Kamis, 17 April 2014

Pengalaman Estetis Bermain Gamelan


Nama : Dyah Shifa Istiqomah
No. Absen : 08

Pagelaranku Pengalamanku
 
Baru saja sebulan duduk dikelas XII, Pak Saiful yang merupakan guru seni musik kami sudah memberikan tugas yang lumayan berat kepada seluruh kelas XII baik IPA maupun IPS untuk mempersembahkan sebuah pagelaran. Jadi setiap kelas XII wajib mempersembahkan sebuah pagelaran ala kelas mereka sendiri dengan tema Akulturasi.
Semula pagelaran itu terasa asing bagiku, tapi setelah aku masuk SMAGA dan dua kali menyaksikan pagelaran secara langsung yang dipersembahkan oleh kakak-kakak kelasku, menurutku pagelaran itu adalah suatu hal yang luar biasa dan menarik.
Setelah diberi tugas oleh Pak Saiful untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pagelaran dibulan Desember, kelasku pun berembug untuk menentukan tema yang akan ditampilkan pada saat pagelaran nanti dan dibentuklah panitia kecil kelas XII IPA 1 untuk mengurus kelancaran pagelaran nanti. Pendapat, usulan, dan saran pun bermunculan dari beberapa anak. Waktu dalam menentukan tema pagelaran pun cukup lama, jika ada jam kosong kami selalu memanfaatkan waktu untuk berdiskusi membahas tema yang akan diusung. Lucunya setiap berdiskusi kami hanya membahas konsep konsep dan konsep tanpa adanya titik temu. Karena seringnya berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk mengambil tema akulturasi budaya Indonesia dengan Amerika. Setelah menemukan tema kami pun membagi tugas yang terbagi dalam empat kelompok yaitu kelompok Penari Jawa, kelompok Pemain Musik Gamelan, kelompok Penari Hip Hop, dan kelompok Crew. Pembagian ini dilakukan dengan cara voting, semula aku ditunjuk teman-teman untuk bergabung dalam kelompok Penari Jawa, tapi aku menolaknya dengan alasan Penari Jawa menggunakan pakaian tanpa jilbab sedangkan aku tidak mau melepas jilbabku. Oleh sebab itu aku lebih memilih masuk ke kelompok Pemain Musik Gamelan.
 Demi kelancaran semua kegiatan pagelaran kami sekelas sepakat untuk iuran sebesar Rp. 2000 perhari guna untuk keperluan selama pagelaran seperti untuk membayar pelatih-pelatih yang melatih kami, untuk membeli minum, dan untuk keperluan lainnya. Kami memulai membayar iuran dari sekitar akhir bulan Agustus yang direncanakan sampai bulan Desember. Iuran tersebut dibayarkan ke bendahara kelas.
Beberapa teman kami yang mengenal beberapa pelatih Tari Jawa, pelatih Hip Hop serta pelatih pemain Gamelan juga diminta oleh panitia kecil kelas kami untuk minta dilatih. Akhirnya kita menemukan pelatih untuk Tari Jawa yaitu Bu Ismi. Kami memulai latihan sekitar akhir bulan Agustus yang bertempat di SD N 1 Panjang Wetan.  Pertama kali kita latihan pagelaran yaitu hari Minggu yang dimulai jam 09.00 di SD N 1 Panjang Wetan bersama Bu Ismi selaku pelatih kami untuk kelompok Tari Jawa, selain itu Bu Ismi juga mengajak dua mbak-mbak yang bisa mengajari kami dance modern, tapi kami menolaknya karena kami yang kami inginkan adalah pelatih Hip Hop bukan dance Modern. Sebelum latihan kami sekelas sepakat membuat perjanjian barang siapa yang datang terlambat dalam latihan pagelaran akan dikenai hukuman yaitu lari mengelilingi lapangan. Untungnya hari pertama kami latihan pagelaran aku tidak terlambat, tetapi ada juga beberapa teman yang terlambat sehingga harus berlari mengelilingi lapangan yang ada di SD N 1 Panjang Wetan. Sedangkan yang berhalangan hadir atau datang terlambat harus ijin kepada penyebar dan pemberi informasi yang ada dikelas. Penyebar dan pemberi informasi dikelas kami ada dua orang yaitu yang ditugasi menyebarkan informasi absen 1 sampe absen 15 serta absen 16 sampe 30. Penyebar dan pemberi informasi ini mempunyai tugas untuk menyebarkan informasi mengenai waktu dan tempat latihan pagelaran. Setelah semuanya berkumpul di SD N 1 Panjang Wetan bersama Bu Ismi kami semua pun berembug mengenai tari jawa apa yang nantinya akan ditampilkan saat pagelaran nanti. Awal pertama kami berkumpul belum mulai latihan hanya sekedar berembug, dan sekitar jam 12.00 kami pun selesai berkumpul.
Beberapa hari kemudian setelah kami berembug bersama Bu Ismi, kami dikejutkan oleh pernyataan Bu Ismi yang ingin mengundurkan diri sebagai pelatih tari jawa kelas kami dengan alasan yang tidak jelas. Kami semua pun sedikit merasa kecewa dengan pernyataan itu namun akhirnya kami sekelas pun segera berembug untuk mencari pelatih baru untuk tari jawa. Setelah berembug kami pun sepakat untuk memilih Bu Nanik untuk melatih tari jawa. Disamping itu kami juga sudah menemukan pelatih hip hop dan gamelan yaitu Mas Tio selaku pelatih hip hop serta Pak Darsono selaku pelatih Gamelan.
Karena pelatih-pelatih yang kami inginkan sudah ada, kami semua pun sejenak merasa lega dan selanjutnya kami berembug untuk memilih waktu latihan tapi sebelumnya kami mengonfirmasikan dulu kepada pelatih-pelatih untuk  waktu latihannya. Saat berembug kami juga melakukan voting mengenai waktu latihan. Untuk kelompok penari jawa latihan disepakati setiap hari kamis sepulang sekolah di ruang 5 SMA N 3 Pekalongan, dan untuk para penari hip hop latihan juga di ruang 5 SMA N 3 pekalongan, sedangkan untuk pemain musik gamelan latihan pada hari sabtu sepulang sekolah serta akan di adakan ditempat yang berbeda dengan yang lainnya yaitu di SMP Masehi. Dan kami juga sepakat untuk latihan bersama satu kelas setiap hari Minggu.
Sewaktu latihan perdanaku dan teman-teman pemain musik gamelan di SMP Masehi, sebagian besar dari kami merasa asing dengan alat musik gamelan, bahkan aku sendiri saja belum pernah memainkannya. Setelah kami selaku kelompok yang ditugasi untuk memainkan musik gamelan sudah berkumpul semua. Kami pun memasuki ruangan yang akan dipakai kami latihan nantinya. Setelah kami memasuki ruangan bersama Pak Darsono, kami pun segera memposisikan diri menuju alat musik gamelan yang ingin dimainkan. Setelah itu Pak Darsono memperkenalkan alat-alat musik gamelan kepada kami. Alat musik gamelan yang akan kami mainkan terdiri dari bonang, saron, demung,kenong, slenthem, gendang, dan gong. Waktu itu aku memilih memainkan alat musik saron, karena menurutku bentuknya yang familiar dan keliatannya mudah dimainkan. Kelompok pemain musik gamelan terdiri dari 11 orang dan 1 sinden. Awal latihan Pak Darsono hanya mengajarkan nada-nada dasar kepada kami dan juga mengajarkan cara-cara bermain alat gamelan dengan baik dan benar. Semula beberapa dari kami merasakan kesusahan karena belum terbiasa memainkannya, termasuk juga dengan aku, semula alat musik saron yang aku kira mudah dimainkan dengan hanya dipukul saja ternyata salah, seharusnya memainkan alat musik saron juga harus “dipatet”. Dari alat-alat musik gamelan tersebut bagiku yang susah dimainkan adalah bonang karena harus berkonsetrasi dan bekerja sama. Setiap latihan hanya hanya berlangsung selama dua jam.
Setiap hari minggu kami berkumpul disekolah untuk melaporkan kepada teman-teman kelas semua yang telah kita dapatkan dari latian dengan beberapa pelatih. Kelompok penari jawa dan hip hop disuruh memperlihatkan gerakan-gerakan yang sudah mereka dapatkan, kelompok penari jawa membawakan tarian “ngangsu” yang menceritakan tentang masyarakat desa di Indonesia. Kelompok yang tergabung dalam kelompok Crew diberi tugas untuk menuliskan skenario, sedangkan kelompok gamelan hanya berdiam diri karena tidak mungkin menunjukkan latihan yang sudah di dapat karena disekolah kami tidak mempunyai alat musik gamelan.
Seringnya kami latihan membuat kami menjadi lebih lincah karena terbiasa. Kurang lebih 3 bulan kami berlatih, tetapi belum juga terbentuk akulturasi seperti yang ada pada tema, karena kami masih latihan sendiri-sendiri dengan tempat dan waktu yang berbeda-beda. Aku masih ingat sebulan sebelum pagelaran dilaksanakan tepatnya pada bulan November kami sekelas baru merasa khawatir dan kebingungan karena selama kita latihan belum pernah mengolaborasi gerakan maupun musik  antara yang satu dengan lainnya. Akhirnya sore-sore menjelang maghrib kami sekelas berkumpul bersama Bu Nanik dan Mas Tio disekolah untuk membahas hal tersebut. Dari hasil pertemuan tersebut ada dua pendapat yang muncul dari beberapa teman-teman, pendapat pertama sebaiknya tema pagelaran kelas kami diganti dengan tema yang dan pendapat yang kedua adalah tetap mempertahankan tema yang sudah ada. Dari hasil voting banyak teman-teman yang memilih tetap mempertahankan tema yang sudah ada dengan alasan waktu sudah mepet pagelaran, tidak mungkin untuk latihan lagi ditambah akan dilaksanakan Ulangan Akhir Semester 1. Akhirnya Bu Nanik dan Mas Tio pun menyarankan untuk membuat akulturasi ala kelas kita sendiri, kami sekelas pun akhirnya menyetujuinya. Dan untuk membuat properti dan tata panggung yang akan kami tampilkan saat pagelaran kami juga meminta bantuan kepada Mas Trinil. Mas Trinil juga setia mendampingi kami setiap ada latihan.
Sebulan sebelum pagelaran untuk memaksimalkan latihan kami, akhirnya kami menambah waktu latihan juga. Hampir seminggu penuh menjelang pagelaran kami sering berlatih. Sebulan sebelum pagelaran juga kami baru membuat tarian akulturasi dan sebulan sebelum pagelaran itu pun kami baru menggabungkan keseluruhannya dari kelompok penari jawa, hip hop, crew, dan pemain musik gamelan. Oleh sebab itulah kami latihan ekstra untuk bisa tampil makasimal saat pagelaran nanti.
Seminggu sebelum pagelaran kami sering berlatih tanpa mengenal lelah bahkan sampe menjelang maghrib. Suatu kali pernah juga waktu kelompok tari sedang berjoget ria ditengah lapangan SMP Masehi tiba-tiba hujan turun dan kelompok pemain musik gamelan yang tidak terkena hujan ikut turun ke lapangan ikut basah-basahan juga. Suasana yang sangat rahat sekali bagiku. Persiapan pagelaran ini cukup menyita waktu dan tenaga juga, tak heran juga kadang orang tuaku memarahiku karena terlalu seringnya latihan pagelaran.
Pada saat hari H pagelaran, rasa deg-degan pun muncul. Kelas kami mendapat giliran tampil ke-5. Ketika tampil diatas panggung aku sudah merasakan rileks. Dan menurutku penampilan kelas kami cukup spektakuler dan tidak mengecewakan :D

Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog