Rabu, 30 April 2014

Pagelaran Seni SMAN 3 Pekalongan strategi pengambilan nilai yang berkualitas.


"Pengambilan nilai memang harus berkualitas sehingga siswa mampu mengoptimalkan potensi yang ada pada diri mereka."

Nama : Sandra Dheviani
No      : 27
Kelas : XII IPA 1

Di setiap sekolah, pengambilan nilai praktek untuk mata pelajaran tertentu pasti berbeda-beda. Pengambilan nilai memang harus berkualitas sehingga siswa mampu mengoptimalkan potensi yang ada pada diri mereka.
Saya, sebagai siswa SMA N 3 Pekalongan ingin menceritakan salah satu pengambilan nilai praktek mata pelajaran yaitu seni musik.  Sejak tahun 2006, pengambilan nilai nilai mata pelajaran seni musik dilakukan dengan menyelenggarakan acara Pagelaran Seni. Setiap tahun ajaran, memiliki tema yang berbeda. Dari tema tersebut, satu kelas sebagai satu kelompok diberi kebebasan untuk mengambil subtema untuk karya seni yang akan ditampilkan.
Tahun ajaran 2013-2014 ini, angkatan saya mengambil tema Culture Project. Tema tersebut dipilih karena angkatan kami ingin menampilkan sebuah karya yang menggambarkan tentang budaya. Budaya yang dimaksud adalah budaya secara luas, sehingga setiap kelas dapat menentukan budaya dalam negeri atau budaya dari negara lain yang akan ditampilkan. Namun, kami juga bersepakat untuk mengutamakan pengakulturasian dua budaya, budaya dalam negeri dan budaya dari negara lain dalam karya kami.
Setelah tema Culture Project tersebut disepakati bersama, saya dan teman-teman kelas dua belas IPA satu mulai berdiskusi tentang subtema yang akan kita ambil dan apa yang ingin kita tampilkan. Mula-mula, kami mengadakan pengambilan suara perihal budaya dari negara mana yang akan kita tampilkan. Setelah melalui proses yang cukup panjang, kami mengambil keputusan untuk menampilkan budaya dari benua Amerika dan mengakulturasikannya dengan budaya Indonesia.
Jadi, alur cerita yang akan kita tampilkan yaitu awal cerita kami ingin menggambarkan suatu desa yang amat kental dengan budaya jawa dengan keramah-tamahan dan ketradisionalannya. Kemudian konflik akan muncul pada saat penari hip-hop datang dan mamerkan tarian mereka. Karena orang-orang desa merasa bahwa budaya itu bukan hanya tarian yang mereka bawakan, akhirnya gadis-gadis desa pun menunjukan tarian mereka. Karena penari hip-hop tertarik, dan karena orang-orang desa juga ingin menambah pengetahuan mereka tentang tari, maka timbullah akulturasi.
Kami mulai mencari pelatih yang mampu membimbing kami. Satu persatu orang yang kami pandang mampu untuk mendukung kami, kami temui. Bu Ismi beliau adalah orang pertama yang kami temui. Beliau dan anaknya menyanggupi untuk menganjar kami. Kami menjelaskan hal-hal yang kami inginkan serta kami meminta saran agar peforma kami maksimal.
Kami sudah sepakat untuk dibimbing bu Ismi dan anaknya setiap hari Minggu. Namun karena suatu hal, tiba-tiba bu Ismi membatalkan hasil kesepakatan. Mau tidak mau kami harus mencari pelatih lagi. Sebenarnya kami kecewa dengan beliau karena beliau membatalkan perjanjian begitu saja sehingga hari Minggu kami terbuang sia-sia.
Kami terus mencari pelatih dan akhirnya kami mendapatkannya. Untuk tarian-tarian Jawa, akan dibimbing oleh Bu Nani, untuk tarian hip-hop dibimbing oleh Mas Tiok, untuk gamelan dibimbing oleh Pak Darsono, dan untuk tata panggung dan peran kami dibimbing oleh Pak Trinil.
Tiap bagian memiliki jadwal latihan sendiri. Dan setiap hari Minggu, kami berkumpul bersama untuk mengevaluasi latihan tiap bagian. Selain itu, kami juga membuat kesepakatan lain. Untuk anggota yang datang terlamat akan didenda sebesar Rp 500,00 per lima menit, untuk yang tidak hadir tanpa alasan akan didenda sebesar Rp 20.000,00. Tiap harinya, kami juga menabung sebesar Rp 2.000,00 untuk persiapan dalam menyewa kostum, membuat properti dan sebagainya.
Hari demi hari kita lalui dengan bekerja keras demi penampilan yang maksimal. Saya akan menceritakan tiap-tiap tersebut. Yang pertama tarian jawa. Tarian jawa yang akan ditampilkan yaitu tarian yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat desa. Tarian tersebut adalah “Tari Ngangsu”. Tarian ini menceritakan tentang para gadis yang sedang melakukan kegiatan ngangsu atau mengambil air dengan kendi.
Kemudian tari hip-hop. Tarian ini menekankan pada gerak yang bersemangat dan menunjukkan gerak-gerak modern. Tarian hip-hop ini ssangat berbeda dengan tarian jawa, selain dari gerakkannya, musik yang digunakan juga bebas.
Musik gamelan disini untuk menambah suasana tradisional yang ingin kita tunjukkan. Ada beberappa lagu yang dimainkan antara lain Gambang Suling, Ojo Dipleroki, dan Prau Layar. Tidak hanya musik gamelan, namun sinden pun akan ikut bernyanyi. Kemudian untuk drama di dalam cerita ini, disiapkan pula dalang yang akan menuntun jalan cerita sehingga akan ada kesinambungan dari tiap-tiap cerita.
Mendekati hari-H, kami mulai membuat properti dan mencari kostum. Properti yang akan kami buat adalah gubuk, lesung dan penumbuk lesung. Setiap sebelum latihan kami membuat properti tersebut dibantu oleh Pak Trinil. Kami tidak hanya saling membantu satu sama lain dalam menyelesaikan pembuatan properti namun dalam membeli beberapa perlengkapan yang kami perlukandan mencari kostum yang sesuai dengan apa yang kami perankan juga kami lakukan secara bergotong royong.
Kami berusaha semaksimal mungkin, bahkan pada suatu hari, walaupun hujan deras kami tetap berlatih. Kami menari dan berdialog diiringi alunan musik-musik di bawah rinai hujan yang turun. Ada kalanya kami merasa letih, namun jika membayangkan tanggung jawab kami, kami menjadi terus semangat.
Pada saat H-1, kami melakukan geladi bersih dan memindahkan properti dari GOR Jatayu ke Sekolah. Setelah melakukan gladi bersih kami diberi nasihat-nasihat dari pelatih kami. Nasihat mereka benar-benar kami cermati agar besok pernampilan kami benar-benar maksimal.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya dan beberapa teman yang berperan sabagai orang-orang desa dan pemain gamelan datang pukul 05.00 untuk dirias. Memang membutuhkan waktu yang lama, karena itulah kami datang cukup pagi. Pukul 08.00 kami telah selesai dirias. Dan kami pun menunggu giliran kami uuntuk tampil. Kami merasa gugup saat melihat penampilan dari kelas lain yang begitu apik. Namun kami tetap peercaya diri.
Pukul 11.00 kami mulai memasuki panggung untuk menampilkan karya kami. Alunan gamelan membuka penampilan kami dengan elok. Tanpa terasa, kami menari, memainkan musik, dan berperan begitu saja. Penampilan kami ditutup dengan parade bendera merah putih dan lagu yang kami nyanyikan bersama.
Kami lega telah berhasil menapilkan karya kami dengan lancar. Pengalaman ini merupakan pengalaman yang berharga bagi kami siswa-siswi SMA N 3 Pekalongan.





Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog