Rabu, 30 April 2014

Hikmah Pagelaran Seni menguras tenaga, emosi dan dana


Nama  : Uly Zakiyah K
Kelas    : XII IPA 1
No        : 29

Sebuah Proyek Seni

Proses penggarapan proyek seni ini benar-benar menguras tenaga, emosi, dan yang pastinya uang. Pertengkaran dan beda pendapat antara kami tidak dapat dihindari. Namun, apabila tak ada  itu semua, tak ada pula kesan selama kelas 12.
                Penggarapan pagelaran ini dimulai dengan membahas konsep dari pagelaran ini dan menentukan aturan-aturan dalam latihan. Yang pertama aturan-aturan selama latihan,aturan-aturan kelas kami selalu berubah-ubah. Awalnya hukuman bagi yang telat hanya lari keliling lapangan aja, tapi aturan itu dirasa kurang tegas . Kemudian aturan berubah dengan sistem denda. Jumlah dendanya pun berubah-ubah, awalnya denda hanya dikenakan bagi yang telat aja, yaitu Rp.500/ menit. Tapi itu dirasa kurang adil karena yang tidak berangkat tidak dikenai denda . Aturan pun diperketat lagi, pokoknya yang tidak berangkat  terkecuali yang sakit akan dikenai denda, tapi aku ndak tau dendanya berapa kalo yang ndak berangkat soalnya aku berangkat terus.Yang kedua menentukan konsep, kelas kami juga sering megalami perubahan dalam penentuan konsep, bahkan kelas lain sudah memuai latihan kelas kami sama sekali belum pernah latihan karena terus saja membahas konsep. Sering terjadinya pererubahan konsep itu karena pada saat membahas masalah negara mana yang akan kita pilih. Pada saat itu masing masing anak memilih negara kesukaannya, dan yang terjadi ada banyak kandidat negara yang akan kita angkat dalam pagelaran, dan ini terjadi berkali-kali. Lagi-lagi pada saat kita berembug yang kita bahas negara, memang sulit menyatukan ego banyak orang. Seharusnya kita menentukan kandidat negara negaranya dulu, baru kita melakukan votting sehingga pilihannya tidak terlalu luas. Dan akhirnya kita memilih negara Amerika dengan mengangkat budaya Amerika hip hop. Amerika hip hop ini akan kita kolaborasikan dengan budaya jawa. Langkah selanjutnya, kita membagi peran-peran yang akan dimainkan.
Sebenernya aku  ingin jadi pemain gamelan saja, tapi kuota pemain gamelan sudah full, jadi aku terpilih jadi crew. Dalam pagelaran ini aku berperan sebagai anak-anak. Tugasku adalah menggambarkan kehidupan masyarakat jawa, tepatnya menggambarkan permainan tradisional yang sekarang ini sudah mulai dilupakan. Setelah semua kebagian peran, kita mencari pelatih tari, hari minggunya kami mulai pertemuan dengan orang yang akan melatih kami. Waktu itu tempat pertemuan kami di SD Panjang Wetan 1. Pelatihnya ada 2 orang, yang satu untuk tari tradisionalnya dan yang satunya untuk tari modern/hip hop. Disana kita diperlihatkan video-video tari tradisional dan disetelkan musik-musik luar negeri. Untuk tari jawanya kita cocok aja, namun untuk musik luarnya kurang pas dengan apa yang kita inginkan. Musik luar yang disetelkan merupakan musik remix, sebenarnya sih masalah musik bisa kita sesuaikan sesuai keiginan kita, tapi ternyata kemampuan pelatihnya sendiri tidak bisa tari hip hop. Pelatihnya bisa tari modern, tapi gerakannya itu tidak mencerminkan tarian hip hop. Awalnya kita hanya membatalkan dilatih oleh pelatih yang tari modern, namun ternyata pelatih yang tari jawa malah mengundurkan diri entah kenapa. Karena pelatih yang modern kita batalin dan pelatih yang satunya membatalkan diri, kita pun mencari pelatih baru lagi. Sebelum lanjut kecerita baru dengan pelatih yang baru, sebenernya setelah selesai pertemuan itu, ada tragedi pencurian helm. Helm yang dicuri itu helmnya Umi, sebenernya helm punya Umi itu bukan helm yang mahal, helm nya pun tidak baru pokoknya ndak bakal menarik perhatian orang. Terus anehnya di depan itu ada 2 helm, helm-nya Umi sama ndak tau aku lupa punya siapa. Yang jelas, helm yang ndak tau punya siapa itu keadaannya lebih baik daripada helm-nya Umi, mereknya pun sama. Tapi emang lagi mau apes, yang dicuri malah helmnya Umi.
Setelah kita mendapat pelatih baru, kita mulai latihan-latihan. Latihannya kita terpisah-pisah. Yang bagian gamelan pelatihnya namanya Pak Darsono, yang gamelan biasa latihan di SMP/SMA Masehi. Yang hip hop pelatihnya namanya Mas Tyo. Terus yang tari jawa pelatihnya namanya Bu Nani. Tari hip hop sama tari jawa latihannya di sekolah. Setiap hari minggu kita selalu adain pertemuan buat ngabarin perkembangan masing-masing bagian. Waktu yang lainnya sibuk latihan, yang kebagian peran sebagai crew belum latihan apa-apa. Karena crew bisanya latihan kalau sudah ada naskah dramanya sedangkan naskah drama belum jadi-jadi. Setelah beberapa minggu akhirnya kita mulai latihan bersama. Kita latihan secara urut-urutan, dimulai dari pembukaan oleh gamelan, kemudian tari petani dst.Tapi masalah besanya adalah kelas kami belum memikirkan bentuk akulturasinya antara Amerika hip hop dan tari jawa. Padahal waktu kurang sebentar lagi, kalo ndak salah kurang satu bulan. Akhirnya diputuskan kita semua bakalan nari bareng-bareng, termasuk para crew. Dalam crew ini, masih dibagi jadi 2 kelompok yaitu yang nari bagian jawa dan modern. Aku kebagian yang nari jawa. Awal latihan nari jawa aku bener-bener frustasi. Tanganku kaku ,pokoknya ndak pantes nari. Aku sempet punya pikiran mau ganti posisi sama Umi, jadi aku yang nari bagian hip hop nya terus Umi yang bagian jawanya, tapi ndak jadi, aku takut malah nanti pada marah kalo aku ganti posisi sesukaku. Yaudah,  aku jalanin aja sebisaku, pokoknya kalo ada waktu aku usahain latihan gerakannya. Akhirnya setelah latihan beberapa kali aku mulai bisa mengikuti, tinggal ngapalin urut-urutan gerakannya. Tapi masih ada masalah lagi, masalahnya adalah pada bagian dramanya. Entah kenapa ceritanya itu kurang greget. Akhirnya kita mencari pelatih lagi untuk melatih dramanya, namanya Pak Trinil. Selain mengarahkan pada bagian dramanya Pak Trinil ini juga membantu dalam pembuatan properti. Setelah dramanya fix, kita mulai bikin properti dan nyiapin kostum. Properti yang kita butuhin antara lain, gubuk kecil dan lesung. Untuk properti kita ndak ada masalah. Sedang untuk kostumnya yang sulit itu cari kostum buat anak-anak nya. Kalo pas ada, jumlahnya yang tidak mencukupi atau kalo ndak modelnya cocok tapi menurutku itu terlalu fulgar. Dan kami pun mencari lagi, dan akhirnya ketemu, walaupun sebenernya itu bukan model anak-anak tapi daripada tidak ada. Kitapun mengandalkan mimik wajah dan perilaku kita dalam dramanya biar kelihatan anak-anak.
Setelah properti dan kostum beres, kami tinggal latihan-latihan aja. Tapi dari latihan pertama sampai empat hari sebelum pagelaran, latihan kita belum sungguh-sungguh. Masing-masing anak masih pada ngobrol satu sama lain, bercanda, dan ndak serius. Rasanya yang kita tampilin ini “nggak ngena”. Di hari ketiga sebelum pagelaran, kami semua udah bilang dari sebelum latihan bahwa apapun yang terjadi pokoknya kita harus tetep latihan dan harus serius. Pada saat itu suasana lagi mendung. Dan ternyata di tengah-tengah latihan hujan turun deras, tapi sesuai janji kita, kita tetep latihan walau hujan deras saat itu. Tapi gara-gara hujan, ceritanya malah “lebih ngena” mungkin karena pada serius. Bisa dibilang ini latihan yang paling serius. Pulang dari latihan ini aku mesti jalan kaki padahal keadaan masih hujan, tapi yaudahlah aku juga udah basah. Padahal aku udah minta jemput, tapi ndak sampai-sampai, biasanya cepet kalo jemput tapi ini lama. Ternyata sms aku salah aku minta jemput di smaga padahal aku latihan di masehi. Pantesan ditunggu ndak dateng-dateng. Untungnya ditengah jalan aku ketemu bapak aku. Besoknya, hari kedua sebelum pagelaran, niatnya kita mau latihan serius lagi tapi hujannya deres banget dan lama sampai lapangan buat latihannya banjir dan akhirnya latihan kita gagal total. Sehari sebelum pagelaran kita tidak latihan tariannya karena untuk menyiapkan tenaga buat besok, kita cuma berangkat buat ngangkut-ngangkut properti dan gladi bersih. Habis gladi bersih kita pulang dan istirahat.
Waktu hari H-nya aku berangkat dari rumah jam setengah 6 padahal janjinya sekitar jam5, karna katanya buat dandani yang cewek butuh waktu yang lama. Tapi sampai disana ternyata baru 3 orang yang udah sampai disana. Sampai di sekolahan pun ndak langsung dandan soalnya ruangannya masih dikunci. Setelah kuncinya ketemu dan ruangan dibuka, baru anak-anak mulai didandani. Aku kira buat dandan itu butuh waktu yang lama, ternyata sekitar jam 8 udah selesai sedangkan kelas kami tampil sekitar jam 11.
Walaupun sisa waktu lumayan lama tapi tidak sempet buat liat penampilan dari kelas lain soalnya aku bener-bener gugup. Aku cuma liat penampilan dari kelas lain dikit-dikit doang, sisa waktu aku gunain buat ngapalin gerakan sama formasi. Waktu tampilnya aku makin deg-degan, apalagi pas tau CD buat musiknya ndak bisa kebaca. Untungnya musiknya masih bisa diputer lewat hp. Pas dramanya masih oke-oke aja, tapi pas bagian tari akulturasinya ada gerakan yang salah. Tapi aku mencoba untuk menutupi dan biasa aja. Selanjutnya bagian ngibarin bendera, sebenenya kelas kami mutusin dan latihan bawa bendera buat closingnya itu baru hari ke-3 sebelum pagelaran. Untungnya, walaupun latihannya dadakan bisa sukses. Habis bawa bendera kita satu kelas nyayiin lagu gebyar-gebyar terus selesai. Penampilan kelas kami ini bisa dibilang sukses walaupun ada beberapa bagian yang disiapkan secara dadakan.
Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog