Kamis, 17 April 2014

Tahap-tahap Pagelaran Seni XII IPA 1


Fairuz Arifia
10
Pagelaran Seni XII IPA 1 Versi-ku

          Acara tahunan dalam rangka penilaian ujian praktek seni musik, diikuti semua murid kelas XII, menampilkan berbagai macam bidang seni, dibingkai sedemikian “indah”, ya itulah pagelaran seni SMA N 3 Pekalongan. Acara besar seperti ini tentu saja memakan persiapan yang sama besarnya. Kali ini akan aku ceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Silahkan simak urutan ceritanya baik-baik J
check this out...
        “Culture Project”adalah tema yang akan menghiasi stage kami. Tema ini merupakan gebrakan baru. Mengapa? Dari angkatan yang sudah-sudah hanya terfokus pada budaya Indonesia saja, sedang tahun ini sesuai dengan temanya semua penampilan merupakan hasil akulturasi budaya Indonesia dengan budaya Asing. Namun, semua pasti punyaplus-minus. Misalnya saja XII IPA 1, dengan tema seluas itu waktu yang kami butuhkan untuk menentukan konsep penampilan juga “luas”. Tepat pertengahan Oktober 2013 sementara kelas lain sudah mulai merangkak, kami masih terduduk dan berpikir. Memikirkan konsep penampilan. XII IPA 1 terbilang paling lambat dalam memutuskan konsep diantara kelas lainnya.
          Masih jelas dalam ingatanku saat Pashaiful (baca: guru seni musik kami) menanyakan hasil konsep penampilan XII IPA 1. Karena memang pada dasarnya kami belum punya gambaran konsep apapun, waktu itu kami manfaatkan untuk membuat perjanjian peraturan kehadiran saat latihan untuk big project ini.
          Hari demi hari berlalu meninggalkan pertanyaan monoton yang memekakkan telinga “konsep kita mau gimana teman-teman?” dan membekas bersama tawa kecil dalam hati saat teringat betapa jauhnya kami berpikir. Ingatkah dengan semua benua, negara, pulau sekaligus budayanya yang sudah kita tulis dipapan tulis lab Fisika saat jam kosong Pak Yuli? Aku masih ingat. J Mungkin hanya karena ber-kiblat dengan kelas lain yang sudah matang dengan konsepnya, pemikiran kita terkesan mengekor, wajar sih memang toh ini pertama kali bagi kami semua. Dan pada akhirnya kami temukan apa yang kami cari, yakni konsep penampilan pagelaran seni kelas XII IPA 1.
          Konsep Penampilan, bicara mengenai konsep tak akan lepas dari sosok Sandra Dheviani dengan ide brilliant-nya. Sebenarnya tidak hanya Sandra, namun juga teman-teman yang lain. Kami akan menampilkan akulturasi antara tarian Jawa sekaligus Gamelan dengan tarian Hip Hop, dan disisipi dengan sedikit drama sebagai tugas dari crew yang akan membawa jalan cerita. Awalnya kami sudah menentukan bahwa Bu Ismi lah yang akan melatih tarian Jawa, sedangkan anaknya akan melatih tarian Hip Hop. Berhubung apa yang bu Ismi pikirkan tidak sesuai dengan apa yang kami kehendaki, seminggu kemudian bu Ismi membatalkan diri melatih kami. Disinilah kami mulai diuji lagi. Akhirnya Anna mengenalkan mas Tyo kepada kami semua, beliau akan melatih Hip Hop. Tarian Jawa akan dilatih olehbu Nani. Gamelan akan dilatih oleh pak Darsono, ayah dari guru BK kami bu Dian. Karena project ini adalah project bersama, kami melakukan pembagian posisi penampilan. Ada empat posisi yaitu Gamelan, Tari Jawa, Tari Hip Hop dan Crew. Ilustrasinya:
----------Ucup a.k.a Abdur Rachman Yusuf (Gong+kempul)
          Maichi a.k.a Maitsaa Kaamiliaa (Demung)
          Tuyul a.k.a Dewi Shofairoh (Bonang Barung)
          Farida a.k.a Farid Thahir (Bonang Penerus)
          Kai a.k.a Eka Milatina Rosada (Demung)
          Iruz/Fariyuz a.k.a Fairuz Arifia (Slenthem)
          Medila/Memed a.k.a Media Adila (Kenong)
          Saipul a.k.a Dyah Shifa Istiqomah (Saron)
          Arini Nur Kamaliah (Saron penerus)
          Kimcil a.k.a M. Abdul Hakim AR (Saron)
          Reza Rahman Putra (Kendhang)
          Bimantara Yoga Perdana (Dalang)
          Nur Aisah (Sinden)
----------Sandra Dheviani
          Bu Kaji a.k.a Nella Rossa Nailul Hannah
          Simbah a.k.a Fitri Nur Hidayah
          Upil a.k.a Aurora Melia
          Runul a.k.a Nurul Hidayah
          Garini Adyatiningtyas (Penari Jawa)
----------Gepeng a.k.a M. Rizqi Andi Novan
          Anisa Mirra Tsaniya
          Munaroh a.k.a Luthfan Mazida
          Bebek a.k.a Febe Yuli Triana
          Kardwi a.k.a Sekar Dwi Setyaningrum
          Anna Rosidah Irawanda Putri (Penari Hip Hop)
----------Yumi a.k.a Umi Afrikhah
          Uly Zakiyah Kurniati
          Maria Intan Citra Dewi
          M. Afifuddin
          Fajril Fikri (Crew)
          Aku sendiri awalnya Crew, berhubung aku lemah di acting akhirnya aku pindah posisi ke Gamelan dan gamelan spesialis peganganku adalah Slenthem. Perpindahan posisi yang aku lakukan mungkin, mm.. atau lebih tepatnya memang membuat atmosfir sedikit lebih panas. Tapi itu tak berlangsung lama, aku akui itu memang salahku tidak berterus terang dari awal tentang posisi mana yang aku inginkan.
          Latihan. Tidak mungkin suatu penampilan itu akan dipersembahkan tanpa melakukan latihan walaupun hanya sekali, kecuali jika penampilan itu dilakukan dengan hati yang tidak ikhlas dan tak mengharapkan hasil memuaskan. Begitu pula halnya dengan kami. Dengan pelatih masing-masing bidang kami berlatih. Gamelan latihan di SMA Masehi, Jawa dan Hip Hop latihan di sekolah. Para pemain Gamelan tidak melakukan pembagian alat dahulu sebelum latihan, jadi saat hendak latihan pertama kali kami dengan sesuka hati memilih alat yang akan kami jadikan tanggung jawab hingga hari H pagelaran nanti tiba.
          Ribuan detik yang kami gunakan selama latihan berubah menjadi semakin menyenangkan. Secara pribadi, moment latihan adalah hal yang paling ditunggu-tunggu. Selama latihan per-pembagian posisi, para pemain Gamelan berlatih sebanyak tiga lagu yaitu Gambang Suling, Prau Layar, Ojo Dipleroki yang mana masing-masing dilengkapi dengan gangsaran tentunya.
          Satu hal yang akan aku ingat seumur hidup adalah ketika pak Darsono mengajak kami (baca: pemain Gamelan) untuk tampil di Pendopo dekat Alun-alun kota Pekalongan. Kata pak Darsono...
          “..berani apa tidak kalau nanti tanggal 23 November 2013 jam 8 malam tampil di Pendopo? Tidak apa-apa untuk melatih percaya diritampil langsung didepan penonton. Kalau mau nanti saya coba sampaikan sama panitianya. Kalian kalau ikut nanti dapat pengalaman lebih daripada kelas lain yang juga gamelan..”
          Dengan nada bersemangat sekaligus ragu, kami iya-kan ajakan pak Darsono. Itu artinya tanggung jawab kami bertambah satu lagi, intensitas latihan pun diperkuat. Sebagian memang belum hafal notasi semua lagunya termasuk aku, namun kami berusaha untuk berlatih dengan serius. Semua itu dilakukan untuk meminimalisir kesalahan dan menghapus kesan “memalukan”.
          Demi kematangan konsep, tepat jam 5 sore kami semua hadir di Aula SMA N 3 Pekalongan melakukan musyawarah guna membahas lagu akulturasi. Aku datang terlambat 10 menit yang artinya harus membayar denda per-menitnya Rp.500 sebesar Rp.5000. Keputusan sudah kami dapatkan menimbang dari plus-minus keadaan. Lagu “Jogja Under Cover” milik Bondan Prakoso akan menjadi lagu terakhir yang akan dimainkan oleh pemain Gamelan sekaligus menjadi lagu akulturasi kami. Berkat bujukan Ucup dan Farid, aku tetap tinggal disekolah sampai malam tiba dan kita (baca: pemain Gamelan) semua berkendara menuju jalan Belimbing, tempat alat-alat Gamelan untuk pentas di Pendopo. Sebelumnya, sambil menunggu jam 8 sesuai janji dengan pak Darsono, kami mengelilingi bundaran lapangan Jetayu mencari nasi juga jajan untuk santap malam. Didapatlah nasi bungkus tempe goreng, martabak manis, sempolan, juga air mineral. Perut kenyang dan kami semua berangkat. Latihan malam hari ini ditutup dengan rintik hujan.
          Tibalah hari kami pentas di Pendopo, kami membawakan tiga lagu pagelaran kami kecuali lagu akulturasi. Bau kemenyan mewarnai penampilan kami dan berakhir tanpa tepuk tangan penonton. Menyedihkan? Tentu saja tidak. Bagiku itu adalah respon terbaik dari penonton. Aku mengartikan hal itu sebagai suatu respon “kekaguman” penonton sehingga mereka lupa memberi sedikit applause atas penampilan kami. Duduk selama kurang lebih satu jam dengan posisi duduk para sinden membuat kakiku kesemutan sehingga aku kesulitan berjalan menuruni stage pentas tadi. Kami mendapatkan nasi kotak lengkap tanpa minum sebagai buah tangan. Kami makan bersama-sama di emperan samping pendopo. Berfoto ditengah halaman pendopo membuang rasa malu. Jam 10 malam kami pulang. Ini adalah pengalaman tak terlupakan.
        Akulturasi dan Properti.Tidak terasa karena kami terlalu fokus berlatih dengan bidang masing-masing, kami terlupa akan akulturasi dan properti. Pak Trinil yang kami kenal dari Hakim membantu kami akan hal tersebut. Latihan akulturasi dilakukan di SMA Masehi mengingat alat Gamelan tidak portable sehingga kami harus latihan dimana Gamelan berada, sedangkan pembuatan properti di GOR Jetayu. Properti yang kami buat dengan bantuan pak Trinil adalah gubuk warung, lesung, alu, tongkat bendera dan kerangka bendera. Beliau juga membantu kami dalam gerakan formasi bendera, sebutanku.
          Menjelang latihan yang menginjak pada puncak kemampuan tubuh seseorang, kami mulai lenyap (baca: lelah) satu per satu, alhasil pak Trinil menyuruh kami semua berkumpul, melingkar, duduk bersilah, memejamkan mata dan merelaksasikan pikiran. Beliau menyalurkan semangat pada kami semua, memotivasi kami, mensuggesti dan menyadarkan kami bahwa semua yang sudah kami lakukan tinggal seperempat jalan. Kami hanya cukup berdo’a dan sedikit berusaha agar semuanya membuahkan hasil. Hal itu berhasil membius, membuat kami menangis dengan rangkaian kata yang menyentuh nurani terlebih saat menyebut nama orang tua. Kami membulatkan tekad lalu membuka mata. Bukankah dunia tampak lebih indah setelah kita membuka mata waktu itu teman? J
          Aku baru sadar setelah tekad yang aku buat bahwa aku harus ikut menyukseskan pagelaran seni XII IPA 1, ada satu hal yang terlupa dari tanggung jawabku. Karena terlalu bahagia dengan semua yang aku alami, aku lupa menghafalkan notasi lagu-lagu yang nanti akan dimainkan saat pagelaran. Sementara yang lainnya sudah hafal. Berhubung aku sudah hafal dengan notasi lagu Gambang Suling maka selama tiga hari aku menghafalkan lagu yang lainnya, satu lagu satu hari. Sampai-sampai aku menyumpah diri sendiri, “Fai tidak boleh tidur sebelum hafal”. Itu juga berhasil.
          Latihan akulturasi menunjukkan progress yang semakin baik setiap harinya. Semakin kompak, semakin indah, semakin membuatku terharu bila mengingat semua yang sudah tercapai sebelum ini.
          Pagelaran seni tinggal menghitung hari. Ku bayangkan penampilan kami dengan cermat berharap penampilan kami bisa lebih baik lagi dari yang di Pendopo hingga menuntunku untuk membayangkan Gamelan dan sampailah aku pada kenyataan bahwa dari keseluruhan kelas XII yang ada, hanya XII IPA 1/hanya akulah yang membutuhkan alat musik Slenthem. Aku bergegas mencari nomer ketua Pagelaran Seni yaitu Rangga, ku lontarkan request bahwa XII IPA 1 membutuhkan Slenthem. Segera ku tambahkan daftar semua alat musik kami. Entah karena kurang persiapan atau memang pihak panitia menuntut kami untuk kooperatif sehingga mereka baru mendata alat musik kami. Tidak mengapa jika demikian, mungkin yang dimaksudkan adalah agar kami tidak melempar tanggung jawab sepenuhnya pada orang lain. Tak lama sms yang menyegarkan menderingkanponselku, Rangga sudah mendapatkan Slenthem. Alhamdulillah, ucapku dalam hati.
        Gladi Bersih.H-1, ku ulang kembali ucapanku. Acara-acara besar pasti juga punya hari dimana hari itu disebut gladi bersih. Tak terkecuali Pagelaran Seni kami. Gladi bersih dilakukan tanggal 20 Desember 2013. Kelas kami mendapat giliran jam 3 sore, itu berarti jam setengah 2 kami sudah harus berada dikawasan sekolah untuk mempersiapkan segalanya. Masing-masing kelas diberi waktu untuk gladi bersih selama 20 menit. Sebelum jam setengah 2 kami semua berbondong-bondong menuju GOR Jetayu untuk memindahkan properti ke sekolah. Kami lakukan bersama-sama dalam gerimis.
          Sebenarnya hari itu tidak pantas disebut gladi bersih, menurut pendapatku dan sebagian teman yang lain. Itu adalah gladi kotor. Mengapa? Rata-rata dari semua kelas termasuk XII IPA 1 menyembunyikan atau lebih tepatnya menutupi apa yang akan ditampilkan oleh kelas mereka masing-masing. Seperti XII IPA 1, disaat yang lain mengatur posisi formasi, kami hanya mengukur lapangan, berdiri, duduk, lalu berdiri lagi. Tidak lama gerimis melanda. Hiruk pikuk yang sedari tadi menyelimuti kami sekarang menghilang bak tertiup angin hujan. Samar-samar terdengar seseorang berteriak dan diiringi celetuk dari penonton yang lain “Udah si.. Jangan dipaksain, ini H-1 lho nanti kalian sakit”. Kami tertawa mendengarnya, bukannya meremehkan nasehat teman kami dari kelas lain melainkan hujan yang turun kala itu adalah partner latihan kami sejak awal kami latihan bersama di SMA Masehi. Lirik lagu akulturasi kami saja begini...
          “Ana udan salah mangsa.. Sawiji ing tanah Jawa..”
          Hujan mereda, kami pun bahagia. Awalnya gladi bersih kami tampak membosankan hingga tak menarik pasang mata tuk memandang, menurut apa yang aku tangkap dari sorot mata mereka. Tampak teman-teman dari kelas lain kemudian mendekat penasaran dengan tarian Hip Hop yang dibawakan Gepeng CS yang menurutku memang mengagumkan. Mereka melakukannya saat gerimis malu-malu menghampiri. Tarian Jawa juga tak kalah mengagumkan. Indah.
          Waktu gladi bersih habis. Kami mengadakan rapat lagi di ruang 14, mengevaluasi gladi bersih tadi. Pemain Gamelan belum sempat berlatih menggunakan alat yang sudah disediakan panitia, sebab kelas seberang menguasainya di ruang Lab musik. Untuk kesekian kalinya kami diuji, kesabaran kami. Kami datang dua kali meminta ijin untuk memainkannya tapi tetap tak dihiraukan. Ketiga kalinya kami datang, tak peduli apa yang sedang mereka lakukan, kami masuk, mengeceknya satu per satu, lalu mereka pergi dan kami memainkannya.
          Astaga, pemukul slenthemku pecah. Bukan pecah ditanganku, tapi sudah pecah dari sebelum aku memegangnya. Panitia tidak mengeceknya. Aku frustasi, benar-benar frustasi. Pikiranku melayang jauh kemana-mana. Aku sudah latihan selama ini, menghafalkan notasi sampai tengah malam, menghadapi kemarahan orang tua karena latihan terus, lalu besok aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus mendengar tak ada suara apapun yang akan aku dengar dari alat musikku. “Ya Allah”, sesalku.
          Malam menjelang, satu per satu temanku pulang terutama yang perempuan. Tinggallah aku bersama teman-temanku yang laki-laki dan juga Aisah. Aku sempat menangis, jujur. Badanku juga kurang sehat. Aisah yang melihatnya mungkin kasihan hingga ia meminjamiku jaket. Dia pulang. Aku meminta Farid untuk menelepon pak Darsono agar aku bisa meminjam pemukul Slenthem paguyuban di jalan Belimbing. Alhamdulillah pak Darsono mau, dan beliau akan membawakannya besok saat hari H. Kini aku percaya bahwa besar/kecil usaha yang sudah aku keluarkan, tidak ada kata sia-sia didalamnya.
          Mendengar kabar tersebut aku jadi lebih baik, namun tiba-tiba perutku sakit karena telat makan. Pak Trinil mengobati aku dengan cara totok syaraf, aku menyebutnya. Pak Trinil akhirnya menyuruh Hakim membeli makanan untuk kami semua, termasuk karena perutku yang sakit ini. Awalnya aku mau pulang saja, namun karena motorku dipinjam Hakim, jadi harus ku tunggu. Makanan datang, aku pun makan lalu pamit pulang. Saat itu hampir jam setengah 10 malam.
        A Day to Remember.Hari yang ditunggu selama 3 bulan lamanya datang juga. Kami diharuskan berangkat pagi dan jam 5 pagi harus sudah sampai sekolah untuk keperluan make up dan serba-serbi yang lain.
          Kami mendapatkan urutan ke 5. Termasuk urutan yang menguntungkan bagiku. Pusakaku (baca: pemukul Slenthem) sudah dalam genggaman. Sebelum kami maju, kami melakukan “ritual” yang biasa kami lakukan. Kami berdiri melingkar, menyilangkan tangan, saling berpegangan, memejamkan mata kemudian berdoa. Setelah selesai kami memusatkan tangan kanan dalam lingkaran, mengayunkannya ke atas dan berteriak “Oi! oi! oi!”. Kami siap untuk menampilkan yang terbaik.
          Penampilan kami terbilang sukses. Membangkitkan semangat nasionalisme. Hanya ada sedikit kesalahan teknis yang jelas itu bukan berasal dari kami. Sedikit kecewa, tapi tak mengapa semuanya terbayar dengan senyuman, ucapan selamat dari Pashaiful dan decak kagum para penonton.
        Syukuran.Agenda kami selanjutnya adalah syukuran. Berhubung uang tabungan kami untuk pagelaran seni ini masih tersisa banyak. Kami gunakan untuk membakar ikan di rumah Shifa. Mungkin karena kelelahan, banyak teman kami yang tidak ikut.
          Sembari menunggu semua ikan turun dalam lambung, kami mengulas kembali cerita dibalik Pagelaran Seni kemarin. Hampir semua cerita yang dilontarkan per-individu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal.
          Keramahan ibu bon SMA Masehi yang selalu bertutur dalam logat bahasa krama halus yang kami gunakan sebagai ajang berlatih bahasa. Tawa riang teman-teman yang menaburkan kelucuan disela-sela latihan.Kesabaran dan keuletan pak Darsono mengajari kami semua.Sholat berjama’ah yang tak terlewatkan. Saling bonceng-membonceng menyusuri jalanan Progo sampai Kurinci. Makan siang bersama di depan SMA Masehi maupun di kantin sekolah. Hukuman lari yang terkadang kami lakukan beramai-ramai atau lari dari tempat parkiran sampai ruangan latihan agar tak terlambat dan akhirnya kalian melempariku dengan tawa karenanya. Yumi yang helmnya hilang sewaktu latihan pertama dan terakhir kalinya di SD Panjang Wetan 1 bersama bu Ismi. Aurora yang selalu terlambat sehingga dendanya sampai 100 ribu lebih karena ketiduran. Gepeng yang saat pentas musiknya udah jalan duluan. Bima yang sandalnya lepas waktu masih narasi. Hakim, Shifa dan Arin yang salah dalam penutup gangsaran saat pentas. Para penari yang kakinya kapalan karena panas. Kita semua yang latihan di SMA Masehi sambil hujan-hujanan. Apa lagi? Sungguh masih banyak hingga aku lupa sampai mana aku tertawa mengingatnya. Kalian dengar lagu Sheila On 7 yang berjudul “Kita” atau “I remember” nya Mocca atau bahkan “Tentang Kita” nya Noah? Aku mendengarnya sekarang. Ini terlalu indah untuk dilupakan. Sungguh.
          Jika aku mengambil dari kacamata Gamelan, apa yang sudah kami lakukan merupakan filosofi untuk hidup harmonis. Dalam memainkan gamelan, setiap pemain memainkan alat yang berbeda untuk menghasilkan suara yang berbeda tapi entah mengapa suara yang dihasilkan menyatu menjadi sebuah komposisi yang sangat indah. Kami semua mungkin mempunyai ketertarikan yang berbeda dalam menjalani hidup, namun kami masih bisa bersatu dalam keharmonisan seperti filosofi gamelan.
          Terima kasih semua teman-teman kelas XII IPA 1, Terima kasih ayah dan ibu, Terima kasih Pashaiful, Terima kasih Allah SWT.J

Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog