Senin, 23 Februari 2009


PROPOSAL TESIS

A. JUDUL
PENGARUH PENGELOLAAN WAKTU KEGIATAN LABORATORIUM BERWAWASAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP PENINGKATAN KOMPETENSI BERKOMUNIKASI ILMIAH

B. LATAR BELAKANG
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan kurikulum berbasis kompetensi karena lebih menekankan pada kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa. Kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai siswa tersebut dijabarkan mulai dari silabus yang kemudian terdapat indikator pencapaian kompetensi. Pada kurikulum sains (IPA: Kimia, Biologi dan Fisika) dikembangkan berbagai macam kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Salah satu kompetensi yang dituntut pada mata pelajaran sains adalah kemampuan melakukan kerja ilmiah.
Berdasarkan panduan Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaiaan yang dikeluarkan oleh Depdiknas (2003) kerja ilmiah mempunyai 4 (empat) kompetensi dasar yaitu: merencanakan penelitian ilmiah, melaksanakan penelitian ilmiah, mengkomunikasikan hasil penelitian ilmiah dan bersikap ilmiah.

Untuk mengembangkan empat macam kompetensi tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran kepada siswa dalam kegiatan laboratorium dengan melakukan percobaan dengan berwawasan inkuiri. Hal ini disebabkan pada pelaksanaan kegiatan laboratorium siswa banyak menggunakan ketrampilan proses secara ilmiah. Ketrampilan proses ilmiah ini meliputi kegiatan mengamati, mengumpulkan data, mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis, merancang percobaan dan menarik kesimpulan.
Menurut Semiawan (1992) komunikasi ilmiah dapat dilakukan secara verbal (lisan) maupun dengan non verbal (tulisan). Berkomunikasi secara verbal dapat dilakukan dengan cara mengadakan seminar atau mengundang orang lain untuk menyampaikan ide-idenya sehingga orang lain dapat memberikan penilaian atau menanggapinya. Sedangkan secara non verbal dapat dilakukan dengan membuat laporan hasil penelitian yang memuat data-data, gambar, grafik atau sejenisnya dalam rangka mendukung hasil yang didapat sehingga dapat dibaca oleh orang lain.

Indikator yang terdapat pada kompetensi komunikasi ilmiah antara lain: membuat dan menafsirkan tabel, menerapkan konsep, membuat dan menafsirkan grafik serta menyimpulkan. Laporan kegiatan praktikum dapat berfungsi sebagai cara untuk mengembangkan kompetensi komunikasi ilmiah.
Dengan model pembelajaran berwawasan inkuiri siswa dapat lebih terlibat aktif dalam kegiatan laboratorium serta dapat mengembangkan aspek afektif dan psikomotor siswa , dan hal ini perlu menjadi perhatian bagi para guru untuk melakukan penilaian secara khusus terhadap aspek afektif dan psikomotor dengan menyesuaikan aspek-aspek yang hendak diakses pada setiap kegiatan laboratoium.

Kimia sebagai mata pelajaran sains mempunyai 3 ranah penilaian yaitu : kognitif, afektif dan psikomotor. Untuk penilaian kognitif dapat dilakukan dengan cara mengadakan test tertulis, sedangkan untuk ranah psikomotor dapat dilakukan dengan kegiatan laboratorium. Selain ujian tertulis,kimia juga diujikan secara praktik. Banyak kendala yang ditemui oleh siswa ketika mengerjakan soal praktek karena tidak tahu harus mengerjakan apa terlebih dahulu. Kebingungan siswa ini selain siswa kurang memahami cara kerja alat dan variabel yang hendak di ukur,juga dikarenakan dalam kegiatan praktikum guru hanya memberikan langkah kerja yang harus dilakukan oleh setiap siswa.

Aspek penting lain yang mendukung keberhasilan belajar siswa adalah aspek pengelolaan waktu.Masalah waktu sering diabaikan oleh guru maupun penyusun jadwal kegiatan laboratorium.Pada umumnya penyusun jadwal di sekolah tidak mau direpotkan dengan masalah waktu,yang penting kegiatan pembelajaran dilaksanakan antara pukul 07.00 sampai dengan 14.00,kecuali untuk mata pelajaran olahraga.Asumsi bahwa melaksanakan kegiatan laboratorium disembarang waktu tidak berpengaruh terhadap kualitas pencapaian hasil belajar siswa masih perlu dibuktikan dengan penelitian.
Berdasarkan hal tersebut, penulis terinspirasi untuk melakukan penelitian pengaruh pengelolaan waktu terhadap peningkatan kompetensi berkomunikasi ilmiah siswa SMA kelas XI Ilmu Alam pada pokok bahasan laju reaksi. Pokok bahasan ini dipilih karena selain memungkinkan dilakukan dengan kegiatan laboratorium, materi tersebut akan lebih bermakna jika dilakukan dengan melakukan kegiatan laboratorium.
Berdasar hal tersebut maka penulis melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pengelolaan Waktu Kegiatan Laboratorium Berwawasan Inkuiri Terbimbing Terhadap Peningkatan Kompetensi Berkomunikasi Ilmiah”

C. PERUMUSAN MASALAH
Masalah yang diangkat dan akan dicari jawabannya pada penelitian ini adalah:
1. Seberapa besar pengaruh waktu kegiatan laboratorium terhadap peningkatan kompetensi berkomunikasi ilmiah?
2. Dengan kegiatan laboratorium berwawasan inkuiri terbimbing, ketrampilan apa sajakah yang dapat dikembangkan dari siswa dalam berkomunikasi ilmiah?

D. PENEGASAN ISTILAH
1. Kompetensi komunikasi ilmiah (mengkomunikasikan hasil kerja/penelitian ilmiah) merupakan salah satu kompetensi dasar dari kegiatan ilmiah yang mempunyai bebarapa indikator didalamnya. Tujuan yang hendak dicapai pada kompetensi komunikasi ilmiah ini adalah siswa dituntut mampu menyajikan hasil penelitian/kerja ilmiah dengan berbagai cara (lisan atau tulisan) kepada berbagai kelompok sasaran untuk berbagai tujuan (Depdiknas, 2003b:3)
2. Kegiatan laboratorium berbasis inkuiri adalah kegiatan laboratorium yang memungkinkan siswa untuk melakukan berbagai kegiatan antara lain : (1) mengeksplorasi gejala alam dan menyatakan permasalahan, (2) menyusun dan mengusulkan jawaban dugaan sementara (hipotesis), (3) mendesain dan melaksanakan cara pengujian hipotesis, (4) mengorganisasikan dan menganalisa data yang diperoleh , (5) merumuskan /menarik kesimpulan.
E. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Mendeskripsikan pengaruh waktu kegiatan laboratorium terhadap peningkatan kompetensi berkomunikasi ilmiah.
2. Mendeskripsikan ketrampilan-ketrampilan proses sains yang dapat dikembangkan dalam kegiatan laboratorium berwawasan inkuiri terbimbing.

F. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi guru,dapat menjadi dasar saat penyusunan jadwal kegiatan laboratorium
2. Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengalaman untuk melakukan kerja ilmiah dalam belajar kimia berwawasan inkuiri yang akan berguna saat siswa belajar pada jenjang berikutnya.

G. LANDASAN TEORI
1. Kurikulum 2004 dan KTSP
Untuk memperoleh sebuah konsep memerlukan sebuah proses. Dengan memahami fakta dan konsep yang sederhana secara benar maka konsep dan fakta yang lebih rumit akan dapat dipahami dengan benar pula. Mulai dari pemberian fakta dan konsep yang sedikit dan sederhana diharapkan siswa dapat terpancing dan tertarik menemukan hal yang lebih komplek. Untuk itu diperlukan suatu ketrampilan proses yang lebih menitik beratkan pada bagaimana siswa belajar, bagaimana proses pemerolehannya dan dapat dikembangkan untuk memecahkan persoalan yang lebih rumit.

Standar kompetensi bahan kajian sains yang diambil dalam penelitian ini adalah kompetensi dasar kerja ilmiah. Kompetensi yang dapat dikembangkan pada kerja ilmiah adalah sebagai berikut (Depdiknas,2003b:3) :


a. Merencanakan penelitian ilmiah
Siswa mampu mernbuat perencanaan penelitian sederhana antara lain menetapkan dan merumuskan tujuan penelitian, langkah kerja., hipotesis, variabel dan instrumen yang tepat untuk tujuan pendidikan.
b. Melaksanakan penelitian ilmiah
Siswa mampu melaksanakan langkah-langkah kerja ilmiah yang terorganisir dan menarik kesimpulan terhadap hasil temuannya.
c. Mengkomunikasikan hasil penelitian ilmiah
Siswa mampu menyajikan hasil penelitian dan kajiannya dengan berbagai cara kepada berbagai kelompok sasaran untuk berbagai tujuan.
d. Bersikap ilmiah
Siswa mengembangkan sikap ilmiah antara lain keingintahuan, berani dan santun, kepedulian lingkungan, berpendapat secara ilmiah dan kritis, bekerjasama, jujur dan tekun.

KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang mulai diterapkan secara nasional pada tahun pembelajaran 2007/2008 sebagai langkah penyempurnaan kurikulum 2004 (bukan kurikulum 2006) dalam standar isi mata pelajaran kimia tingkat SMA/MA (Depdiknas, 2006: 507) Ilmu Pengetahuan (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala alam secara sistematis,sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,konsep-konsep,atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.Kimia merupakan ilmu yang termasuk rumpun IPA,oleh karenanya kimia mempunyai karakteristik sama dengan IPA.Karakteristik tersebut adalah obyek ilmu kima,cara memperoleh,serta kegunaan.Kimia merupakan ilmu yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaab(induktif) namun pada perkembangan selanjutnya kimia juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori(deduktif).Ada dua hal yang berkaitan dengan kimia yang tidak terpisahkan,yaitu kimia sebagai produk(pengetahuan kimia yang berupa fakta,konsep,prinsip,hukum,dan teori) temuan ilmuwan dan kimia sebagai proses(kerja ilmiah).Oleh sebab itu,pembelajaran kimia dan penilaian hasil belajar kimia harus memperhatikan karakteristik ilmu kimia sebagai proses dan produk.

Sedangkan tujuan pelajaran kimia di SMA pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006:508) agar peserta didik mempunyai kemampuan sebagai berikut :
1. Membentuk sikap positif terhadap kimia dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
2. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, obyektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain
3. Menerapkan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen,dimana peserta didik melakukan pengujian hipotesis dengan merancang percobaan melalui pemasangan instrumen,pengambilan,pengolahan,dan penafsiran data,serta menyampaikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis.
4. Meningkatkan kesadaran tentang terapan kimia yang dapat bermanfaat dan juga merugikan bagi individu,masyarakat,dan lingkungan serta menyadari tentang pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat.
5. Memahami konsep,prinsip,hukum,dan teori kimia serta saling keterkaitannya dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.
6. Menggunakan pengetahuan dasar kimia dalam kehidupan sehari-hari,dan memiliki kemampuan dasar kimia sebagai landasan dalam mengembangkan kompetensi di masing-masing bidang keahlian.

2. Inkuiri terbimbing
Pembelajaran sains di banyak sekolah kurang melibatkan ketrampilan proses Pengajaran sains sering hanya ditekankan pada penghafalan rumus-rumus ataupun konsep-konsep sehingga pengajaran sains lebih ditekankan pada produk daripada proses-proses sains itu sendiri.
Menyikapi kondisi tersebut para ahli pendidikan telah dan terus berusaha dalam mengembangkan pembelajaran sains. Salah satunya adalah dengan mengembangkan metode mengajar yang menekankan keterlibatan siswa dalam proses belajar yang aktif melalui kegiatan-kegiatan yang berorientasikan pada inkuiri. Kegiatan inkuiri menurut Amien (1987:126) adalah suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri.
Bagi seorang siswa yang membuat penemuan-penemuan, harus melakukan proses-proses mental, misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan sementara, menjelaskan, mengukur, menarik kesimpulan, dan sebagainya.
Model inkuiri didefinisikan oleh Piaget (Sund dan Trowbridge, 1973) sebagai: pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol-simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain.

Model pembelajaran inkuiri bertujuan membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk membangkitkan pertanyaan yang muncul dari rasa keingintahuannya dan upaya mencari jawaban secara mandiri.
Metode inkuiri memberi ruang kepada siswa untuk bertanya : mengapa peristiwa terjadi ?, kemudian berusaha menghimpun data dan mengolahnya, sehingga dengan caranya itu dapat menentukan jawaban yang bersifat sementara(hipotesis).

Menurut jenisnya inkuiri dibagi menjadi dua , yaitu inkuiri bebas dan inkuiri terbimbing. Pada jenis inkuri bebas siswa melakukan kegiatan tanpa petunjuk khusus dan lagkah dari guru. Sehingga pengetahuan awal siswa menjadi sangat penting. Pada inkuiri bebas kemampuan awal siswa dituntut harus tinggi sehingga tidak semua sekolah maupun siswa dapat menggunakan metode ini. Sedangkan inkuiri terbimbing masih memungkinkan guru memberikan arahan yang cukup sehingga siswa tahu apa yang harus dilakukan. Syarat menggunakan pendekatan ini lebih lunak dibandingkan inkuiri bebas sehingga hampir semua siswa dapat melakukan bersama guru bidang studi masing-masing.

Keunggulan metode inkuiri menurut Roestiyah (1998) siswa akan memahami konsep dasar dan menemukan ide-ide lebih baik; menghindarkan siswa dari cara belajar menghafal; kegiatan belajar mengajar terpusat pada siswa; proses belajar mengajar menjadi lebih menarik, memberi kebebasan siswa dalam belajar sendiri sehingga akan termotivasi untuk beiajar; dan dapat mengembangkan bakat atau kemampuan individual.

3. Kegiatan Laboratorium
Proses pembelajaran selain ditentukan oleh guru dan siswa juga ditentukan oleh sarana prasarana dan media pembelajaran. Laboratorium merupakan salah satu sarana pendidikan yang peranannya tidak bisa dianggap kecil. Laboratorium pendidikan diutamakan sebagai alat bantu mengajar, walaupun tidak menutup kemungkinan digunakan dalam penelitian, baik oleh guru maupun siswa.
Melalui kegiatan praktikum (kegiatan laboratorium), siswa dapat mempelajari sains melalui pengamatan langsung terhadap gejala-gejaia maupun proses-proses sains, dapat melatih keterampilan berpikir ilmiah, dapat menanamkan dan mengembangkan sikap ilmiah, dapat menemukan dan memecahkan berbagai masalah baru melalui metode ilmiah dan lain sebagainya. Selain itu kegiatan laboratorium dapat membantu pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Kegiatan laboratorium dapat dibagi menjadi dua yaitu kegiatan laboratorium yang bersifat verifikatif dan kegiatan laboratorium bersifat inkuiri.
Kegiatan laboratorium bersifat verifikatif merupakan kegiatan laboratorium dengan menggunakan petunjuk yang telah disediakan untuk membuktikan konsep atau fakta yang telah diketahui siswa sebelumnya. Kegiatan laboratorium bersifat inkuiri adalah kegiatan laboratorium yang memungkinkan siswa berusaha menemukan konsep atau fakta yang belum diketahui siswa sebelumnya.
Kegiatan laboratorium bersifat inkuiri lebih berbobot dari kegiatan laboratorium bersifat verifikasi yang dirasakan kurang mengoptimalkan keterampilan proses yang seharusnya dimililki siswa. Karena dalam kegiatan laboratorium berbasis inkuiri siswa dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan kerja ilmiah selama kegiatan berlangsung.

4. Kompetensi Dasar Komunikasi ilmiah
Standar kompetensi dari kerja ilmiah (Depdiknas 2003b) adalah merencanakan penelitian ilmiah, melaksanakan penelitian ilmiah, mengkomunikasikan hasil penelitian ilmiah, dan bersikap ilmiah. Kompetensi dasar berkomunikasi ilmiah merupakan bagian yang penting dalam bekerja ilmiah, karena dengan kompetensi ini semua orang dapat melemparkan ide-idenya. Menurut Semiawan (1992:32-33), mengkomunikasikan hasil kerja ilmiah dapat dilakukan secara verbal maupun non verbal. Secara non verbal misalnya dengan membuat laporan penelitian hasil kerja ilmiahnya yang memuat gambar, model, tabel, diagram, atau grafik sehingga dapat dibaca orang lain.

H. METODOLOGI PENELITIAN
1. Pendekatan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
2. Subyek dan Lokasi Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 4 Pekalongan kelas XI IIA Penelitian dilaksanakan di kelas dan di Laboratorium kimia SMA Negeri 4 Pekalongan.

I. VARIABEL PENELITIAN
Variabel penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu :
1. Variabel bebas berupa waktu pelaksanaan kegiatan laboratorium.Kegiatan dilakukan pada tiga paruh waktu yaitu awal,tengah dan akhir jam sekolah.
2. Variabel terikat yang terdiri dari indikator-indikator dalam berkomunikasi ilmiah Indikator yang diteliti dalam penelitian ini adalah kemampuan membuat dan menafsirkan tabel, membuat dan menafsirkan grafik, menerapkan konsep dan menyimpulkan.

J. INSTRUMEN PENELITIAN
a. Instrumen tentang perangkat pembelajaran berupa lembar kerja siswa (LKS) materi Laju reaksi
b. Instrumen untuk evaluasi berupa tes tertulis berbentuk essai, lembar pengamatan, format penilaian LKS dan format penilaian laporan

K. TEHNIK PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
1. Pengumpulan Data
a. Tes Evaluasi berupa pre tes dan pos tes yang memuat indikator-indikator berkomunikasi ilmiah. Materi tes adalah materi yang akan dipraktikumkan. Tes ini dilakukan pada awal dan akhir penelitian.
b. Lembar Kerja Siswa
Lembar kerja siswa ini berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan kegiatan laboratorium yang akan dilaksanakan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bertujuan untuk menggali kemampuan berkomunikasi ilmiah siswa.
c. Laporan praktikum
Hal yang harus dilakukan oleh setiap siswa setelah melakukan kegiatan laboratorium adalah membuat laporan praktikum. Dari laporan praktikum dapat diketahui sejauh mana kompetensi berkomunikasi ilmiah dapat dikuasai siswa.
d. Lembar Pengamatan / Observasi
Selama proses berlangsung (sebelum, selama dan sesudah praktikum) di amati dengan lembar pengamatan tertentu. Pengamatan dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan siswa berkomunikasi ilmiah.


2. Teknik Pengolahan Data
a. Uji Normalitas
Semua data yang diperoleh dilakukan uji normalitas. Uji ini berfungsi mengetahui apakah data-data tersebut terdistrubusi normal atau tidak.
b. Uji Signifikansi
Uji ini dilakukan untuk menguji signifikansi data yang diperoleh dari penelitian. Uji yang dilakukan adalah dengan uji t dengan taraf signifikansi 0,5 % dimana jika thitung > tkritis maka data bersifat signifikan pada taraf tersebut (Suharsimi, 1990)





















Daftar Pustaka

Amien, Moh. 1987. Mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan Menggunakan Metode Discovery dan inkuiri. Jakarta : Depdikbud.
Arikunto, Suharsimi. 1990. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
_____________. 2003. Kurikulum SMA 2004. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian. Jakarta : Depdiknas
______________. 2006. Kurikulum KTSP SMA. Stadar Isi Mata Pelajaran SMA.Jakarta : Depdiknas
______________. 2006. Kurikulum KTSP SMA. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus. Jakarta : Depdiknas
Roestiyah. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Semiawan, Conny. 1992. Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta: Grasindo.
Sund, R.B, dan Trowbridge, Leslie W. 1973. Teaching Science By Inquiry In The Secondary School, Second Edition, Columbus: Charles E.Merill Publishing Company.






Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog