Selasa, 17 Februari 2009

EVENT JAZZ PERTAMA DI PEKALONGAN



Selasa, 11 Maret 2003



Canizzaro dan Mus Mujiono Pecahkan Rekor di Pekalongan


HADIRNYA kelompok jazz Canizzaro bersama vokalis Mus Mujiono di gedung PPIP Pekalongan, baru-baru ini, sepertinya telah memecahkan rekor di kota tersebut. Sebab, selama 20 tahun lebih, di kota batik itu tak pernah ada pentas musik jazz tingkat nasional. Karena itu, tidak heran, penontonnya pun sebagian besar penggemar jazz yang kebanyakan sudah tidak muda lagi.

Pergelaran musik itu, diselenggarakan oleh Radio BSP Pekalongan dalam memperingati HUT-nya ke 12 bekerja sama dengan Polres Pekalongan. Karena itu, jangan heran jika penonton pun tidak membeludak, Meski demikian, lima personel Canizzasaro dan Mus Mujiono tidak merasa kecewa. Mereka tetap bersemangat bermain di panggung. Tapi sayang, dari delapan lagu yang dipersembahkan, hanya empat yang melibatkan peran vokal Mus Mujiono dan Aden Bachri JR. Lima lagu lainnya, berupa instrumen, sehingga penonton yang bukan penggemar jazz menjadi kurang bergairah mengikuti acara itu; mereka pulang sebelum pentas usai.

Di antara penggemar musik jazz itu, terlihat Kapolres Pekalongan AKBP Drs Anas Yusuf dan Wali Kota setempat Drs Samsudiat MM. Keduanya diberikan kesempatan untuk menyanyi bersama grup musik Canizzaro. Ada lima personel Canizzaro yang malam itu ikut manggung, yakni Aden Bachri (saksofon dan vokal), Dadi Sufiyadi (drum, perkusi dan vokal), Eka Dewanto (bas gitar), Deri Iskandar (kibor ) dan Totong Wicaksono (gitar listrik).

Kekompakan permainan musik mereka, benar-benar menjadi perhatian penonton yang kecanduan aliran musik tersebut. Lagu-lagu yang dilantukan dengan apik antara lain "Night in Samarinda" dan "Karena Dia" melalui vokal Aden; kemudian dua lagu lain dinyanyikan Mus Mujiono Arti Kehidupan dan Satu Jam Saja. Selanjutnya, empat lagu lainnya berupa instrumen dengan judul "cheetah", "Bromo", "What a wonder full word" dan satu judul lagu tak diberi judul karena baru akan dikeluarkan dalam album kedua akhir 2003.

Sebelum Canizzaro naik pentas, penonton disuguh band pembuka SKAKSTER dan Alfa Band dari Pekalongan. Gruk musik asal Kota Batik itu, juga beraliran jazz pop dengan menampilkan vokalis muda.

SKAKSTER di pimpin oleh Saiful Fallah, S.Pd ( Piano,keyboard, trumpet) yang sehari-hari berprofesi guru musikdi SMAN 3 Pekalongan, Heru indriawat (Vokalis) guru musik MAN 2 Pekalongan, Dinar Aditopo Kekasih (Backing Vokal, trumpet, tuba) guru musik SMPN 4 Pekalongan, Harry (saksophone, trombone) guru SMP Muhammadyah Pekalongan, Iwan (guitar rhytem), Muzzod (Lead guitar).

Terbentuk 1984 Kelompok Canizzaro terbentuk pada 1984, dan kini dengan personel lima orang mampu mewarnai musik jazz di Indonesia. Tiap-tiap personelnya, sudah menggondol banyak penghargaan sebagai instrumentalis terbaik. Kiprah mereka mulai mendapat pujian penikmat musik jazz sejak sering tampil di TVRI pada pertengahan 2002 dengan lagu andalan "Untuk Selamanya". Akhirnya, album pertamanya diluncurkan pertengahan 2002 berjudul Untuk Selamanya. Adapun personelnya lima orang, seperti yang muncul di panggung PPIP minus Mus Mujiono. Personel kali ini, sudah ada perubahan sehubungan dengan masuknya Eka Dewanto menggantikan Adtya. Bahkan untuk harmonisasi vokal, Canizzaro akan menggait Mus Mujiono dalam kelompoknya. Tak cuma itu, adik Mus Mulyadi juga itu akan ikut membantu proyek album kedua Canizzaro yang rencana beredar akhir 2003.

Warna musik Canizzaro sendiri, sebenarnya cenderung pada nafas jazz-fusion, tetapi karena pertimbangan konsumen pasar, album pertama mereka banyak diwarnai dengan lagu-lagu yang cenderung bercorak jazz-pop , bahkan sampai harus melibatkan Dedhy Dukun pada lagu ''Untuk Selamanya''. Mus Mujiono sendiri, ketika ditemui mengaku sejalan dengan konsep Canizzaro, dan sudah sering melakukan latihan bersama, sehingga penampilannya di Pekalongan terlihat sudah kompak. Dia mengaku tak akan ikut-ikutan melompat jalur ke dangdut, pop, atau rock yang kini digemari anak-anak muda.

''Saya lebih memilih jazz, agar tidak terjadi rebutan dengan kelompok lain, termasuk dengan kakak sendiri Mus Mulyadi, yang kini setia pada aliran musik keroncong,'' katanya.
Namun, pernyataan itu bukan berarti ia tidak akan pindah untuk selamanya. Artinya, sampai saat ini belum ada rencana pindah dari jazz, dan bisa saja suatu yang saat lain hal itu terjadi. ''Kalau sudah ngejazz, sedapat mungkin tetap ada pada jalurnya, sehingga memiliki penggemar tersendiri,'' kata Mus Mujiono berdalih.




Loading...

Ayo Gabung di Sini !!

Arsip Blog