkan bahwa kita, generasi muda banyak yang tidak cukup paham bagaimana arti kemerdekaan untuk kita. Kami ingin memperlihatkan betapa sulitnya mencapai kemerdekaan, betapa sulitnya meraih kebebasan. Nah makanya itu, kami menampilkan drama sebagai pertunjukan utama dari pagelaran ini. Selain itu kami juga menampilkan berbagai budaya dan kesenian Indonesia agar kita semua bisa mencintai dan lebih menghargainya sebagai sebuah kebanggaan bangsa Indonesia. Kalau bukan kita yang merawatnya, siapa lagi (iklaaan) hehe.
Kalau ditanya bahagia ?so pasti, jelas kami bahagia maksimal. Tapi bukan berarti perjalanan kami menyiapkan pagelaran ini berjalan mulus-mulus saja. Bahkan tidak sedikit dari kami yang harus menangis setiap latihan, harus marah-marah, menjerit-jerit, membentak dan “gendok” atau sebeel maksimal. Pertengkaran, cek cok, atau bahkan “pisuh-pisuhan”pun tidak terhindarkan. Semua itu karena selalu ada perbedaan dan ego dari kami yang belum bisa di redam. Namun lama kelamaan, kami bisa mengerti keadaan, saling menghargai satu sama lain juga menghargai waktu. Kami juga rela capek-capekan, latihan dari pagi sampai sore. Membawa alat-alat music yang luar biasa itu kesana kemari ke tempat latihan yang nomaden. Begitulah keseharian kami sebelum pagelaran.
Ngomong-ngomong tentang tempat latihan kami ini, banyak sekali tempat yang kami kunjungi (kayak wisata) haha. Salah satunya adalah karesidenan, gedung wapress dan jugaa sanggar senam cempaka.
Di karesidenan ini, kami memakai area belakang. Tentu saja, dengan alat music kami yang luar biasa repotnya itu, kami harus “usung-usung” bolak balik itu alat. Dan bukan anak muda namanye kalau nggak ade berantemnye. Harus ada yang rela bolak-balik karena ada beberapa oknum yang tidak mau membantu. Yah begitulah.
Selain di karesidenan, kami memakai sanggar senam cempaka. Di sana yang latihan Cuma dari grup tari. Untuk lebih mengompakkan gerakan kami, kami berlatih keras seperti kerja rodi istilah Bulenya, Belanda maksudnya. Dan kerja romusha, istilah Jepangnya. Sampai nggak sedikit yang harus tumbang, gugur di Pekalongan pertempuran (bukan pake Medan deh ya) wkwkw. Enggak, itu alay. Yang nggak alay itu ya banyak yang sakit gara-gara kecapekan latihan, gitu deh intinya. Nah di sanggar Cempaka kan dikelilingi kaca-kaca seperti rumah kacanya si Cinderella (emang Cinderella punya rumah kaca ?) ngarang sih hehe. Yah namanya juga naluri anak muda yang sedikit alay ya pasti ada ajalah kelakuannya. Selain latihan kami juga foto-foto, untuk menjaga ke-eksisan di dunia fana ini. Wkwkw. Selain itu juga ada videonya kok. Dan so pasti, udah ada di pak shaiful kan ya. Udah di tonton kan pak ?hehe.
Nah kalau yang di Wapress itu berdasarkan Mas Tamakun atau “Tamagochi” plesetannya. Oh ya waktu itu latihan juga dateng orang dari korea, temennya mas Tamakun pastinya, bukan dari super junior, big bang atau bahkan snsd. Yang jelas itu cowok dan itu fix manusia asli.
Hari H, tanggal 21 Desember. Pagelaran seni SMA 3 Pekalongan dilaksanakan. Semua berjalan alhamdulilah lancar dan baik-baik saja. Semua lelah semua amarah semua masalah terbayarkan dengan tepuk tangan yang kami dapatkan saat memberikan penghormatan sebagai penutup pertunjukan kami. Waktu itu kami harus datang jam 5 pagi, untuk menghindari “nggak selesai riasnya” omegat -_-. Karena gueh telat dateng, kira-kira jam 6 lebih baru dateng, dan ternyata nggak Cuma satu dua anak doang yang telat dateng. Dan karena itu, kami sedikit maksa dan gelagepan (kayak klelep). Ribut sana sini karena udah jam nya tampil tapi belum siap 100 %. Tapi walaupun gitu, tetep bisa mengatasi kok J.
Dari pagelaran ini banyak sekali hal yang kami dapatkan. Kebersamaan, kenangan, seru-seruan, gokil-gokilan atau bahkan menggila karena larut dalam suasana bahagia, wowowow luaaar biasaa XII IPA 2 !karena di dalam pagelaran ini bukan Cuma sekedar sebuah pertunjukan atau sebuah penampilan tapi ini lebih dari sebuah karya dan karunia yang bisa kami asah lebih dalam. Dan berkat itu kami jadi lebih tahu banyak tentang sesuatu yang tidak bisa didapatkan dari sekedar duduk di kelas, mendengarkan guru mengajar, membaca lks dan bahkan mengerjakan soal fisika yang kami nggak tahu buat apa, hehe. Ini namanya ilmu dari non akademik. Ilmu yang kami dapatkan dari menjalani kehidupan, sebuah pengalaman yang kata semboyannya adalah ilmu terbaik.
Yang mungkin tidak banyak orang rasakan adalah pengalaman ini menjadikanku sebagai salah satu orang yang bersyukur bisa menjalani aktivitas luar biasa ini. Berkat pagelaran ini, aku terutama, lebih mengerti bagaimana rasanya berjuang, rasa 5L (lelah letih lesu lemah lunglai) pun bisa kurasakan. Dan dengan menampilkan yang terbaik semua itu jadi ada artinya. Semua yang kami kerjakan dengan susah payah nggak sia-sia. Pokoknya masa SMA itu masa yang nggak ada matinya (kayak judul film yang baru keluar) wkwk. Yah begitulah dahsyatnya manfaat dari sebuah pengalaman. Kalau nggak ada pagelaran mah, rasanya nggak hidup deh masa SMA kalian. Awalnya sih aku mikir, aduh pagelaran ya ?kayaknya bakal susah banget, kayaknya bakal ribet dan kayaknya-kayaknya yang lain juga ada. Tapi kalau kita nggak coba, gimana mau tahu rasanya, gimana mau liat hasilnya ?ya nggak seeeh ?J
Pagelaran juga bisa melatih sikap percaya diri kita lho. Dari yang tadinya Cuma bisa ngumpet dibelakang pintu kelas (kayak “rok umpet” itu mainan jaman dulu SD) dan dari yang Cuma bisa senyum senyum kalau suruh maju di depan kelas. Jadi bisa tampil di depan umum, bahkan ada orang tua, guru dan tamu dari luar lainnya. Itu udah jadi nilai plus-plus buat kita kan. Nah banyak yang nggak sadar makna itu. Makanya saya sadarkan kalian. Heh sadaaar sadaaar !wkwk.
Selain itu, pagelaran juga memberi kita pelajaran untuk jadi orang yang bertanggung jawab lho. Kok bisa ?ya bisalah. Apa sih yang nggak bisa dilakuin di hidup ini ? “ngawur”. Dari bertanggung jawab pada Allah SWT, pada diri sendiri, pada orang tua dan pada orang lainnya. Ya nggak ?iya dong. Kalau nggak tanggung jawab, nggak bakal kita bisa menyelesaikan tugas mulia dari pashaiful unyu J
Berpedoman pada semboyan “ IMPOSSIBLE IS NOTHING” kita jadi tahu kan bahwa nggak ada yang mustahil kalau kita mau mencoba dan berusaha. Semua pasti ada caranya. Orang sakit aja ada obatnya kok, halah apaan hahaha. Jadi itulah beberapa manfaat dari pagelaran. Selain membanggakan diri sendiri dan orang tua juga sekolah, kita jadi dapet banyak hal, banyak ilmu dan banyak pengalaman yang harusnya sebagai manusia yang berakal, itu semua bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.
Masih kurang nggak sih curhatan saya ?apa masih kurang juga ? haha. Enggak lah, ini semua murni dari hati saya lho pak, nggak ada copas nggak ada plagiatnya, sueeer. Jadi pak shaiful bisa tahu kan, saya dapet banyak ilmu lho dari tugas bapak. Nggak terkecuali tugas nulis curhat ini. Saya jadi berasa penulis beneran, wkwkw. Bisa jadi tugas ini jadi dasar kita, murid murid SMAGA buat ngalahin pamornya Raditya Dika (mungkinkah?) kayak judul lagu.
Oh iya makasih buat panitia pagelaran tahun ini, berkat kalian juga acara ini bisa berlangsung. Lumayan kan dapet satu kaos ?wkwkw. Yah makasih lah kalian sudah menjadi pondasi dari pagelaran ini. Walaupun saya bukan panitia, tapi saya bisa kok merasakan apa yang kalian rasakan (alay bangeeet). Kok makin kesini jadi makin ngawur ya ngomongnya wkwk. Tapi bisa mengambil intinya kan ?intinya ya Cuma satu sih. Pagelaran tahun ini amaziiing ! wkwkwk
terima kasih untuk pak Shaiful karena pagelaran ini jadi salah satu tempat kami mengukir bahagianya masa SMA kami, terima kasih juga untuk teman-teman semua dan terutama untuk kedua orang tuakuuu, I lope you pull !pokoknya luar biasalah buat SMAGA tahun ini J kalian semua itu seperti satu buku yang penuh dengan tulisan, nggak ada bosen nulisnya, nggak ada bosen bacanya. Itu kalianJ
Ini gambar-gambar yang diambil saat kami latihan dan saat tampil hari H, cekidottt

Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog