Rabu, 23 Januari 2013

TRADISI SYAWALAN LOPISAN



         Lopisan
Syawalan / krapyakan / lopisan adalah upacara adat bagi umat Islam yang berada di Pekalongan dan sekitarnya untuk menyaksikan pemotongan LOPIS RAKSASA yang mempunyai ukuran diameter 150 cm, berat 185 kg dan tinggi 110 cm,diselenggarakan 1 minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. oleh Walikota / Pejabat Muspida.
Perlu diketahui bahwa, Tradisi Syawalan yang rutin dilakukan oleh masyarakat Kota Pekalongan ini sudah dimulai sejak 130-an tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 M. kali pertama yang mengelar hajatan  Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.
Adapun silsilah lengkapnya adalah sebagai berikut : KH Abdullah Sirodj putera RA Martoloyo putera Amir Zahid putera Amir Sulaiman putera R Tjondrodimerto putera R Surodimejo putera Kyai Bahu Rekso putera Kyai Ageng Tjempaluk putera Pangeran Nowo putera pangeran Haryo Mangor putera Waliyullah Abdul Muhyi Pamijahan.
Beliau wafat di Magelang sedang makam beliau terletak dikompleks pemakaman Masjid Payaman Magelang, yang hingga kini makamnya masih banyak dikunjungi peziarah dari segenap penjuru tanah air, khususnya Jawa Tengah, baik pagi, siang, sore ataupun malam hari sepanjang tahun.
Adapun Khoulnya bertepatan dengan Syawalan disini (Kota Pekalongan); yaitu tanggal 8 Syawal tahun hijriyah.
Kembali pada pokok permasalahan, pada tanggal 8 Syawalnya, masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa 6 hari, dalam kesempatan ini, merekapun membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari manca desa maupun manca kota. Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar krapyak, sehingga merekapun tidak mengadakan kunjungan silaturahmipada hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal.
Yang demikian ini berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah tradisi Syawalan seperti sekarang ini. Demikianlah asal mulanya terjadi Syawalan.
Sedikit tentang mengapa beliau wafat dan dikebumikan di Magelang : Kota Pekalongan, tepatnya Krapyak ini, beliau pernah mendirikan suatu organisasi untuk menggembleng para pemuda, baik jasmani maupun rohani mereka guna menghadapi penjajah Belanda, organisasi tersebut bernama WAROQOTUL ISLAM. Namun sayang seribu sayang, baru ditengah perjalanan, hal terendus oleh penjajah Belanda dan tak ayal pemerintahan Belanda memerintahkan untuk menangkap KH Abdullah Sirodj hidup atau mati.
Oleh para santrinya, beliau diamankan di Magelang. Ditempat pengungsian ini beliau meraih berbagai kesuksesan diberbagai bidang. Dan pada gilirannya beliau dipinang untuk dijadikan menantu oleh Bupati Magelang pada saat itu dan dijadikan sebagai kepala RAT Igama (sekarang Kepala Kantor Departemen Agama).
Akhirnya beliau wafat di Magelang. Semasa hidupnya KH Abdullah Sirodj akrab dipanggil dengan sebutan Mbah Agung Sirodj. ( Sumber Kantor Pariwisata & Kebudayaan )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentarmu berguna bagiku......

Powered By Blogger

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog