Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Desember 2018

Perjuangan Seorang Pemuda Bernama Park



Hai perkenalkan namaku Park Soo Hee, mungkin kalian yang membacanya akan merasa sedikit aneh tapi begitulah nama yang diberikan oleh kedua orang tua yang bermarga Park. Sebenarnya aku memiliki nama lain tapi yasudahlah disini kan aku mau cerita tentang kakakku bukan tentangku. Aku akan meceritakan tentang kisah lebih tepatnya cerita bagaimana dia bisa menjadi seperti sekarang ini. Sebelumnya, aku memang meliki seorang kakak atau dalam bahasa korea nya disebut "oppa" yang bernama Park Jimin. Mungkin bagi sebagian orang atau bahkan semua orang di dunia tahu tentang siapa tentang oppa-ku itu. Park Jimin atau biasa dikenal dengan sebutan Jimin BTS. Dia adalah salah satu member dari boyband yang cukup terkenal di Korea Selatan bahkan sekarang mungkin sudah terkenal di dunia. Tidak bukan mungkin tapi memang iya boyband K-pop itu sudah terkenal di seluruh dunia. BTS atau Bangtan Sonyeondan tersebut sudah dikenal oleh seluruh dunia yang kebanyakan didominan oleh kaum wanita yang pastinya mereka tergila-gila dengan ketampanan para member dan tentu saja dengan kemampuan yang dimiliki dari masing-masing member. Oh apalagi oppa-ku, dia begitu tampan dan imut di usianya yang sudah berumur 24 tahun tersebut, siapa lagi oppa-ku kalau bukan Park jimin. Walaupun wajah kami beda jauh tapi kami lahir dari rahim yang sama dan orang tua kami juga sama loh. Oke cukup buat penjelasan tentang BTSnya, karena disini aku akan menceritakan tentang perjuangan ataupun rintangan apa saja yang dihadapi oleh kakakku dari dia debut sampai sudah menjadi seorang bintang terkenal di dunia dengan boygroup nya itu.
Park Jimin atau Jimin BTS merupakan salah satu member BTS sama seperti yang aku jelaskan tadi, dia mempunyai talenta yang cukup baik. Kakakku itu memiliki suara yang menurutku ataupun fansya yang disebut sebagai ARMY itu suara bagus banget dan juga kemampuan menari yang dimilikinya juga sangat mumpuni alias sangat baik karena dia juga teemasuk dalam dance line di dalam grup yang berada di bawah naungan Bighit Entertainment alias Bangtan Sonyeondan atau BTS selain J-Hope dan Jungkook yang merupakan salah satu member BTS juga. Aku cukup tahu mengenai hal ini karena aku adiknya maksudnya aku cukup tahu tentang hal tersebut karena dia pernah di sekolahkan di sekolah menari selama beberapa tahun. Aku begitu bangga dan bersyukur sebenarnya memiliki seorang kakak seperti dia dan keluargaku ayah dan ibu pun begitu bangga dengan dia padahal aku juga tidak begitu buruk untuk dibanggakan walaupun aku tidak sehebat dia. Itu disebabkan karena dirinya yang selalu saja bersikap baik kepada siapapun itu dan hatinya yang lembut seperti malaikat makanya dia sering disebut sebagai malaikat oleh para fans nya maupun oleh para member yaitu para hyung nya yaitu Kim Seokjin, Kim Namjoon, Jung hoseok dan juga oleh Kim Taehyung dan Jeon Jungkook. Aku saja sebagai adiknya tidak bisa marah kepadanya karena aku begitu gemas jika melihat dia marah ataupun kesal karena wajahnya yang terlalu imut itu. Dan jangan lupa dia juga merupakan idolaku atau bias ku di BTS walaupun dia kakakku tetap saja aku mengidolakannya baik sebagai kakak maupun sebagai idol dia mempunya peran yang berbeda dalam diriku.
Awalnya aku berpikir semuanya akan baik-baik saja ketika dia mulai   merintis karirnya sebagai seorang "idol". Jimin yang mulai disibukkan semenjak menjadi Trainee hingga sampai dirinya dan anggota BTS lainnya memulai debutnya pada tahun 2013. Dia semakin jauh dari jangkauanku, iya walaupun aku adalah adik dari seorang Park Jimin tetap saja aku sekarang seperti seseorang yang asing baginya Jimin yang disibukkan oleh semua tanggung jawab yang sekarang menjadi tugasnya yaitu sebagai idol. Aku ingin Jimin yang dulu, seorang Park Jimin yang menjadi kakakku bukan hanya menjadi seorang idol bagiku. Tetapi, walaupun seperti itu dia tetap berusaha memberi kabar kepadaku, ayah dan ibu. Dan dia juga berkunjung ke rumah itupun sangat jarang sekali. Pernah juga aku tidak sengaja bertemu dengannya di jalan. Kebetulan waktu itu aku lagi di Seoul jadi aku sekalian berlibur. Dia sedikit berubah, tidak lebih tepatnya dia banyak berubah. Berubah dari segi postur tubuh dan sikapnya atau mungkin itu hanya perasaan seorang adik kepada kakaknya yang sudah lama tidak bertemu. Tapi, jika dilihat diatas panggung dia begitu berbeda dari yang sekarang di hadapanku. Jimin selalu menjadi seorang yang profesional diatas panggung dan itu pun terasa sampai dia diluar stage saat dia tampil. Seperti yang sekarang aku liat bahwa dia sedang tidak jadi dirinya sendiri. Dia mencoba untuk menjadi orang lain.
"Bagaimana kabar kau kak? Kau keliatan begitu berbeda dari terakhir kali aku melihatmu? "
"Hai Soo Hee, kenapa kau disini? Oh kabarku baik-baik saja. Bagaimana kabar ayah dan ibu? Apakah mereka sehat? "
"Apakah kau benar-benar lagi baik-baik saja, kelihatannya kau sedang menutupi sesuatu dariku? "
"Hmm itu..... Baiklah aku duluan ya. Mungkin aku juga sudah ditunggu para memver di dorm. Hati-hati Soo Hee. " jimin langsung memutus pembicaraan kita dan dia langsung pergi begitu saja.
Setelah kejadian tersebut aku dan Jimin sudah tidak bertemu sama sekali karena dia yang disibukkan dengan kegiatannya dalam mempromosikan album terbaru mereka dan akan mengadakan konser Love Yourself yang sudah diadakan pada 25 Agustus 2018.
Sebelum aku mencertiakan seorang Park Jimin kakakku yang sekarang, aku akan mencerutakan terlebih dahulu tentang perjuangan dia dari awal sebelum debut dan menjadi seorang idol yang terkenal seperti sekarang.
Perjalanannya hingga sampai di dunia entertainment saat ini berawal dari gurunya yang menyarankan Jimin untuk ikutan audisi setelah ia pindah ke Busan High School of Arts tepatnya di modern dance department.
"Jiminie aku harap kau tidal menyiakan bakat yang kau miliki saat ini. "
"Maksud bapak bagaimana, saya kurang paham? "
"Karena saya mengenalmu sudah lama saya menyarankan kepadamu untuk mengikuti audisi di dunia entertainment. Kau mempunyai bakat yang cukup kompeten jimin. "
"Bisa saya pikirkan dulu dan saya bicarakan sama keluarga saya pak. "
"Baik, saya harap kau tidak salah memilih."
Setelahnya Jimin berbicara kepada kedua orang tuanya mengenai hal tersebut dan mereka setuju saja juga aku sebagai adiknya mau gimana lagi karena itu yang terbaik buat dia dan siapa tahu bisa mengubah ekonomi dalam keluarga kita. Akhirnya, Jimin mengikuti salah satu audisi yang diadakan oleh agensi kecil di Korea Selatan yang bernama Bighit Entertainment. Yap agensi tersebut merupakan agensi yang cukup kecil di Korea Selatan dan tidak begitu terkenal di kalangan masyarakat. Jimin merupakan member terakhir yang bergabung dalam BTS. Dia mengikuti audisi tersebut dengan menunjukkan bakatnya dalam menari balet dan hal tersebut membuat bighit sedikit mempertimbangkannya. Sebenarnya 2 hari sebelum debut resmi BTS, Jimin hampir tereliminasi dari grup tersebut. Aku tau hal tersebut bukan karena dia cerita sama aku melainkan aku tahu dari acara tv yang aku tonton. Hal ini terungkap saat BTS tampil di program khusus Mnet berjudul "BTS Comeback Show DNA" yang tayang pada Kamis, 21 September lalu. Dan itu sedikit membuatku merasa sedih karena melihat kakakku berjuang sendiri tanpa ada yang membantu. Dan untungnya ada salah satu member yang membantu Jimin agar tidak tereliminasi dari grup tersebut, dia bernama Kim Taehyung atau sering dikenal dengan nama "V". Dia seumuran dengan kakakku dan dia cukup dekat dengan kakakku mereka sering bertukar cerita baik sedih maupun senang.
"Saya harap Bang PD tidak mengeluarkan Jimin sebelum debut karena dia sangat berusaha dan terus berlatih dengan giat untuk menunjukkan bahwa dirinya itu pantas untuk ikut dalam grup ini dan berjuang bersama kami membuktikan kepada semua orang bahwa kami walaupun dari agensi kecil di Korea Selatan kami akan terkenal dan memiliki fans di seluruh dunia. "
Bang PD selaku pimpinan dari Bighit Entertainment sempat termenung memikirkan apa yang sudah dikatan oleh V waktu itu dan dia pun akhirnya menyetujui dan tidak akan mengeluarkan Jimin.
"Baiklah, saya akan memberi dia kesempatan untuk menunjukkan bahwa dia pantas untuk menjadi seorang idol. "
Semua anggota merasa bahagia karena mendengar hal terdebut. Dan juga pada acara tersebut Jimin menyebutkan bahwa tanpa dirinya bts tidak akan terbentuk ya walaupun itu cuma lelucon yang dia katakan untuk menghibur para fans.
Setelah menceritakan kisahnya, Jimin berkata, "Ada terlalu banyak orang yang bertentangan denganku".
Member BTS lainnya ikut menambahi, "Dia hampir saja tereliminasi dua hari sebelum debut resmi kami".Jimin pun mengangguk dan berkata cepat, "Tapi BTS itu jadi lengkap karena aku."
Hal tersebut aku dengar dari acara yang aku tonton tadi. Di sesi lain di acara yang sama, Jimin menambahkan jika dirinya juga pernah melalui masa-masa sulit selama berjuang menjadi seorang artis seperti yang diimpikannya. Dalam perjuangan yang sulit tersebut, kakakku tidak lepas dari sosok V. Pasalnya, sejak masa trainee dulu, Jimin dan V memiliki hubungan paling dekat dibandingkan dengan member lainnya. Sama seperti yang aku katakan tadi bahwa V dan Jimin seperti seorang saudara mereka sangat dekat sekali, padahal aku sebagai adiknya saja jarang seperti itu. Idol yang memiliki nama asli Kim Taehyung itu pernah menceritakan masa-masa yang mereka lalui bersama.
            "Sejak masa trainee kami, kami datang ke Seoul tanpa petunjuk. Kami terbangun, mengenakan seragam sekolah dan bersekolah di sekolah yang sama. Kami makan bersama, pergi berlatih dan kembali ke asrama. Lalu kami berbicara di malam hari. Setelah 6 tahun seperti itu, dia adalah teman yang sangat aku sayangi," kata V.
"Iya kami begitu dekat bahkan adik saya pun kalah dengan V karena kedekatan yang kami jalani ini sudah seperti saudara. Begitupun dengan member lain kami selalu mencoba untuk membuat semuanya supaya terlihat baik-baik saja meskipun ada masalah kita akan mencoba menyelesaikannya dengan kepala dingin. "
Setelah menghadapi perjuangan yang begitu sulit, akhirnya Jimin dan member BTS lainnya kini mendapatkan hasil yang sepadan dengan apa yang mereka perjuangkan dulu. Salah satunya album bts masuk ke salah satu deretan lagu di billboard dan mereka juga memenangkan artis terpopuler di sosmed. Begitupun kakakku dia akhirnya mendapatkan kesuksesan yang cukup mengagumkan. Dia dan memver bts lainnya akan mengadakan konser Wing Tour yang diadakan pada tahun lalu. Bukti dari konser tersebut yaitu adanya video yang menceritakan bagaimana kisah dibalik konser tersebut yang memperlihatkan bagaimana perjuangan member BTS mempersiapkan konser tersebut supaya berjalan lancar dan tidak mengecewakan fans mereka. Salah satu yang selalu aku ingat adalah disaat kakakku Park Jimin mengalami berbagai masalah pada waktu konser Wings Tour tersebut berjalan. Waktu itu aku ikut menonton konser tersebut dan waktu bagian Jimin nyanyi lagunya yabg berjudul "Lie" aku mendengar bahwa suaranya sedikit fals dan aku melihat wajahnya yang menunjukkan kalau dia merasa kecewa dengan apa yang dia tampilkan. Aku mendengar bahwa Jimin menangis waktu sampai di belakang stage dan aku pun langsung menyemangatinya karena berhubung konser sudah selesai dan mungkin dia sedang istirahat.
"Aku mendengar bahwa kau tadi merasa kecewa ya dengan apa yang sudah kau tampilkan?"
"Bagaimana kau tau? "
"Aku ini adikmu jadi aku tahu semua tentangmu, bagaimana sikapmu saat sedang ada masalah. "
"Hmm.. Yaudah makasih atas perhatianmu. Jaga kesehatanmu ya titip salam juga sama ayah dan ibu. Disini aku sedang berjuang untuk menjadi lebih baik lagi. saranghae Park Soo Hee. "
"Iya nado saranghae oppa. Jaga kesehatanmu juga jangan selalu memaksakan apa yang diinginkan oleh fansmu. Mereka juga khawatir kepadamu. Iya nanti aku sampaikan kepasa ayah dan ibu. Sana istirahat. "
"Iya. Kau hati-hati"
Iya begitulah percakapanku dengan kakakku yang terbilang cukup singkat. Tapi itu tidak apa-apa yang penting aku tahu bagaimana keadaannya.
Sudah, cuma segitu yang bisa aku ceritakan tentang kakakku Park jimin dan sampai sekarang pun aku selalu bahagia walaupun dia jarang berkumpul denganku tapi aku selalu menghadiri acara yang ada dia nya. Perjuangan seorang Park Jimin memang sangat membuahkan hasil sampai sekarang pun perjuangan tersebut tidak dilupakan oleh dia karena tanpa sebuah perjuangan dia tidak akan dikenal oleh semua orang bahkan oleh seluruh dunia sekaligus karena bakatnya dalam menyanyi, menari dan ketampanan yang dimilikinya. Begitulah kisah seorang Park Jimin dalam menggapai kesuksesan yang dimilikinya.

Rabu, 01 April 2009

TERIMA KASIH

TERIMAKASIH SAYANGKU

Namaku Hani Priatna Kusumah, tapi orang – orang biasa memanggilku dengan sebutan gembrot. Ya memang sih badanku agak gendut, tapi sebenarnya nggak gendut – gendut amat kok!
Aku punya sebuah kisah yang sangat menarik, yang tidak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Kisah ini adalah kisah cintaku dengan Bian.

Waktu itu aku masih duduk di bangku SMA.Bian itu adalah kakak kelasku. Aku mengenal dia ketika dia mengumumkan kegiatan ekstrakulikuler PASUS(Pasukan Khusus). Pertamakali aku melihat dia, aku menyukai dia secara fisiknya saja. Badannya yang tinggi dan kekar, kulitnya yang putih, serta rambutnya yang pirang, memang membuat semua cewek jadi tergila – gila dengannya, begitu pula denganku. Karena aku begitu tergila – gila sama Bian, aku jadi ikut ekstrakulikuler PASUS ,walaupun sebenarnya, aku paling males sama yang namanya baris – berbaris. Setelah aku masuk ke dalam anggota PASUS, aku jadi lebih mengenal Bian. Dia ternyata orangnya disiplin banget. Aku pernah telat lima menit saja langsung disuruh lari ngelilingin lapangan sebanyak tiga kali.Tapi karena kejadian itu aku jadi tambah suka sama si Bian, karena aku tau kalau sifatnya itu baik.
Ada satu kejadian yang membuat jantungku berdetak cepat.Waktu itu aku berangkat ekstrakulikuler PASUS, aku membawa sebuah buku yang berjudul “Resep – resep Aneka Kue”. Buku itu aku letakkan di atas meja di dalam kelas dan aku berada di lapangan. Sewaktu aku pulang aku lupa membawa buku itu. Dan malam harinya Bian datang ke rumahku.

“Ini buku kamu ya?”
“Iya.”
“Tadi buku ini aku temukan di kelas X.1, aku baca,ternyata punya kamu.”
“Oh.”
“Suka masak ya?”
“Iya.”
“Kok suka masak?Kenapa?”
“Ya biar nggak malu aja…”
“Malu?Malu kenapa?
“Ada deh..!”

Aku benar – benar gugup saat itu. Itu pertama kalinya ada cowok yang datang ke rumahku.Tetapi walaupun aku gugup tetapi aku tidak memperlihatkan kegugupanku itu.

“Kak Bian udah makan?”
“Belum sih.”
“Makan yuk!”
“Ah, nggak usah.Terima kasih.”
“Nggak apa – apa kok.Yuk!”
“Ya udah deh.”

Kami makan sambil berbincang – bincang. Bian menanyakan kepadaku, apakah makanan itu yang membuat aku sendiri. Dan aku menjawab ya. Memang buatanku sendiri, nggak bohong. Dan dia mengatakan kalau masakanku enak.
Semenjak itu hubunganku dengan Bian jadi lebih akrab.Aku senaaaaaang sekali.

Suatu hari ketika aku sedang mengunjungi sebuah panti asuhan di kotaku, aku bertemu dengan Bian. Dia bertanya kepadaku kenapa aku ada di tempat itu. Aku jawab saja kalau aku suka pergi ke tempat itu, karena jika aku pergi ke tempat itu akan merasa senang.

……………

Ketika Bian duduk di kelas tiga, aku merasa sedih sekali, karena sebentar lagi dia akan meninggalkan sekolahan ini. Aku sangat berharap agar Bian menyatakan rasa cintanya kepadaku. Tapi yang aku tunggu – tunggu tak juga kunjumg tiba. Aku tetap optimis kalau Bian suka kepadaku, dan dia belum menyatakannya kepadaku karena dia sedang sibuk untuk menghadapi ujian nasional.
Setelah ujian selesai dan Bian sudah mendapatkan universitas yang akan ia tempati, dia tak juga kunjung menyatakan cintanya kepadaku. “Kurang satu bulan lagi sebelum dia pergi dari sini.”Pikirku. “Masih ada waktu.Ya aku harus tetap optimis bahwa Bian suka sama aku.”



……………


Tiba – tiba saja aku demam tinggi, hingga aku harus dirawat di rumah sakit. Aku menggunakan kesempatan itu untuk memancing Bian, agar dia mau mengungkapkan rasa cintanya kepadaku. Aku membuat rencana dan aku memberitahukan rencana itu kepada Lila.

“Bi, Hani sakit, dan dia sekarang sedang dirawat di rumah sakit!”
“Sakit apa La?”
“Dia…..!”
“Kenapa La?Dia sakit apa?”
“Dia menderita kanker darah,Bi!Kata dokter umurnya sudah tidak Panjang lagi!”
“La, kita harus ke rumah sakit sekarang!Aku khawatir sama dia La!”

Setelah Bian sampai di rumah sakit, aku pura – pura tak sadarkan diri. Lila keluar dari tempat dimana aku di rawat. Bian berbisik kepadaku kalau ternyata selama ini dia munyukaiku. Aku bangun dan tertawa. Melihat itu Bian marah dan dia beranjak untuk keluar. Aku menarik tangannya dan aku pun mengatakan bahwa aku juga suka sama dia.
Tanggal 14 Februari, bertepatan dengan hari valentine dan bertepatan pula dengan hari ulang tahunku, aku dan Bian jadian. Senang sekali hati ini.Ditambah lagi Bian memberiku sebuah boneka beruang yang sangat lucu. Ternyata Bian mempunyai rencana akan meenyatakan cintanya kepadaku waktu hari valentine.


……………..
“Bi, sebenarnya aku punya sebuah rahasia.”kataku suatu ketika.
“Rahasia apa?”
“Sebenarnya sewaktu aku kecil, orang tuaku bercerai. Setelah itu aku memilih tinggal di panti asuhan. Ayahku menikah lagi, namun pernikahan beliau tidak berjalan lama. Mereka bercerai lagi. Begitulah seterusnya.Ibuku juga sama. Pernikahan ayah dan ibuku yang selalu gagal itulah yang menyebabkan tidak ada cowok yang mau denganku.Mereka menganggap bahwa itu adalah suatu kutukan buat keluargaku yang akan menular ke anaknya.. Tapi ayah dan ibuku sekarang sudah bersama kembali. Mereka saling mengintrospeksi diri sendiri.Mereka merasa masih saling mencintai.”
“Han, walau bagaimanapun keadaanmu, aku tetap sayang sama kamu kok!”
“Terima kasih ya Sayang!”
Kami berdua tersenyum.

Seminggu setelah itu Bian berpamitan untuk pergi ke Yogya. Aku sedih. Air mataku tak kuasa menetes. Tapi aku sadar, bagaimanapun ini akan terjadi. Aku akan berpisah dengan Bian.

……………

“Hai!”sapaku.
“Hai juga! Bagaimana kabarnya?”
“Baik!”
“Lama tidak bertemu ya?”
“Iya!”
Sejenak kami terdiam, kemudian Bian berbicara,”Han, Selamat datang ya di UGM!”
“Iya Bi!”
“Nanti malam kita jalan yuk!”
Aku hanya mengangguk.



THE END

SEBUAH PESAN

Sebuah Pesan
Oleh : Nisa Kusumaningtyas

Awan mendung menyelimuti desa Sekarwangi. Di depan rumah sederhana yang terletak paling pojok, tampak seorang gadis berjilbab lebar sedang duduk lesu menanti seseorang. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Di hatinya berkecamuk sebuah perasaan. Perasaan tidak enak yang mengatakan telah terjadi sesuatu pada kedua orang tuanya.
***
Sebulan yang lalu, tepat disaat Aini pulang sekolah, ia menemukan sepucuk surat yang ditulis oleh orang tuanya. Pelan-pelan ia membuka surat itu,kemudian ia membacanya.


Assalammualaikum Wr.Wb
Anakku, hari ini bapak dan ibu pergi ke kota. Kemarin ibu gurumu memanggil bapak dan ibu datang ke sekolah. Disana beliau mengatakan bahwa kamu anak yang pandai, baik, dan rajin. Bapak dan ibu bangga dengan prestasimu. Kami berharap,setelah lulus SMP kamu dapat melanjutkan sekolah.Oleh karena itu bapak dan ibu akan berusaha mencari biaya pendidikanmu selanjutnya. Pekerjaan bapak sebagai buruh tani hanya cukup untuk makan,sedangkan ibu tidak memiliki penghasilan apapun.Di desa tidak banyak yang bisa kami harapkan, hingga kami memutuskan pergi ke kota,mungkin disana kami akan lebih banyak mendapatkan uang.
Anakku, maaf jika kami tidak membicarakan keputusan ini denganmu. Kami khawatir, kamu tidak akan memperbolehkan kami untuk pergi. Kami takut jika kamu malah tidak mau sekolah karena iba kepada kami. Ketahuilah anakku, bapak dan ibu ingin agar kamu bisa menjadi sukses, tidak seperti kami. Untuk itu kamu harus sekolah yang tinggi.
Anakku, ayah dan ibu akan pergi selama satu bulan.setelah itu kami akan pulang. Nak, jika terjadi sesuatu dengan kami, kamu pergilah ke rumah bulik Rosi. Kamu tinggallah disana. Mereka memang bukan Islam, tapi kami merasa hanya merekalah yang paling mampu di antara keluarga kita. Asalkan kamu tetap pada keyakinanmu, maka kamu akan selamat.
Aini….Sekian surat dari kami. Jaga dirimu baik-baik!
Wassalammualaikum Wr.Wb.




Airmata Aini meleleh. Ia merasa sedih dan takut. Sedih karena ia akan ditinggal orang tuanya.Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus tinggal sendiri di rumah. Tapi Aini sangat takut karena isi surat itu seperti salam perpisahan. Salam perpisahan dari ayah dan ibunya yang sepertinya tidak akan kembali untuk selamanya.
***
“Huh, sudah jam sembilan kenapa bapak dan ibu belum pulang ya?”kata Aini dalam hati.
“Ya Allah, mengapa perasaanku tidak enak!”
“Astaghfirullah, aku tidak boleh berpikir macam-macam!”
Aini pun masuk ke dalam rumah. Saat ia akan membuka pintu,terdengar suara sirine mobil ambulance dan mobil polisi datang mendekat. Ternyata mobil itu berhenti di depan rumah Aini.Aini berlari mendekati mobil ambulance itu. Tampak disana dua sosok mayat terbujur kaku masih berlumuran darah.
“Bapak ibu!”Teriak Aini sambil memeluk jenasah ayah ibunya.
“Mengapa kalian meninggalkan Aini?”
“Aini takut sendirian Bu,Pak!”
Tangis Aini semakin kencang. Ia tidak menyangka ini akan terjadi kepadanya. Ia belum siap menghadapi kenyataan ini.
“Nak!”sapa seorang polisi yang sedari tadi mengawasi Aini.
“Kita duduk disana yuk, biar ayah dan ibu dibawa masuk!”
Aini mendesah dan ia berdiri meninggalkan orang tuanya.“Ya!”kata Aini lemah.

“Ini.”pak polisi menyerahkan sebuah bungkusan.
“Apa ini Pak?”
“Tidak tahu.Buka saja.Itu milik orang tuamu.”
Aini membuka bungkusan yang diberikan pak polisi. Ia terkejut. Di dalam bungkusan itu terdapat sebuah boneka yang pernah dijanjikan ibunya.
“Orang tuamu baik sekali ya?Kamu pasti bangga punya orang tua seperti mereka.”
“Iya Pak saya sangat bangga dengan mereka!”kata Aini sambil tersenyum.
“Bapak berjanji akan menemukan orang yang telah mencelakakan orang tuamu.”
***
Upacara pemakaman orang tua Aini berlangsung dengan mengharukan. Aini terus menangis. Tetangga dan teman Aini berkali-kali harus menenangkan Aini. Mereka merasa iba. Anak seumur Aini telah ditinggal kedua orang tuanya.
Setelah pemakaman selesai, Aini tidak segera pulang. Ia duduk di dekat makam orang tuanya.Tiba-tiba seseorang mendekati Aini.
“In!”
“Mi!”Aini menangis sambil memeluk Rahmi sahabatnya.
Rahmi berusaha menenangkan Aini,”In, yang sabar ya!”
“Mi,kamu tahu nggak?Mereka adalah orang di dunia ini yang paling spesial di mataku”
“Mereka nggak pernah memarahi aku.Mereka selalu sabar,selalu mendukung apa yang aku kerjakan,selalu ada di sampingku saat aku sedih. Mereka bagai malaikat di mataku Mi.”
“Aku percaya kamu kok In!”kata Rahmi sambil tersenyum.
“In,pulang yuk!”
Aini hanya mengangguk kemudian meninggalkan pemakaman bersama Rahmi.
***
Tiga hari setelah kematian orang tuanya, Aini pergi ke rumah bulik Rosi. Ia teringat pesan ayah dan ibunya yang mengatakan agar Aini pergi ke rumah bulik Rosi jika terjadi sesuatu dengan mereka.
Aini mencari dan terus mencari, hingga ia berhenti di depan sebuah rumah mewah. Perlahan-lahan Aini memasuki halaman rumah itu. Dengan rasa takut Aini pun mengetuk pintu. “Permisi!”kata Aini.
Tiba-tiba ada seorang wanita berbadan besar datang menghampiri Aini. Ia begitu ramah.
“Ini pasti Aini!”kata wanita berbadan besar itu. “Wah sekarang sudah besar ya!”lanjutnya.
“Iya!”jawab Aini dengan malu-malu.
“Masuk yuk!”
Aini masuk ke dalam rumah bulik Rosi. “Rumah yang sangat luas.”pikir Aini sambil melangkah mengikuti bulik Rosi.
“Duduk In!”perintah bulik Rosi.
“In, bulik sudah mendengar berita tentang ayah ibumu.Bulik ikut berduka cita ya In!”
“Iya Bulik. Ain sudah ikhlas menerima semua ini!”
“Baguslah kalau begitu.”
“Bulik!”kata Aini perlahan.
“Ada apa In?”
“Begini Bulik, bapak dan ibu Ain sebelum meninggal menulis ini untuk Ain.”Aini menyerahkan surat terakhir orang tuanya kepada bulik Rosi dan bulik Rosi membaca surat itu.
“Bulik, apakah Ain boleh tinggal disini?”
Bulik Rosi berpikir sejenak, kemudian ia berkata “ya!Kamu boleh tinggal disini!”
“Terima kasih Bulik!”
***
Kehidupan Aini bersama Bulik Rosi sangat menyenangkan. Aini dianggap seperti anak sendiri oleh bulik Rosi. Maklum bulik Rosi tidak memiliki anak.
Meskipun Aini telah tinggal di rumah yang mewah, tapi sifat terpuji masih melekat dalam diri Aini. Setiap pagi ia bangun saat adzan subuh. Aini mencuci muka,wudhu lalu sholat subuh,setelah sholat subuh ia membantu bulik Rosi menyapu dan mengepel lantai, selesai menyapu dan mengepel Aini baru mandi dan berangkat sekolah. Begitulah kegiatan pagi hari Aini, yang dilakukannya setiap hari tanpa perintah dan tanpa paksaan. Sikap itu pula yang membuat bulik Rosi makin sayang dengan Aini.
Ketika Aini ulang tahun, bulik Rosi memberikannya sebuah mukena yang sangat indah dan sebuah Al-Qur’an. Aini sangat senang dengan hadiah yang diberikan buliknya. Setiap Aini akan puasa Senin-Kamis bulik Rosi selalu menemani Aini untuk makan saur. Bulik Rosi juga sering membelikan buku-buku tentang Nabi.
***
Kini Aini telah beranjak dewasa. Aini sudah akan SMA. Hari ini ia menerima hasil kelulusan. Hatinya sangat berdebar-debar. Bulik Rosi yang mengambilkan pengumuman kelulusan Aini juga ikut berdebar-debar, namun ia tetap menampakkan wajah tenang di hadapan Aini.
“Kamu pasti lulus kok sayang! Bulik yakin nilai kamu pasti bagus!”
“Amin! Semoga saja ya Bulik!”.
“Ya sudah, bulik masuk ke kelas kamu dulu ya!”


“Aini!”kata seorang guru memanggil wali Aini untuk maju ke depan kelas.
“Bagaimana hasil ujian keponakan saya Bu?”
“Wah Aini mendapatkan nilai yang sangat memuaskan Bu! Dia memperoleh peringkat satu di sekolah ini! Silakan Bu, ini dilihat!”
“Terima kasih Bu!”
Bulik Rosi keluar dari kelas, ia langsung memberitahukan kabar gembira ini pada Aini.
“In..In! Nilaimu bagus In.”
“Oh ya Bulik?Lihat Bulik!”
“Ini!”
“Matematika 100, Bahasa Indonesia 9,75, Bahasa Inggris 8,54, IPA 9,86!”
“Wah keponakan Bulik pintar deh! Bulik bangga!”bulik Rosi mengusap kepala Aini.
“Ah Bulik bisa saja!”
“In, pulang yuk!”
“Ayo Bulik!”

Sampai di tengah jalan, bulik Rosi melihat tukang sayur yang menjadi langganan ibu-ibu di perumahan tempat bulik Rosi tinggal. Terlintas di pikiran bulik Rosi untuk memasak sayur bayam kesukaan Aini. “Hmmm, Aini pasti akan senang kalau aku memasak sayur bayam untuknya.”kata bulik Rosi dalam hati.
“In, kamu pulang dulu sana! Bulik mau pergi dulu sebentar!”
“Kemana Bulik?”
“Ada deh pokoknya! Sudah sana kamu pulang dulu!”
“Ya Bulik!”

Aini pulang ke rumah, sementara itu di tempat belanja,ibu-ibu sedang memilih sayuran yang tersedia sambil berbincang-bincang.
“Bu Rosi lama tidak belanja ya?”
“Iya Bu! Aini yang selalu ke pasar untuk berbelanja!”
“Oh Aini! Ngomong-ngomong apa tidak sulit Bu satu rumah dengan orang yang berbeda keyakinan dengan ibu?”
“Iya Bu!”timpal ibu-ibu yang lain.
“Maksud ibu-ibu apa sih?”
“Bukankah lebih enak kalau satu keyakinan Bu!”
Bulik Rosi tidak menjawab. Ia cepat-cepat membayar sayuran yang akan dibelinya. Sesampai di rumah, bulik Rosi meletakkan sayuran di dapur kemudian masuk kamar. Bulik Rosi masih memikirkan pembicaraan ibu-ibu tadi. “Mungkin benar apa kata ibu-ibu. Mungkin lebih baik kami satu keyakinan!”kata bulik Rosi dalam hati.

Keesokan harinya, ketika Aini sedang sarapan, bulik Rosi mendekati Aini.
“In, kamu ingin meneruskan sekolah dimana?”
“Aini ingin di SMA 3 saja Bulik. Yang favorit!”
“In, kamu sekolah sama anaknya bu Reti saja ya?”
“Bukannya anak bu Reti akan sekolah di SMA swasta Bulik?”
“Ya memang!”
“Terus?”
“Ya terus apa lagi?”
“Kenapa Bulik menyuruh Aini sekolah disana?”
Bulik Rosi menjawab dengan sedikit gelagapan,“Supaya kamu berangkat sekolahnya mudah, sekalian dengan anaknya bu Reti.”
“Tapi kan disana tidak ada yang berjilbab bulik!”
“Ya kamu tidak usah memakai jilbab Ain. Rambutmu kan bagus!”
Aini terdiam sejenak, kemudian ia berkata, “Ain tidak bisa Bulik! Ain sudah mantap memakai jilbab. Kalau memang alasan bulik agar Ain berangkat sekolahnya mudah, Ain tidak masalah kalau Ain sekolah di SMA 7 yang dekat dengan sekolah anaknya bu Reti!”
“Tapi SMA 7 kan SMA yang tidak bagus In!”
“Tidak masalah Bulik!”kata Aini sambil beranjak menuju ke kamar.

Malam harinya, saat Aini sedang mengaji, bulik Rosi mengetuk pintu kamar Aini, “In ngajinya pelan-pelan saja!”
“Ya Bulik!”
“Aneh!”pikir Aini.
“Mengapa Bulik bisa berubah seperti itu ya?”
“Ah, mungkin Bulik masih capek.”
“Semoga saja besok Bulik sudah kembali seperti semula lagi.”

Aini tidak menduga. Semenjak hari itu, buliknya tidak kunjung berubah. Bahkan buliknya lebih menyudutkan Aini.
***
Suatu hari Aini melihat sebuah brosur, “Lomba mengarang cerpen piala kabupaten!”
“Aku akan mengikuti lomba ini!”
Dengan bantuan Rahmi, Aini mulai menulis cerpen. Setelah selesai ia segera mengirimkannya.
“Mi, doakan supaya aku menang ya!”
“Oke!”
***
Hari itu tanggal 9 Januari, Aini memakai baju kuning dan berjilbab putih. Rahmi telah menunggu di depan rumah. Mereka akan melihat pengumuman lomba cerpen.Ketika mereka sampai disana, pengumuman lomba sudah akan dimulai
“Mi, aku deg-degan nih Mi!”
“Tenang saja In!”

“Ya, sekarang saatnya yang kita tunggu-tunggu. Juara satu adalah….Aini dari SMA 7!”suara pembawa acara begitu keras dan jelas.
“Mi, aku menang! Alhamdulillah!”
“Selamat ya In!”
Aini mengangguk, “Terimakasih Mi!”
“Ya. Sudah sana maju ke depan. Ditunggu tuh!”

Semenjak Aini memenangkan lomba cerpen, ia bergabung dengan forum penulis di kotanya.Aini semakin sibuk. Ia sering mengahadiri seminar-seminar dan ia juga harus bolak-balik dari rumah ke tempat perkumpulan penulis yang kebetulan berada dekat dengan sekolahnya.Meskipun semakin sibuk, Aini tetap menjadi anak yang solehah. Ia tetap taat beribadah. Bulik Rosi yang melihat Aini sukses menjadi bangga, namun ia tetap pada pendiriannya, ingin agar Aini satu keyakinan dengannya.
***
“In kesini sebentar!”kata bulik Rosi suatu ketika.
“Ada apa Bulik?”
“In, tanggal 16 disini akan ada acara arisan. Kamu nanti jadi penerima tamunya ya In!”
“Oh iya Bulik!”
“Tapi In..Kamu tidak usah pakai jilbab ya!Sekali ini saja In”perintah bulik Rosi.
Aini hanya terdiam. Di dalam hatinya Aini tidak ingin menuruti perintah buliknya untuk tidak memakai jilbab. Akhirnya ia hanya menjawab ‘Insya Allah’ dan berpikir bagaimana mencari cara agar ia tidak berada di rumah buliknya ketika acara arisan.
Di dalam kamar Aini terus berpikir. Ia bingung cara apa yang bisa membuatnya bisa keluar dari rumah buliknya. Aini sudah tidak betah dengan desakan-desakan buliknya. “Ahhh, aku punya ide!”

“Bulik, Ain akan mencari tempat kos yang dekat dengan tempat perkumpulan penulis. Bolehkan Bulik?”
“Kamu sudah tidak betah tinggal disini?”
“Bukan begitu bulik. Tapi Ain merasa selama ini Ain sudah merepotkan Bulik. Ain hanya ingin belajar mandiri.”
“Apa karena perintah bulik kemarin ya? Ain itu kan cuma keinginan yang mudah!”
“Bukan karena itu kok Bulik. Ain hanya ingin mandiri. Rencana ini juga sudah Ain pikirkan sejak lama!”
“Ya sudah kalau begitu! Kamu akan berangkat kapan?”
“Besok Bulik. Tadi Ain sudah minta tolong sama teman Ain untuk mencarikan tempat kos.Katanya sudah menemukan tempat kos yang bagus.”
“Ya sudahlah!”

Esok harinya Aini berpamitan dengan Bulik Rosi. “Bulik, Ain pergi dulu ya! Maaf selama ini Ain sudah merepotkan Bulik!”
“Tidak In, kamu tidak pernah merepotkan Bulik. Bahkan Bulik merasa terbantu semenjak ada kamu!”
Aini hanya tersenyum, kemudian ia berpamitan, “Bulik Ain berangkat ya!”
“In, sering mampir kesini ya!”perintah bulik Rosi.
“Iya Bulik!”
***
Seminggu semenjak Aini pergi, rumah bulik Rosi terasa hampa. Tidak ada lagi lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Aini, tidak ada lagi tawa Aini yang ceria.Sepi.Ya, itulah yang dirasakan bulik Rosi saat ini.Bulik Rosi merasa rindu dengan Aini.Rindu dengan suara Aini saat membaca Al-Qur’an, rindu dengan gelak tawa Aini.
Kini bulik Rosi menyadari, betapa kelirunya dia telah membuat Aini merasa tidak nyaman tinggal bersamanya. Mata bulik Rosi berkaca-kaca.Ia menangis.

Di sebuah ruang ber-AC tampak seorang gadis menatap keluar jendela. Tatapannya kosong.
“In, hooi!”sapa seorang wanita cantik berbadan kurus tinggi.
“Mbak Intan ngagetin aja!”
“Ada apa In? Kok mbak perhatiin dari tadi melamun aja. Ada masalah ya?Cerita saja sama mbak.Mbak siap ndengerin kok!”
“Mbak sebenarnya Aini sedang merasa bersalah dengan seseorang.”
“Siapa In?”
“Bulik saya Mbak.”
“Lho kok bisa?”
“Aini disuruh menjadi penerima tamu saat acara arisan di rumah bulik. Tapi Ain nggak boleh pakai jilbab.Ain nggak mau Mbak.Terus Ain mencari cara untuk pergi dari rumah bulik.Ain beralasan mencari tempat kos yang dekat dengan tempat perkumpulan kita.Disitulah masalahnya mbak. Ain merasa bersalah telah membohongi bulik.”
“Ya sudah, sekarang begini saja kamu pergi ke rumah bulik kamu. Setelah itu kamu bicara baik-baik dengan beliau. Katakan apa yang kamu rasakan selama ini dengan bulik kamu. Insya Allah masalahnya akan selesai.”
“Iya mbak. Terima kasih.”

Di depan tempat kos Aini sebuah mobil Jazz merah berhenti. Seorang wanita berbadan besar dengan sepatu ber-hak tinggi turun dari mobil itu. Ia masuk dan mengetuk pintu. Tak ada jawaban dari dalam hingga lama ia tertegun di depan pintu.
Sementara itu sebuah angkot berhenti di perempatan jalan. Aini turun dari angkot dan berjalan menuju tempat kosnya.
“Ada tamu. Siapa ya? Sepertinya kok saya kenal dengan mobil itu.”Aini bertanya dalam hati.
Sampai di depan kos, “Bulik!”
“Aini!”
“Bulik apa kabar?”
“Baik In, sangat baik!”
“Bulik tahu dari siapa kalau Ain kos disini?”
“Dari anak Bu Reti.”
“Oh…!”
Sejenak suasana tenang. Angin yang bertiup terdengar kencang bunyinya.
“In, kamu balik ke rumah bulik ya!Bulik sepi kalau tidak ada kamu!Bulik janji Bulik akan membuat kamu nyaman tinggal di rumah bulik.”
“Ain mau tinggal dengan Bulik lagi, tapi Ain mau memakai jilbab terus ya Bulik? Bulik tidak keberatan kan?”
“Tentu saja tidak!”kata bulik Rosi sambil tersenyum.

Akhirnya Aini kembali lagi ke rumah bulik Rosi. Sekarang hidup Aini bahagia. Lebih bahagia dari sebelum-sebelumnya.
***
“Bu, Aini pulang ke rumah ibu lagi ya?”
“Iya.”
“Terus, bagaimana kelanjutannya ?”
“Ibu-ibu kami memang berbeda keyakinan. Namun kita nyaman dengan kondisi sekarang ini. Asalkan kita mau saling menghargai, pasti hidup kita akan menyenangkan!”
Para ibu yang sedang belanja itu terdiam.
***
Powered By Blogger

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog