Kamis, 17 April 2014

Konflik dalam Latihan Pagelaran, ...adalah hal biasa


Nama  : Garini Adyatiningtyas
Kelas  : XII IPA 1
Abs     : 14

Hanya Satu Kali

Ini ceritaku tentang pengalamanku. Pengalaman yang tak terlupakan. Kenapa? Karena disini aku bisa merasakan senang, susah, jengkel, dan terutama adalah kerja keras dan kekompakan. Menurutku tanpa adanya kerja keras dan kekompakan maka sesuatu yang dikerjakan tidak akan berhasil, perlu adanya rasa saling mengerti dan saling menyemangati. Nah, disini susahnya.
Sekolahku menyelenggarakan suatu acara tahunan yaitu Pagelaran Seni. Pagelaran ini diperankan oleh seluruh siswa siswi kelas XII SMA 3 Pekalongan dalam rangka untuk mengisi nilai ujian praktek. Dan angkatanku telah bersepakat bahwa tema yang akan kami tampilkan nanti adalah “Culture Project”. Sesuai dengan namanya, disini kami menngabungkan budaya budaya asing dengan budaya Indonesia.
Nah, aku dan kawan kawanku kelas XII IPA 1 selalu melakukan rapat untuk membahas tema apa yang akan kami suguhkan nanti? Banyak pendapat dari beberapa anak kelas. Dan akhirnya terpilihlah tema yang menggabungkan antara budaya asing yaitu hiphop dan budaya jawa yaitu tarian tradisional jawa. Kami menamainya “Dubsteb Of Java Cresendo”.
Latihan pun dimulai. Kelas kami melakukan konsep latihan dengan cara membagi tugas masing- masing dengan kelompok. Ada kelompok tari jawa, kelompok hiphop, dan kelompok gamelan. Semuanya masih berlatih secara terpisah.
Ini adalah puncak ketegangan dari kelas kami. Awalnya memang asyik latihan dengan keompok sendiri, tapi setelah kami berkumpul, banyak yang komplain, karena tidak tahu bagaimana perkembangan latihan dr kelompok lain. Dan konsepnya pun belum sangat matang waktu itu. Dan dengan waktu yang mepet akhirnya ditemukan juga konsepnya. Konsep penggabungan hiphop dengan tari tradisional jawa dengan latar pelataran desa jaman dahulu, juga suasana desa dengan wanita wanita membawa tampah dan menumbuk padi dengan lesung, anak- anak kecil bermain permainan tradisional dan pemuda pemuda yang sedang mencangkul disawah, yang diselingi oleh suara gamelan.
            Setelah konsep matang, akhirnya kami berlatih dan terus berlatih. Aku berpikir, kelasku adalah kelas paling belum siap waktu itu. Karena latihan terus pun belum ada tanda-tanda kemajuan. Sudah lelah, membuang tenaga dan waktu, hingga kena marah bapak pun aku rasakan. Mungkin semua temanku juga merasakan hal tersebut. Wajar.
            Demi terselenggaranya pagelaran kelas kami, kami pun menyisihkan uang jajan kami sebesar 2000 rupiah setiap harinya, yang uang itu ditabung untuk dana pagelaran kami. Setiap hari selalu ditagih terus sama bendahara kelas, Aurora. Kadang ngerasa jengkel dengan menyisihkan uang tersebut, padahal uang itu mau dipakai untuk beli tahu bakso. Lol.
            Setiap minggu kami lewati bersama, pernah ada konflik diantara kami, yaitu masalah keseriusan. Ya maklum, mungkin ini adalah proses dari kerjasama kami. Karena semua anggota kelas pasti ingin yang terbaik untuk kelasnya kan?
            Kurang lebih tepatnya 3 minggu sebelum acara pagelaran, akhirnya kami meminta bantuan kepada Pak Trinil untuk membantu menyelesaikan konsep dari pagelaran yang akan kami tampilkan. Kami meminta bantuan untuk membuat apa saja yang dibutuhkan saat pagelaran dan mematangkan skenario yang akan kami tampilkan.
            Berlatih, berlatih. 2 minggu sebelum pagelaran dimulai. Kami menyiapkan perlengkapan yang akan kita gunakan, yaitu mondar mandir mencari busana yang pas yang akan kami kenakan nanti, membuat sebuah rumah sebagai suasana di pedesaan yang dilengkapi dengan lesung.
            Kami latihan di SMA Masehi. Latihan di lapangannya. Kami berlatih disini karena para anak anak gamelan juga latihan ditempat ini, gamelannya pun milik SMA ini sehingga agar mempermudah pekerjaan kami, kami berlatih disini.
            Dan di tempat latihan itu juga terjadi sebuah kejadian yang tidak sama sekali aku harapkan! Hape kesayanganku rusak gara-gara kecemplung dikamarmandinya. Ironis bukan? Aku sedih pada saat itu, padahal aku paketan sebulan. Huhuhu. Dan sekarang hapeku turun pangkat. Nasib.
            Pagelaran seni pun tinggal menghitung hari, tepatnya pada hari sabtu tanggal 21 Desember 2013. Kami tetap berlatih untuk mematangkan penampilan yang akan kami suguhkan untuk semua warga SMA 3. Dan bertepatan dengan penerimaan raport sehingga orangtua murid pun otomatis melihatnya.
            Gladi bersih dilakukan H-1 yaitu pada hari Jumat. Ada perasaan rendah diri ketika kami melihat konsep dari kelas kelas yang besok juga akan tampil di acara ini. Konsep yang mereka bawakan bagus dan beragam, ada yang lucu, ada yang menyedihkan dan lain lain. Tapi kembali lagi ke konsep awal. Jangan ada rasa pesimis, kelas ku pasti juga akan bagus, lebih bagus malah.
            Dan tibalah hari dimana kami akan menampilkan sebuah karya kami, karya yang kami lakukan dengan kerja keras dan kekompakan. Kami tampil pukul 11.00 wib. Tapi kami berangkat pukul 05.00 wib. Mengapa? Karena kami akan dirias oleh para perias, dipakaikan sanggul dan tak ketinggalan baju tradisionalnya. Para pemain gamelan juga sama perlakuannya. Aku ngakak waktu Bima, dalang dari penampilan kami, memakai pakaian ala Parto OVJ, dan yang lucunya, dia dipakaikan bedak wkwk. Sudah wajahnya hitam, dikasih bedak. Bisa kalian bayangkan sendiri itu ya kwkw.
            Beberapa menit lagi kelas kami tampil. Rasanya campur aduk, antara takut, deg degan, gak sabar dan kebelet pipis wkwk. Ada rasa iri ketika melihat kelas lain yang sudah tampil, mereka bagus bagus dan menghayati apa yang mereka perankan, apalagi banyak orang yang bertepuk tangan refleks setelah disuguhkan pertunjukan. Tapi kembali lagi, aku dan kawan kawan harus berusaha keras agar penampilan kami lancar dan bermanfaat. Yang bisa kami lakukan sekarang adalah berdoa, oleh karena itu sebelum kelasku dipanggil oleh sang pembawa acara, kami sekelas berdoa kepada Allah semoga apa yang telah kita lakukan 3 bulan ini dapat kita tampilkan tanpa ada rasa kecewa.
            Dan penampilan kami pun dimulai. Sebelumnya, para pemukul gamelan memainkan musiknya yang menjadi pembuka di penampilan kami. Dan dalang pun mengatakan bagaimana alur pertama cerita kami berjalan. Pertamanya disebuah desa, 2 lelaki sedang menari dengan cerita kehidupan jaman dahulu yaitu mencangkul dan mencabut rumput, dan tiba-tiba datanglah sekelompok bocah dengan pakaian serba modern membawa tipe, mereka memperlihatkan kebolehannya dalam menari hiphop. Semua warga di desa tersebut kaget dengan kedatangan mereka, mereka bingung dengan tarian yang semrawut dan lagu yang bertempo cepat. Akhirnya sang kepala keluarga jengkel dan mematikan tipe itu. Akhrirnya terjadi adu mulut diantara mereka. Kemudian, sang kepala keluarga itu meminta agar para kelompok bocah itu untuk melihat tarian jawa yang begitu lembut dan indah yang sangat berbanding terbalik dengan penampilan mereka. Dan tarian jawa itupun dimulai. Dengan musik yang anggun, kami menari-nari dengan penuh percaya diri. Di cerita ini, akhirnya para kelompok bocah modern itupun takjub, karena tarian yang kami tampilkan. Akhirnya mereka mempunyai ide untuk berkolaborasi. Dan diakhir cerita, kami semua menarikan tarian modern dan diiringi sedikit gamelan di belakangnya. Setelah selesai, kami para penari membentangkan bendera putih dan merah, yang pnari laki-laki membawa mendera merah putih yang sudah dipasang di sebilah bambu yang panjang yang diiiringi oleh lagu gombloh yang berjudul merah putih kalau tidak salah. Dalang memberikan hormat kepada sang merah putih dan penonton pun juga berdiri dan hormat kepada merah putih. Jujur, aku terharu melihat hal itu. Akhirnya tepuk tangan penonton pun terdengar. Refleks timbul rona bahagia diantara kita, rasa lega yang kami rasakan begitu membuat hati tenang. Kami bahagia, Bahagia bisa melewati saat saat yang kita tunggu tunggu ini. Ya, senyuman diantara kami menandakan bahwa kami puas dengan apa yang telah kami lakukan tadi. Kerja keras yang kami lakukan tidak sia-sia.
Oh iya, aku disini juga merupakan panitia dari Pagelaran Seni ini, sebelumnya aku belum pernah merasakan betapa capeknya jadi panitia. Rapat panitia sepulang sekolah, dan aku pernah colo haha, mencari donatur kesana kemari, dan lain lain. Tapi setelah acara pagelaran terlaksana, aku merasa puas, aku bisa berlatih bagaimana caranya membuat suatu acara yang memang ternyata sulit. Aku mengerti banyak hal dengan adanya ikut berpartisipasi menjadi panitia seksi konnsumsi disini. Aku tahu bagaimana pesan makanan dalam jumlah besar, tawat menawar dengan mbak masnya. Asyik pokoknya, walaupun pulang sore terus, colo les terus. Terbayar sudah akhirnya.

Ini merupakan mengalaman yang mungkin sulit didapat selama hidupku. Untuk teman temanku, kalian luar biasa kawan, terimakasih kerjasama nya, terimakasih kekonyolannya, semoga dimasa tua nanti kita tersenyum melihat foto-foto kita dulu ya, menari, brmain gamelan, dan menjadi dalang.lol.
Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog