Rabu, 30 April 2014

Pagelaran adalah sebuah kebersamaan, rela berkorban dan keikhlasan.


Di sini aku akan sedikit berbagi cerita tentang pagelaran. All about pagelaran J.

by Nurul  Hidayah

Pertama kali mendengar kata pagelaran, pasti kalian berpikir tentang seni. Yah seni, sesuatu yang berhubungan dengan keindahan. Tetapi untuk mencapainya, kita harus melewati beberapa (rintangan). Rintangan – rintangan itulah yang membuat kita kesel, bosen, bete. Tapi di sisi lain rintangan itu yang bikin kita jadi disiplin, punya rasa tanggung jawab, dan ngontrol diri kita masing – masing. Tapi pagelaran bukan hanya sekedar latihan dan usaha untuk mempersiapkannya. Tapi pagelaran adalah sebuah kebersamaan, rela berkorban dan keikhlasan.
 Kebersamaan saat kita latihan, canda maupun duka. Kebersamaan mengajari kita tentang bagaimana kita berbagi,  mulai dari pertama kali latihan yang awalnya gak bisa,  latihan-latihan yang sering bikin kita capek hati & pikiran, bahkan kita bela-belain di marahin ortu, lucu. Tapi gak tahu kenapa semua itu bikin kita kangen. Kangen saat hujan – hujanan bareng, rahatan bareng. Semua itu sudah jadi kenangan yang tak terlupakan.
Sebelum memulai ceritanya, aku mau ngasih informasi tentang pagelaran. Pagelaran seni adalah suatu kegiatan dalam rangka mempertunjukkan karya seni kepada orang lain (masyarakat umum). Di sini SMA N 3 Pekalongan mengadakan acara pagelaran seni untuk siswa siswi kelas XII untuk pengmbilan nilai seni budaya. Nah, pagelaran seni tahun ini mengangkat tema kebudayaan Indonesia yang dikolaborasikan dengan kebudayaan luar, pagelaran ini bisa disebut dengan culture project. Di setiap kelas mengangkat daerah yang berbeda – beda.
Di kelasku (XII IPA 1) mengangkat daerah  jawa yang akan dikolaborasikan dengan dance hiphop yang berasal dari budaya luar negeri. Ceritanya di sebuah desa yang damai, mucullah anak-anak muda dari luar negeri. Mereka agak nggak suka dengan budaya Jawa karena budaya Jawa katanya sih ndeso, nggak modis, katrok, dll. Warga desa nggak terima dong budayanya di lecehkan. Lalu terjadilah cekcok antara mereka. Lalu mereka berpikir, kenapa kita nggak gabungin budaya Jawa  dan budaya luar negeri. Dan akhirnya mereka berkolaborasi dan mereka akhirnya mengerti bahwa setiap budaya mempunyai makna & keindahan sendiri. That’s it, simple. Kedengarannya sih gampang, tapi setelah di lakuin susah juga.
 Dalam latihan, kita di bagi dalam 4 komponen, tari Jawa, dance Hiphop, gamelan dan krew. Di sini aku berperan menjadi penari Jawa. Dulu aku pernah sempet ikut lomba tari Jawa waktu SD, tapi nggak menang L. It’s okay. Susah-susah gampang, tapi asyik kok J.
Oke, mulai dari pertama kali latihan. Awalnya banyak dari kita yang nggak bisa atau belum pernah sama sekali nyoba, terutama untuk tari Jawa dan gamelan. Tapi karena “demi” untuk PAGELARAN, kita ikhlas untuk nyoba, itung-itung buat pengalaman juga.
Di 4 komponen tersebut, ada 3 pelatih. Siapakah pelatih-pelatih itu ? yang pertama adalah Bu Nani, pelatih Jawa. Orangnya kalem, lembut, keibuan, seneng aku lihatnya, apa mungkin itu memang kodrat penari Jawa. Yang kedua adalah mas Tio, gokil, lucu. Yang ketiga adalah Pak Darsono. Lewat mereka, kita bisa menumbuhkan bakat-bakat kita yang terpendam. Ceileh, bahasanya.
Eh, ada yang ketinggalan. Kita memanggilnya Pak Trinil, sosok berambut gondrong, kurus, agak kucel, mungkin itu yang tercemin dari seorang seniman. Beliau yang membantu kita dalam pembuatan properti. Awalnya nggak percaya, tapi lama kelamaan kita bisa enjoy. Dia orangnya agak keras kepala, omongannya nggak bisa di bantah. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kita bisa atasi itu.
Hari-hari hanya diisi dengan latihan-latihan-latihan-latihan dan latihan. Semua terkuras oleh pagelaran, entah itu uang, energi, waktu. Dimarahin ortu, mengorbankan les, waktu untuk belajar pun tak ada. Capek memang, tapi semua itu demi pagelaran, demi mendapatkan nilai yang disebut dengan seni budaya.
Pertengkaran pun tak luput dari kami. Entah karena perselisihan pendapat, karena kerja kerasnya tak di hargai, karena beberapa anak yang kurang aktif karena nggak nyumbang pendapatnya. Pas di kasih pilihan pada diam, tapi kalo udah di pilih malah pada protes. Lucu. Itulah manusia, tak luput dari kesalahan.
Tapi seiring dengan berjalannya waktu kami bisa saling melengkapi, saling menghargai, saling membantu, dan saat itulah kami merasakan apa yang dinamakan kebersamaan. Kebersamaan saat susah, senang, tawa. Menyenangkan memang. Semua kebersamaan itu berawal ketika hujan itu tiba. Ketika rasa capek & lelah, datanglah sebuah keajaiban  dan merubah suasana hati kami. Hilanglah rasa penat dan berubah menjadi rasa semangat yang bergelora. Hilanglah raut kelelahan menjadi senyuman. Saling menyipratkan air satu sama lain, berteriak teriak tak jelas, gurauan & nyanyian yang membuat sakit perut.
Tak di sangka pagelaran tinggal menunggu hitungan hari. Kami sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Baju, property, mental, dan tak ada hari selain latihan, latihan, dan latihan. Capek, penat, lelah, pusing, sakit, tapi itu kami lakukan untuk suksesnya acara pagelaran ini. Karena pagelaran ini menyangkut harga diri kelas kami & nama sekolah. Kadang kala kami berpikir, untuk apa kegiatan ini ? apa manfaatnya ? apa tujuannya ?
Dan hari yang di tunggu-tunggu itu akan tiba. Hari dimana kita harus mempersiapkan mental. Satu hari menjelang pagelaran tiba, kami latihan satu hari full untuk memaksimalkan gerakan-gerakan yang belum sempurna. Hingga akhirnya latihan untuk yang terakhir kalinya usai. Sebelum mengakhirinya, kami pun berdoa untuk kesuksesan penampilan besok.
Pada malam harinya aku sempat tak bisa tidur. Tak bisa karena gundah membayangkan besok. Dilihat oleh ratusan mata, gugup, tak ada percaya diri, malu, minder, kosong, hitam, dan mimpi. Tak kusadari aku terbangun dengan panggilan azan shubuh. Aku bersiap-siap untuk mempersiapkan sesuatu yang harus disiapkan.
Sesampainya di sekolah, kami di make up sesuai peran masing-masing. Seusai make up, aku memastikan keaadan sekitar. Terkesiap, ratusan mata telah bersiap menunggu menyaksikan penampilan kami.
Rasa-rasa itu pun muncul kembali. Gugup, dingin, tak percaya bahwa sebentar lagi akan tampil, bingung apa yang harus dilakukan. Hingga suatu pesan itu teringat.”Tunjukkan semaksimal mungkin kamu bisa, jangan melihat ke bawah, lihatlah ke atas. Agar dunia ini tahu, kamu bisa melakukannya. Jangan takut, yakinlah pada dirimu bahwa kamu bisa”.
Hanya pesan itulah yang aku ingat sebelum naik ke atas panggung. Dan karena pesan itu juga yang membuat aku yakin aku bisa. Ya, untuk pertama kalinya aku percaya diri tampil di depan banyak orang. Aku bisa melihat lurus ke depan, melihat mata-mata yang melihatku. Tak ada rasa gugup, apalagi malu. Kenapa harus malu untuk melakukan hal yang membanggakan ? aku tersenyum.
Penampilan kami cukup memuaskan, itulah pendapat salah satu pelatih kami. Aku bangga sekali ketika mereka memberikan hormat pada sang merah putih yang kami junjung tinggi. Bangga karena kami mengangkat sang merah putih, rasa nasionalisme yang cukup tinggi.
Dan sekarang terjawab sudah atas semua pertanyaan-pertanyaan yang dulu sering kita ucapkan. Agar kita tahu kemampuan terpendam dalam diri kita yang belum kita tahu. Dan mungkin tanpa pagelaran pun kita tak akan bisa lebih mengenal satu sama lain. Pagelaran memang melelahkan, menyebalkan, tapi setelah kita jalani ada banyak sesuatu yang akan kita temukan di sana. Dan sesuatu itu tidak akan pernah kita lupakan seumur hidup.
Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog