Rabu, 23 Januari 2013

BAGAIMANA MENULIS DIALEK PEKALONGAN



Bagaimana Menulis Kata Dialek Pekalongan?
0

0
Saya ingin menanggapi surat pembaca dengan nomor Hp 08562767555 pada rubrik ”Kepriben”, Suara Pantura yang terbit hari Kamis, 16 Februari 2012. Pada intinya tulisan itu mengomentari penulisan dalam kolom

Waroeng Megono (WM), mengapa terkesan bukan Pekalongan asli, melainkan seperti Tegal/Pemalang?

Sehubungan hal tersebut, saya berterima kasih atas masukannya, dan menanggapinya sebagai berikut: Selama ini bahasa/dialek Pekalongan merupakan bahasa ujar atau bahasa lisan, tidak pernah didokumentasikan secara tertulis. Dengan demikian, belum ada ketentuan bagaimana menuliskan kata-kata dalam dialek Pekalongan.

Ketika saya menulis kolom Waroeng Megono, terus terang memang terdapat kesulitan untuk menuliskan kata-kata yang selama ini hanya diucapkan. Kata seperti ”kotomonoho”, jelas menggunakan huruf o. Namun untuk loro, terdapat perbedaan makna, antara loro (dua) dengan loro (sakit) dengan o yang bunyinya seperti ”popok”. Maka untuk bunyi o seperti pada popok, saya ragu, haruskah menggunakan huruf o, atau mengikuti kaidah bahasa Jawa pada umumnya, yakni dengan huruf a. Tengoklah kata padha, lunga, sega, pada bahasa Jawa baku, lafalnya sama dengak popok. Jadi tidak dituliskan podho, lungo, sego.

Semula, memang saya menggunakan huruf o untuk menuliskan podho, ketento. Namun mengingat dialek Pekalongan itu berakar dari bahasa Jawa, maka saya menggantinya dengan huruf a, misalnya ”padha lunga tuku sega megana” (diucapkan seperti huruf o pada popok, keplok, lombok, dsb).

Ketika saya tuliskan dengan kaidah bahasa Jawa tersebut, rupanya dibaca sebagai ”a”, sehingga menjadi seperti dialek Tegal atau Pemalang maupun Banyumas. Jadi sesungguhnya bahasa yang digunakan dalam Kolom Waroeng Megono, adalah dialek Pekalongan, namun penulisannya menurut kaidah bahasa Jawa.

Pembaca yang budiman, adakah yang bisa membantu?

Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog